Tak Ada Lagi “Mama, Besok Bayar SPP”: Sherly-Sarbin Persembahkan Sekolah Gratis di Hardiknas 2025

2474
Dengan senyum semangat, Wagub Sarbin Sehe dan Plt Kadikbud Abubakar Abdullah melepas balon-balon ke udara, membawa pamflet “Selamat Hardiknas 2025” melayang tinggi, seolah mengantar cita-cita anak negeri.

WARTASOFIFI.ID Suasana halaman Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara pagi itu tak seperti biasanya. Udara Sofifi masih segar saat satu per satu pejabat tinggi daerah, ASN, pelajar, dan tamu undangan berdatangan dengan pakaian adat berwarna-warni. Ada yang mengenakan batik khas Tidore, ikat kepala Papua, hingga busana adat Bugis dan Jawa. Dalam satu pemandangan, keberagaman Indonesia seolah dipentaskan dalam panggung pendidikan.

Tepat pukul 08.30 WIT, Wakil Gubernur Maluku Utara Sarbin Sehe melangkah ke podium upacara. Dengan penuh khidmat, ia membacakan pidato resmi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2025. Dalam pidato itu, terselip pesan yang kuat dari Presiden Prabowo Subianto: membangun sumber daya manusia adalah fondasi utama menuju Indonesia adil dan makmur.

“Pendidikan adalah proses membangun kepribadian yang utama, akhlak mulia, dan peradaban bangsa,” ucap Sarbin membacakan kutipan Abdul Mu’ti. Kalimat itu disambut tepuk tangan hadirin yang berdiri di bawah naungan langit Sofifi.

Namun bukan hanya pidato yang menjadi sorotan pagi itu. Puncak peringatan Hardiknas 2025 justru hadir saat Sarbin Sehe, didampingi Sekda Samsuddin Abdul Kadir dan Plt Kadikbud, memukul tifa sebagai simbol peluncuran resmi program BOSDA Pendidikan Gratis, sebuah langkah revolusioner dari Pemprov Malut yang dipimpin Gubernur Sherly Tjoanda dan Wakil Gubernur Sarbin Sehe.

Program ini memungkinkan seluruh siswa di jenjang SMA, SMK, dan SLB negeri di Maluku Utara menikmati pendidikan tanpa biaya. Sebuah kebijakan yang bukan hanya responsif terhadap kebutuhan masyarakat, tetapi juga progresif di tengah tantangan pemerataan pendidikan di wilayah kepulauan seperti Maluku Utara.

“Kami ingin memastikan bahwa anak-anak Maluku Utara, dari Morotai hingga Obi, punya hak yang sama untuk bermimpi dan mengejar pendidikan. BOSDA ini adalah janji yang kami wujudkan,” kata Sarbin.

Hardiknas 2025 di Maluku Utara tidak sekadar ritual tahunan yang terlupakan esok hari. Pemerintah provinsi menjadikannya panggung untuk menyatakan arah kebijakan dan komitmen yang tegas.

Pendidikan kini bukan lagi proyek pinggiran, namun ia adalah arus utama pembangunan daerah. Di pundak anak-anak sekolah hari ini, Sherly–Sarbin menaruh harapan untuk Maluku Utara yang bangkit dan berdaya saing.

Di balik upacara, digelar pula penyerahan penghargaan kepada para guru dan insan pendidikan yang telah menunjukkan dedikasi luar biasa. Mereka yang saban hari menyeberang pulau, berjalan kaki berkilo-kilo meter, dan mengajar di kelas dengan fasilitas seadanya, kini berdiri di panggung penghargaan. Maluku Utara tak melupakan mereka.

“Para guru adalah tulang punggung pembangunan karakter bangsa. Tanpa mereka, semua ini hanya mimpi kosong,” ucap Sekda Samsuddin Abdul Kadir.

Dalam pidato Abdul Mu’ti, yang menjadi refleksi pemerintah pusat, ditegaskan bahwa pendidikan harus dibangun dari tiga aspek fundamental: manajerial, kurikuler, dan pedagogis. Tidak cukup hanya memperbaiki gedung sekolah, tapi juga cara mengajar, kurikulum yang relevan, serta tata kelola yang efisien.

“Kementerian berkomitmen meningkatkan layanan pendidikan melalui perbaikan tata kelola, pembaruan kurikulum, dan penguatan kapasitas guru,” bunyi pidato tersebut.

Apa yang dilakukan Pemprov Malut hari ini sejalan dengan agenda nasional. BOSDA bukan hanya soal uang sekolah, melainkan upaya konkret membenahi ekosistem pendidikan secara menyeluruh, terutama di daerah-daerah yang selama ini tertinggal karena keterbatasan akses dan fasilitas.

Semangat Hardiknas kali ini mengalir bukan hanya lewat kata-kata, tapi dari wajah-wajah yang hadir di lapangan: para pelajar dengan senyum penuh harap, guru-guru dengan mata berbinar, hingga pejabat yang terlihat tulus memaknai hari itu sebagai titik balik.

Dalam penutup pidatonya, Abdul Mu’ti menyampaikan pesan yang seolah mengikat semua elemen yang hadir: “Mari kita saling bergandeng tangan, bahu membahu, dan bergotong royong mewujudkan ‘Pendidikan Bermutu untuk Semua’ demi mengangkat harkat martabat bangsa,” tandasnya.

Turut hadir dalam upacara ini Forkopimda Maluku Utara, pimpinan OPD, Ketua TP PKK Malut, Ketua Dharma Wanita, ASN, pelajar, serta insan pers. Semua bergabung dalam satu semangat, menjadikan pendidikan sebagai alat pemersatu dan pemajuan daerah.

Upacara ditutup dengan foto bersama di panggung utama, di mana semua peserta berdiri sejajar tanpa sekat pangkat maupun jabatan. Sebuah simbol kuat bahwa pendidikan adalah ruang setara, di mana siapa pun punya hak untuk tumbuh dan berkembang.

Hardiknas 2025 di Sofifi bukan hanya momentum seremoni. Ia adalah deklarasi. Deklarasi bahwa Maluku Utara di bawah kepemimpinan Sherly Tjoanda dan Sarbin Sehe, serius membangun dari akarnya, dari anak-anak sekolah, dari guru-guru di pelosok, dari pendidikan yang membebaskan dan memanusiakan.

Dengan BOSDA sebagai langkah awal, mimpi pendidikan gratis bukan lagi wacana, tapi kenyataan yang sedang dijalankan.

Selamat Hari Pendidikan Nasional. Terus nyalakan lentera ilmu di setiap sudut negeri. Karena Maluku Utara layak cerdas, Maluku Utara harus bangkit. (red)