Kris Syamsudin Menjadikan Jejak Wallace Sebagai Magnet Wisatawan Dunia

75
Kris Syamsudin (Dok, Dispar Malut)

WARTASOFIFI.ID – Desa Dodinga di Halmahera Barat kembali menjadi sorotan. Bukan hanya karena keindahan alam dan kekayaan ekosistemnya, tetapi juga karena posisinya sebagai titik sejarah lahirnya teori besar dunia, yaitu Teori Evolusi melalui Seleksi Alam oleh Alfred Russel Wallace.

Dari pondok sederhana di tepi sungai Dodinga, pada tahun 1858 Wallace menulis ide-ide yang mengguncang dunia ilmu pengetahuan. Kini, lebih dari satu abad kemudian, desa ini dipanggil untuk merajut masa lalu, masa kini, dan masa depan melalui pariwisata berbasis masyarakat.

Dodinga, juga terus menegaskan dirinya sebagai ruang hidup yang sarat nilai sejarah sekaligus kekayaan alam. Bukan hanya panorama yang ditawarkan, melainkan juga jejak ilmuwan dunia Alfred Russel Wallace yang pernah meneliti keragaman hayati di wilayah ini.

Potensi wisata berbasis penelitian dan edukasi menjadi daya tarik tersendiri, sekaligus membuka ruang bagi masyarakat setempat untuk mengembangkan ekonomi melalui pariwisata berkelanjutan.

Potensi inilah yang kemudian membuat pemerintah daerah menaruh perhatian khusus pada pengelolaan Dodinga. Sebagai bagian dari agenda besar peningkatan destinasi wisata, Dodinga diposisikan bukan sekadar ruang wisata rekreatif, melainkan pusat edukasi dan penelitian.

Di balik setiap langkah pengelolaan, terdapat semangat untuk menghadirkan pariwisata yang menjaga kearifan lokal sekaligus menegaskan peran Maluku Utara dalam peta riset keanekaragaman hayati dunia.

Kepala Bidang Destinasi Dispar Malut, Kris Syamsudin, menegaskan bahwa Dodinga bukan sekadar destinasi biasa. “Selaku pelaksana kegiatan, menyampaikan bahwa Desa Dodinga kerap dikunjungi wisatawan asing dan wisatawan nasional untuk meneliti dan melihat sejumlah spesies flora dan fauna yang ditemukan Wallace di lokasi ini,” ujarnya dalam rilis resmi, Kamis (21/8).

Lebih jauh, sejarah Dodinga makin kuat ketika Dubes Inggris untuk Indonesia Dominic Jermey bersama William (Bill) Wallace, cicit Alfred Russel Wallace, meresmikan Prasasti Wallace di desa ini pada 2024. Prasasti tersebut menjadi simbol ikatan sejarah antara Maluku Utara dan dunia internasional.

Dodinga juga menjadi habitat satwa yang dahulu sempat dianggap hilang. “Ofu/Lebah Raja atau Lebah Raksasa Wallace (Megachile pluto) yang dulu pernah dinyatakan punah, kini dapat dilihat di desa ini. Ofu Raja ini adalah lebah endemik terbesar di dunia,” ungkap Kris.

Selain itu, wisatawan dapat menikmati keunikan wisata mangrove, pemandian air panas, sisa rumah Wallace, observasi benteng peninggalan Belanda, hingga bird watching.

Namun, pariwisata tanpa pengelolaan hanya akan jadi potensi yang terabaikan. Dispar Malut memahami hal ini dengan menggelar Pelatihan Peningkatan Kapasitas SDM Pengelola Destinasi Pariwisata di Desa Dodinga pada 20-21 Agustus 2025.

Materi pelatihan mencakup manajemen destinasi berbasis Community Based Tourism (CBT), pelayanan wisatawan (hospitality), tata kelola homestay, hingga teknik pemanduan wisata. Peserta juga diajak praktik langsung, dari simulasi pelayanan hingga penyusunan paket wisata.

“Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan pengelola destinasi di Desa Dodinga dapat lebih siap menghadapi tantangan pariwisata modern, meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, serta menciptakan manfaat ekonomi yang inklusif bagi masyarakat,” jelas Kris Syamsudin.

Sekretaris Dispar Malut, Jufry Angkotasan, turut menegaskan pentingnya pengembangan ini. “Pariwisata di Desa Dodinga memiliki potensi besar, yang dikenal dengan destinasi tempat lahirnya Teori Evolusi oleh Alfred Russel Wallace,” katanya.

Tujuannya jelas: meningkatkan keterampilan masyarakat agar profesional, berdaya saing, dan mampu menjaga kelestarian lingkungan serta budaya lokal.

Sejarah Wallace sendiri menjadi fondasi kuat narasi wisata Dodinga. Tiba di Ternate pada 8 Januari 1858, Wallace berlayar ke Halmahera, sempat singgah di Sidangoli yang tidak kaya biodiversitas, hingga akhirnya menemukan “mutiara” risetnya di Dodinga. Di sebuah pondok sederhana yang ia sewa lima guilders per bulan, lahirlah gagasan besar tentang seleksi alam.

Momentum sejarah ini terus dihidupkan. Pada 5 Oktober 2024, Dubes Inggris Dominic Jermey berkunjung ke Dodinga dalam rangka memperingati 25 tahun Provinsi Maluku Utara dan 75 tahun hubungan diplomatik Inggris-Indonesia. Dengan penuh kehormatan, ia disambut Tradisi Joko Kaha, upacara adat untuk tamu istimewa.

Dalam sambutannya pada saat itu, Jermey mengucapkan salam lokal “Suba Jou!” yang langsung disambut tepukan tangan hadirin. Ia menegaskan apresiasi Inggris terhadap hubungan diplomatik dan konservasi biodiversitas Maluku Utara. “Semoga prasasti Wallace ini dapat menginspirasi generasi masa depan Maluku Utara dalam konservasi keanekaragaman hayati,” ucapnya kala itu.

Cicit Wallace, Bill Wallace, bahkan menyampaikan pidato penuh emosi. “Buyut saya dulu pernah terserang malaria di Dodinga, namun semangatnya untuk menulis ‘Letter of Ternate’ yang menjadi cikal bakal Teori Seleksi Alam tak pernah surut,” ujarnya. Kata-kata itu menegaskan kembali bahwa Dodinga bukan sekadar desa, tetapi saksi lahirnya teori besar yang mengubah dunia. (red)