
WARTASOFIFI.ID – Kota Tidore Kepulauan kembali menorehkan tinta emas dalam lembaran sejarah Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadis (STQH) tingkat Provinsi Maluku Utara. Pada malam penutupan yang berlangsung khidmat di Sofifi, kafilah Tidore dinobatkan sebagai juara umum untuk kesekian kalinya secara berturut-turut.
Namun bagi Wali Kota Tidore Kepulauan, Muhammad Sinen, kemenangan ini jauh melampaui sekadar capaian lomba. Ia menyebut STQH sebagai panggung batin, tempat nilai-nilai luhur seperti toleransi, warisan spiritual, dan semangat kemenangan dipertontonkan dalam harmoni.
Pada Rabu, 18 Juni 2025, usai penutupan STQH di Sofifi, Wali Kota Tidore Kepulauan, Muhammad Sinen, sosok yang oleh masyarakat disapa “Ayah Erik” mengangkat suara bukan dengan angkuh, melainkan dengan rasa syukur dan kesadaran sejarah.
Kemenangan kafilahnya ia pandang sebagai buah dari tradisi yang tak pernah mati, serta fondasi sosial yang berpijak pada nilai-nilai luhur, toleransi, dan pendidikan Islam.
“Malam hari ini juga, saya memberikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi, dalam hal ini Ibu Gubernur Sherly Tjoanda dan Pak Wagub Sarbin Sehe. Sangat luar biasa desain panitia, kolaborasi Muslim dan Nasrani yang ada di Kota Tidore Kepulauan, terutama di Oba Utara,” ujarnya.
Di balik apresiasi tersebut, tersembunyi pengakuan jujur bahwa kebhinekaan bukan sekadar semboyan dalam upacara pembukaan. Sebuah paduan suara dari Gereja Galala, dipimpin seorang pendeta, ikut mengalun bersama Himne STQ dan lagu Indonesia Raya. Sebuah simbol dan lebih dari itu, kenyataan sosial yang tak bisa dianggap sepele.
“Saya lihat, mulai dari pembukaan STQ, mereka menyanyikan Indonesia Raya dan Himne STQ. Paduan suara Gereja Galala ini dipimpin oleh seorang pendeta. Ini hal yang sangat luar biasa, dan ini bukan hal yang baru bagi Kota Tidore Kepulauan,” ungkapnya.
Ayah Erik pun mengajak kita mundur ke lembar sejarah yang tak selalu tercatat, namun hidup dalam nadi masyarakat. Di Tidore, toleransi bukan hasil dari kebijakan modern, tetapi warisan dari masa kejayaan kerajaan.
“Bicara toleransi, sebelum negara ini ada, sudah dilakukan oleh Sultan-Sultan Tidore pada saat itu. Jadi, hal-hal toleransi bagi Kota Tidore Kepulauan itu bukan hal yang baru, karena sudah dilaksanakan oleh para leluhur kami pada masa itu,” tuturnya.
Bagi Ayah Erik, keberhasilan ini bukan hanya hasil latihan teknis, tetapi bagian dari identitas kota. Ia mengungkap bahwa Tidore sejak lama dikenal sebagai Kota Santri, tempat pesantren pertama di Maluku Utara berdiri, dan dari sanalah fondasi pembinaan yang kuat terbentuk.
Ia menekankan bahwa kemenangan ini tak lepas dari karakter keislaman yang telah tertanam dalam kehidupan masyarakat Tidore sejak lama. Kota ini, menurutnya, adalah pusat pendidikan Islam tertua di Maluku Utara.
“Rahasia pertama Tidore ini, tadi yang saya mau bilang, bahwa Tidore ini Kota Santri. Kemudian, pesantren pertama di Maluku Utara itu ada di Kota Tidore Kepulauan. Memang kegiatan-kegiatan seperti STQ ini, bagi Kota Tidore Kepulauan, sudah menjadi hal biasa,” jelasnya.
Ia lalu menekankan bahwa capaian para kafilah tidak datang tiba-tiba. Mereka telah teruji melalui kompetisi tingkat nasional bahkan internasional. Kemenangan bukan lagi sekadar harapan, tetapi bagian dari capaian berulang yang konsisten.
Ia kembali menegaskan bahwa para peserta dari Tidore bukan hanya terlatih, tapi juga telah teruji melalui berbagai ajang, sehingga ketangguhan ini menjadi modal utama bagi kemenangan mereka.
“Karena para kafilah Kota Tidore Kepulauan itu sudah teruji, baik di tingkat nasional bahkan internasional. Beberapa kali di ajang internasional itu diraih oleh Kota Tidore Kepulauan,” ujarnya.
Sebagai pemimpin, Ayah Erik tidak sekadar mengandalkan retorika. Ia berbicara tentang mentalitas, keyakinan batin yang jauh lebih penting dari strategi perlombaan semata.
“Jadi, kegiatan-kegiatan di provinsi ini, bagi saya sebagai Wali Kota Tidore Kepulauan, saya tetap optimis dengan kesiapan para kafilah kita, karena mental para kafilah Kota Tidore Kepulauan ini adalah mental-mental juara,” tegasnya.
Ia bahkan dengan tegas menggarisbawahi bahwa partisipasi mereka sejak awal bukan sekadar untuk bertanding. Lebih dari itu, keikutsertaan kafilah Tidore adalah untuk mempertahankan marwah sebagai juara bertahan.
“Makanya saya bilang dari awal, kami datang ini bukan bertanding, tapi mempertahankan juara. Dan itu terbukti malam ini. Kami hadir di sini bukan ikut lomba, tapi untuk menang,” imbuhnya.
Usai pengumuman pemenang, Ayah Erik tidak lupa menyampaikan penghormatan kepada seluruh masyarakat Tidore, mereka yang mendoakan, membina, dan menjadi bagian dari keberhasilan para peserta. Ia menegaskan bahwa kemenangan ini adalah milik semua.
“Sebagai Wali Kota Tidore, saya ucapkan terima kasih yang mendalam atas prestasi yang dicapai oleh kafilah-kafilah Tidore. Tak lepas juga, saya turut berterima kasih kepada seluruh masyarakat Kota Tidore atas partisipasi doa, sehingga kafilah Tidore dapat keluar sebagai juara umum untuk kedua kalinya,” ujarnya.
Mengenai kemungkinan menjadi tuan rumah STQH mendatang, Tidore menyatakan kesiapan penuh. Bukan untuk mengejar pujian, tetapi karena meyakini bahwa mereka mampu mempersembahkan yang terbaik.
“Pada prinsipnya, Kota Tidore Kepulauan siap menjadi tuan rumah apabila diberikan kepercayaan oleh Pemerintah Provinsi. Maka kami siap,” katanya.
Dan sebagai penutup, Ayah Erik sekali lagi menegaskan bahwa kolaborasi antarumat beragama dalam STQ bukan hal palsu, tetapi perenungan nyata dari semangat hidup bersama yang telah lama tumbuh di kota itu.
“Saya memberikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi, terutama Ibu Gubernur Sherly Laos dan Wakil Gubernur Hi. Sarbin Sehe. Kolaborasi antara Muslim dan Nasrani yang ada di Kota Tidore Kepulauan, yang diberikan ruang menyanyikan lagu Indonesia Raya hingga Mars STQ, bagi saya itu merupakan nilai toleransi yang perlu dijaga dan dipelihara,” pungkasnya. (red)




