Warga Dodinga Dilatih Kelola Wisata Jejak Alfred Russel Wallace

48
Jufry Angkotasan menyampaikan pentingnya pengembangan pariwisata berbasis masyarakat dalam sambutannya di hadapan peserta pelatihan. Dok, Dispar Malut.

WARTASOFIFI.ID – Pemprov Malut melalui Dinas Pariwisata menggelar Pelatihan Peningkatan Kapasitas SDM Pengelola Destinasi Pariwisata yang berlangsung di Desa Dodinga, Halmahera Barat, pada 20-21 Agustus 2025. Kegiatan ini ditujukan untuk memperkuat pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat dengan menekankan penguatan muatan lokal.

Pelatihan peningkatan kapasitas SDM pengelola destinasi wisata di Desa Dodinga menjadi salah satu langkah strategis Pemprov Malut dalam memperkuat sektor pariwisata berbasis masyarakat. Melalui kegiatan ini, masyarakat setempat tidak hanya diberi pemahaman teknis, tetapi juga didorong untuk menjadikan potensi sejarah dan alam desa mereka sebagai daya tarik wisata unggulan.

Dalam kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut, peserta yang terdiri dari perangkat desa, pengelola wisata, hingga calon kelompok sadar wisata (Pokdarwis) mendapatkan pembekalan menyeluruh. Hal ini dilakukan agar pengelolaan wisata Dodinga dapat dilakukan secara profesional dan berdaya saing, serta mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat lokal.

Sekretaris Dinas Pariwisata Malut, Jufry Angkotasan, dalam sambutannya menegaskan bahwa sektor pariwisata di Desa Dodinga memiliki potensi besar, terutama karena desa ini dikenal sebagai tempat lahirnya teori evolusi Alfred Russel Wallace.“Pariwisata di Desa Dodinga memiliki potensi besar, yang dikenal dengan destinasi tempat lahirnya Teori Evolusi oleh Alfred Russel Wallace,” ujarnya.

Suasana pelaksanaan pelatihan peningkatan kapasitas SDM pengelola destinasi wisata di Desa Dodinga, Halmahera Barat. Dok, Dispar Malut

Selain menggali potensi sejarah yang melekat di Desa Dodinga, pelatihan ini juga diarahkan untuk memperkuat kemampuan masyarakat dalam menghadapi tantangan pengelolaan pariwisata modern.

Dengan meningkatnya minat wisatawan terhadap destinasi unik berbasis alam dan budaya, masyarakat lokal dituntut untuk memiliki keterampilan yang mumpuni agar dapat memberikan pengalaman terbaik bagi pengunjung.

Dinas Pariwisata Malut menekankan bahwa peningkatan kapasitas ini tidak hanya berhenti pada aspek pelayanan wisata, tetapi juga menyangkut keberlanjutan lingkungan serta pelestarian nilai-nilai budaya setempat. Masyarakat diharapkan mampu mengelola pariwisata yang tidak sekadar menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga menjaga identitas lokal agar tetap terjaga.

Salah satu pemateri memaparkan materi peningkatan kapasitas kepada peserta pelatihan SDM pariwisata yang berlangsung di Desa Dodinga. Dok, Dispar Malut.

Ia menambahkan, pelatihan ini diharapkan mampu memberikan bekal praktis bagi masyarakat dalam mengelola destinasi minat khusus di Dodinga.“Tujuannya adalah memberikan keterampilan dan pengetahuan praktis dalam mengelola destinasi minat khusus agar lebih profesional, berdaya saing, serta mampu memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan budaya lokal,” tambah Jufry.

Dodinga bukan hanya desa wisata biasa, melainkan lokasi bersejarah yang berkaitan erat dengan Alfred Russel Wallace. Sang naturalis asal Inggris tiba di Ternate pada 8 Januari 1858, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-35. Dari Ternate, ia kemudian berlayar menuju Halmahera dan singgah di beberapa desa, termasuk Sidangoli dan akhirnya Dodinga.

Di sebuah pondok sederhana beratap bocor di tepi sungai Desa Dodinga, Wallace menulis gagasan awal tentang seleksi alam yang kemudian dikenal dunia sebagai Teori Evolusi. Desa ini pun menjadi saksi bisu lahirnya pemikiran ilmiah yang mengubah sejarah ilmu pengetahuan.

Dodinga semakin mendapat perhatian internasional setelah pada 5 Oktober 2024, Duta Besar Inggris untuk Indonesia, ASEAN, dan Timor Leste, Dominic Jermey CVO, OBE, berkunjung dan meresmikan Prasasti Alfred Russel Wallace. Kehadiran Dubes Inggris tersebut sekaligus memperingati 25 tahun berdirinya Provinsi Maluku Utara dan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Inggris.

Rangkaian acara berlangsung ketika rombongan tamu kehormatan mendapat sambutan melalui tradisi adat Joko Kaha, sebuah prosesi khusus sebagai simbol penghormatan di Maluku Utara.

Setelah prosesi penyambutan, Penjabat Gubernur Malut, Samsuddin Abdul Kadir, menyampaikan sambutan resminya dengan menekankan adanya kedekatan historis antara Maluku Utara dan Inggris. “Secara historis, kita memiliki kesamaan antara Maluku Utara dengan empat kesultanan besar, yaitu Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan. Sedangkan Inggris terdiri dari England, Wales, Scotland, dan Northern Ireland,” ujarnya.

Peserta pelatihan SDM pariwisata berfoto bersama sebagai bentuk komitmen menjaga warisan sejarah Wallace di Dodinga. Dok, Dispar Malut.

Sementara itu, Dubes Inggris Dominic Jermey menyampaikan rasa terhormat atas sambutan yang diberikan serta menegaskan komitmen kerja sama kedua negara. “Atas nama Kedutaan Besar Inggris, kami merasa sangat terhormat dengan sambutan luar biasa dari Pemerintah Provinsi Maluku Utara,” ungkapnya.

Ia juga menekankan dukungan Inggris terhadap konservasi biodiversitas di Malut. “Semoga prasasti Wallace ini dapat menginspirasi generasi masa depan Maluku Utara dalam konservasi keanekaragaman hayati,” kata Dominic.

Momen penuh haru terjadi ketika cicit Wallace, William Bill Wallace, turut hadir dan memberikan sambutan. “Buyut saya dulu pernah terserang malaria di Dodinga, namun semangatnya untuk menulis Letter of Ternate yang menjadi cikal bakal Teori Seleksi Alam tak pernah surut,” ucapnya. (red)