Gubernur Sherly Tjoanda (kiri) berbincang dengan Plt Kadishub Dedy Kotambunan (kanan) usai pertemuan internal bersama pejabat eselon II, III, dan IV di Aula Nuku, lantai dua Kantor Gubernur Malut, Sofifi, Senin 5 Januari 2026. WARTASOFIFI.ID/Rais Dero
Gubernur Malut, Sherly Tjoanda, menunjukkan komitmennya dalam mensejahterakan masyarakat tidak hanya melalui pembangunan infrastruktur dan fasilitas publik, tetapi juga dengan melakukan intervensi langsung terhadap harga sembako yang saat ini masih tinggi di Malut. Langkah ini bertujuan agar kebutuhan pokok bisa lebih murah dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat.
Usai menghadiri Launching Aksi Perubahan PKA Angkatan VIII 2025 di kantor BPSDM Malut, Sherly Tjoanda menjelaskan kepada wartawan bahwa pihaknya tengah mencari solusi agar pengiriman barang dari luar daerah ke Malut dapat lebih efisien dan murah. Hal ini diharapkan akan berdampak pada harga sembako di pasaran. Sherly menyebut memiliki “trik jitu” untuk menurunkan harga sembako, yang salah satunya adalah melalui evaluasi dan optimalisasi distribusi logistik.
Dalam konteks ini, Plt Kadishub Malut, Dedy Kotambunan, diingatkan untuk lebih proaktif dan agresif dalam mengimplementasikan arahan gubernur. Sherly Tjoanda menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap logistik, khususnya terkait biaya logistik, yang selama ini masih menimbulkan biaya tinggi. Dia menegaskan agar dinas terkait segera menelusuri setiap tahap distribusi, mulai dari pengiriman hingga penyimpanan, sehingga biaya logistik dapat ditekan dan harga barang kebutuhan pokok menjadi lebih terjangkau bagi masyarakat.
Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari strategi Pemprov Malut untuk memastikan subsidi dan intervensi harga dapat tepat sasaran, sambil meningkatkan efisiensi dan transparansi dalam pengelolaan distribusi barang. “Saya menitipkan pesan kepada Dinas Perhubungan untuk mengevaluasi logistik Playcen Cos yang harganya masih sangat tinggi,” ujar Sherly, di Sofifi, Senin (5/1), menekankan pentingnya pengawasan terhadap biaya logistik, khususnya terkait distribusi barang kebutuhan pokok. Evaluasi ini diyakini akan membuka peluang untuk menurunkan ongkos distribusi sehingga harga akhir di pasar dapat lebih terjangkau, dia memastikan distribusi berjalan lebih efisien.
Harga beras dan minyak goreng di Malut yang masih tinggi menjadi perhatian serius Gubernur Sherly, sehingga perlu dilakukan penelusuran menyeluruh terhadap akar permasalahan yang menyebabkan tingginya harga kebutuhan pokok tersebut. Analisis ini mencakup berbagai faktor, mulai dari rantai pasok, biaya distribusi, hingga efisiensi penyimpanan dan pengiriman, agar setiap kendala dapat diidentifikasi dengan tepat.
Inisiatif ini juga menjadi dasar bagi Sherly Tjoanda untuk merancang intervensi yang efektif, termasuk penyesuaian subsidi, optimalisasi distribusi, dan pengendalian harga di tingkat pasar, dengan tujuan agar masyarakat dapat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau tanpa mengurangi kualitas barang.
Pendekatan ini sekaligus mencerminkan strategi pemerintah dalam menjaga kesejahteraan masyarakat, menyeimbangkan antara ketersediaan barang, harga yang wajar, dan efisiensi anggaran daerah, sehingga kebijakan yang diambil benar-benar tepat sasaran dan berdampak nyata bagi kehidupan sehari-hari warga Malut. “Beras dan minyak goreng juga masih mahal, sehingga penting bagi kita untuk menelusuri akar permasalahannya,” jelas Sherly menyoroti harga bahan pokok yang masih tinggi sebagai isu utama yang memengaruhi kesejahteraan masyarakat. Pemprov Malut dalam hal Dinas Perhubungan dan OPD terkait dituntut untuk mengidentifikasi faktor penyebab, baik dari sisi rantai pasokan, biaya transportasi, maupun distribusi agar intervensi bisa tepat sasaran, sembari menjaga stabilitas harga di pasaran.
Pemprov Malut, di bawah komando Gubernur Sherly Tjoanda, berfokus pada penerapan subsidi yang tepat sasaran agar harga kebutuhan pokok dapat lebih terjangkau bagi masyarakat, dengan memprioritaskan distribusi bantuan kepada kelompok yang paling membutuhkan. Pendekatan ini menekankan efisiensi anggaran sekaligus efektivitas intervensi, sehingga setiap rupiah yang dikeluarkan berdampak langsung pada ketersediaan barang pokok dan kemampuan daya beli warga.
Strategi tersebut, menurut Sherly, melibatkan pemetaan rantai pasok, pengawasan distribusi, serta koordinasi lintas dinas untuk memastikan barang sampai ke tangan konsumen dengan biaya yang lebih rendah. Dengan demikian, kebijakan subsidi yang digagas Sherly tidak hanya menjadi mekanisme penurunan harga, tetapi juga bagian dari inisiatif terpadu Pemprov Malut dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjaga stabilitas ekonomi lokal. “Dengan begitu, subsidi bisa diberikan secara tepat sasaran agar harga kebutuhan pokok menjadi lebih terjangkau bagi masyarakat,” tandasnya. Tujuan akhir dari evaluasi dan intervensi ini adalah memastikan subsidi Pemprov Malut diberikan secara efektif. Dengan menargetkan bantuan pada titik yang tepat, masyarakat dapat membeli sembako dengan harga lebih ringan, sementara anggaran pemerintah digunakan secara efisien dan berdampak maksimal, dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat Malut. (red)