
WARTASOFIFI.ID – Pemprov Malut melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) mulai menjalankan salah satu program prioritas Gubernur Sherly Tjoanda untuk tahun anggaran 2025, yakni Bantuan Stimulan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dan Dapur Sehat. Pelaksanaan program tersebut diawali dengan tahapan rekrutmen Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) yang kini sedang berjalan, sebagai bagian penting dalam sistem pelaksanaan teknis dan sosial program ini di lapangan.
Rekrutmen TFL ini bukan sekadar formalitas, tetapi bagian dari kerangka pembangunan yang ingin mengubah wajah kawasan kumuh dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat di berbagai pelosok Malut.
Gagasan dasar dari program RTLH dan Dapur Sehat adalah memastikan bahwa seluruh masyarakat, khususnya yang tergolong prasejahtera, bisa memiliki tempat tinggal yang aman, sehat, dan layak huni.
Dalam rilis resmi yang disampaikan Kepala Disperkim Malut, Musrifah Alhadar, pada Jumat (20/6), disebutkan bahwa tahapan perekrutan TFL dilaksanakan secara terbuka dan berjenjang untuk menjaring tenaga-tenaga yang tidak hanya menguasai aspek teknis, tetapi juga peka terhadap kerja-kerja sosial dan pendampingan masyarakat.
Proses pendaftaran dimulai sejak 10 hingga 16 Juni 2025, dan berhasil menarik minat 161 pelamar dari 10 kabupaten/kota di Provinsi Malut. Seleksi administrasi kemudian dilaksanakan secara ketat, menghasilkan 110 peserta yang dinyatakan lolos dan diumumkan secara terbuka melalui akun resmi Instagram @dinasperkim_malut pada 17 Juni.
Tahapan berikutnya adalah uji kompetensi bidang dan wawancara, yang berlangsung pada Rabu (19/6) di kantor Disperkim Provinsi di Sofifi. Sebanyak 80 peserta hadir mengikuti proses uji tersebut, yang dilaksanakan dalam tiga sesi terpisah.
Dalam uji kompetensi, peserta diminta mengoperasikan perangkat lunak teknis seperti AutoCAD dan Microsoft Office, dengan penekanan pada kemampuan menyusun gambar teknis (As Built Drawing) dan Rencana Anggaran Biaya (RAB).
Selain itu, mereka juga diuji sejauh mana mampu menyusun laporan teknis, memonitor pekerjaan fisik, dan memahami tahapan pelaksanaan proyek bantuan rumah.
Lebih dari sekadar kemampuan teknis, sesi wawancara menjadi penentu penting karena program ini menyasar masyarakat kurang mampu yang membutuhkan pendekatan partisipatif dan empatik.
Para peserta diharapkan menunjukkan pemahaman terhadap dinamika sosial masyarakat serta kesiapan mereka untuk menjadi pendamping yang mampu menjembatani antara kebutuhan warga dan kebijakan pemerintah.
Tenaga Fasilitator Lapangan tidak hanya bertugas sebagai pelaksana teknis di lapangan. Mereka merupakan tulang punggung program, yang akan ditugaskan mendampingi masyarakat langsung, mulai dari tahap identifikasi calon penerima manfaat hingga pelaporan akhir. Tugas mereka mencakup sembilan hal penting:
1. Verifikasi lapangan terhadap calon penerima bantuan bersama tim teknis.
2. Survei lokasi dan penyusunan gambar teknis serta RAB untuk rumah yang akan diperbaiki.
3. Sosialisasi dan penyuluhan kepada warga penerima bantuan.
4. Pemeriksaan ulang data dan kondisi penerima manfaat.
5. Pendampingan teknis dalam pelaksanaan perbaikan, mulai dari pembongkaran, penentuan tenaga kerja, hingga dokumentasi visual progres pembangunan pada titik 0%, 30%, dan 100%.
6. Penyusunan proposal pencairan bantuan, sesuai tahap-tahap yang ditetapkan.
7. Pengawasan terhadap seluruh proses pembangunan agar sesuai spesifikasi.
8. Penyusunan laporan pertanggungjawaban tahap I dan tahap II.
9. Penyusunan laporan bulanan pendampingan yang harus diverifikasi tim teknis dan diserahkan kepada Kepala Dinas.
Setiap TFL akan ditempatkan di kabupaten/kota asal mereka masing-masing untuk memudahkan kerja lapangan serta mempercepat penyesuaian dengan kondisi sosial dan geografis setempat.
Penempatan ini juga memperkuat prinsip pemberdayaan lokal, yakni melibatkan sumber daya manusia dari daerah untuk mengembangkan daerah itu sendiri.
Berbeda dengan banyak proyek pembangunan fisik yang bersifat top-down dan teknokratis, program RTLH dan Dapur Sehat justru memadukan aspek fisik dengan dimensi sosial.
Kehadiran dapur sehat, misalnya, merupakan bentuk intervensi terhadap pola hidup dan kesehatan keluarga miskin. Rumah yang layak huni juga tidak cukup jika tidak diimbangi dengan ruang memasak yang higienis, tertata, dan memenuhi standar sanitasi dasar.
Dengan pelibatan TFL sebagai pendamping aktif, proses rehabilitasi rumah akan berlangsung secara kolaboratif. Warga tidak hanya menerima bantuan pasif, tetapi dilibatkan dalam pengambilan keputusan, pengawasan, hingga pertanggungjawaban. Di sinilah kehadiran TFL menjadi alat negara yang bekerja langsung bersama rakyat.
Rekrutmen TFL yang sedang berjalan ini adalah tahap awal dari pelaksanaan masif program RTLH dan Dapur Sehat di Malut. Setelah proses rekrutmen rampung dan para fasilitator ditetapkan, tahap berikutnya adalah pemetaan lokasi penerima bantuan, validasi data teknis, dan pelaksanaan fisik di lapangan.
Seluruh proses ini akan dikawal penuh oleh Disperkim, termasuk pengawasan berlapis melalui tim teknis, koordinator wilayah, hingga kontrol dari kepala dinas secara langsung.
Gambaran ideal dari program ini bukan sekadar rumah-rumah baru berdiri, tetapi juga bagaimana nilai sosial tumbuh, warga mulai memahami pentingnya hunian sehat, ikut merawat bantuan yang diberikan, dan menjadikan momentum ini sebagai titik balik untuk kehidupan yang lebih sejahtera.
Program Bantuan Stimulan RTLH dan Dapur Sehat tahun 2025 adalah bagian dari visi kepemimpinan Sherly Tjoanda untuk menjadikan pembangunan sebagai instrumen pemerataan dan keadilan.
Di balik angka-angka dan rencana teknis, ada kepedulian konkret terhadap warga yang selama ini hidup dalam kondisi yang tidak layak.
Dengan sistem seleksi yang terbuka, pelibatan fasilitator yang kompeten, serta pola kerja yang transparan dan partisipatif, Pemprov Malut ingin memastikan bahwa setiap rupiah dari anggaran pembangunan benar-benar menyentuh masyarakat bukan sekadar laporan di atas kertas.
Dari Sofifi hingga ke desa-desa terpencil, langkah ini menjadi awal dari transformasi: dari rumah yang reyot menjadi rumah yang bermartabat, dari dapur yang kotor menjadi dapur yang sehat, dan dari ketidakberdayaan menuju kemandirian. Dan semua itu dimulai, dari proses rekrutmen hari ini. (red)




