Sherly Tjoanda Menjadi Penanda Bahwa Negeri Ini Tak Pernah Kehilangan Sosok Ibu

216
Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda (Foto: Amat/Biro Adpim)

WARTASOFIFI.ID – Sabtu pagi itu bukan sekadar waktu pendaratan sebuah pesawat. Ia adalah momentum yang merekatkan kembali jarak antara Tanah Suci dan Tanah Moloku Kie Raha. Dan di kabin pesawat Lion Air JT 3894, berdirilah seorang perempuan, Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda, dengan senyum tulus dan tangan terbuka menyambut pulangnya para tamu Allah.

Tidak ada protokoler. Tidak ada barikade atau garis pembatas antara pemimpin dan rakyat. Yang ada hanyalah detik-detik hening yang berubah menjadi haru, saat suara khas interkom pesawat diaktifkan. Suara itu bukan dari pramugari, bukan dari kapten penerbangan, melainkan dari Sherly Tjoanda sendiri.

Sherly kemudian menaiki tangga pesawat, langkahnya mantap namun lembut, seolah menyusuri tangga menuju pelukan rakyatnya. Ia masuk ke dalam kabin pesawat yang dipenuhi jamaah haji, lalu mengambil interkom pesawat, alat komunikasi yang biasa digunakan awak kabin, dan kemudian berbicara. Suaranya menggema di seantero ruang, tak hanya menyapa, tapi juga memeluk hati para jamaah yang baru saja menunaikan rukun Islam kelima.

Gubernur Malut, Sherly Tjoanda, menggunakan interkom kabin pesawat Lion Air JT 3894 untuk menyapa langsung jamaah haji yang baru tiba di Ternate, Sabtu (21/6) (Foto: Tangkapan layar/Tiktok)

“Alhamdulillah, Bapak-Ibu telah menunaikan rukun Islam dengan selamat. Semoga menjadi haji yang mabrur, doa-doanya dikabulkan, dan menjadi awal kehidupan yang penuh berkah,” ujarnya, dikutip dari akun TikTok resminya, @sherlytjoanda, Sabtu (21/6).

Terlihat di kabin pesawat, ia menyalami satu per satu wajah lelah namun penuh cahaya dari para jamaah haji kloter 13. Ia ditemani oleh Plt Kepala Biro Kesra yang juga Ketua PPIHD Malut, Kakanwil Kemenag Malut Amar Manaf, serta beberapa pejabat Pemprov lainnya. Namun, yang paling mencolok bukanlah siapa yang menemani, tapi siapa yang menyambut.

Sherly Tjoanda menjadi satu-satunya pejabat yang memasuki kabin untuk menyapa langsung para jamaah, memperlihatkan kedekatannya dengan rakyat. (Foto: Biro Adpim)

Satu per satu jamaah haji disentuh tangannya. Tak semua kata sempat terucap, tapi raut wajah para jamaah menggambarkan rasa haru yang tak terlukiskan.

Ada yang tersenyum sambil menahan tangis. Ada yang menunduk pelan dan membisikkan doa. Ada pula yang menggenggam tangan gubernur dengan erat, seolah tak ingin melepasnya.

“Ibadah haji bukan saja merupakan perjalanan fisik, tapi juga perjalanan batin yang penuh makna, ketulusan, dan pengorbanan,” ucapnya dalam video yang sama di akun TikTok-nya.

Ia berbicara bukan sebagai pejabat saja, tapi sebagai seorang Ibu Bangsa. Dalam dirinya terkandung kehangatan perempuan yang tak ingin rakyatnya berjalan sendiri.

Ia tahu bahwa misi kepemimpinan bukan hanya soal angka dan data pembangunan, tapi juga tentang memeluk perasaan rakyatnya saat mereka kembali dari titik tertinggi spiritual.

“Kami berharap semangat dari Tanah Suci ini menjadi bekal untuk membangun Maluku Utara yang lebih religius, harmonis, dan penuh berkah,” tuturnya, seperti terkutip dalam unggahan video Sabtu pagi itu.

Sherly tahu, di atas tanah ini dibangun bukan hanya dengan batu dan semen, tapi dengan nilai dan doa. Ia tak ingin jamaah haji pulang hanya dengan cerita. Ia ingin mereka pulang membawa semangat baru untuk membasuh luka sosial, menghapus konflik, dan menabur harmoni.

“Selamat berkumpul kembali dengan keluarga. Saya tahu seluruh keluarga, anak, cucu, teman, semua sudah sangat merindukan kepulangan Bapak-Ibu,” ucapnya lembut, dalam cuplikan yang memperlihatkan para jamaah menahan air mata.

Sherly menyapa langsung dari kursi ke kursi, menghadirkan suasana haru dalam pesawat yang berubah menjadi ruang perjumpaan penuh cinta (Foto: Biro Adpim)

Kata-kata itu terdengar begitu manusiawi. Dalam suaranya, ada empati seorang anak kepada orang tua, seorang sahabat kepada sahabatnya. Ia sadar bahwa perjalanan spiritual para jamaah bukanlah hal mudah. Tapi kepulangan mereka adalah anugerah yang layak dirayakan dengan cinta.

“Dan kami semua bersyukur, Bapak-Ibu bisa melaksanakan ibadah hajinya dengan baik dan pulang dalam keadaan selamat,” ujarnya.

Sherly tak lupa pada mereka yang berada di balik layar, yang dengan sabar dan kasih merawat para jamaah selama di tanah suci. Ia membuka ruang apresiasi secara terbuka, memberi tempat yang mulia bagi mereka yang bekerja dalam diam.

“Saya juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh tim pendamping Kloter Haji 13, 15, dan 17 dari Maluku Utara. Terima kasih telah merawat jamaah haji Maluku Utara dengan penuh kasih sayang, tanggung jawab, dan perhatian,” tuturnya.

Ia menyebutkan kelelahan mereka sebagai proses panjang, namun tetap dirangkul dengan syukur dan ketulusan. “Saya tahu proses ini sangat panjang dan melelahkan, tetapi bersyukur semuanya kembali dalam keadaan sehat walafiat,” ujarnya lagi dengan suara yang meneduhkan.

Dalam wajah para petugas pendamping yang ada di dalam kabid pesawat tersebut, tampak seulas senyum, senyum bangga karena dihargai oleh pemimpin mereka sendiri. Karena mereka tahu, upaya mereka tak luput dari mata sang gubernur.

“Sekali lagi, terima kasih. Semoga semangat dan keteladanan yang dibawa pulang membawa kebaikan, dan akan terus mengalir di masyarakat Maluku Utara,” ucap Sherly mengakhiri sambutannya.

Dan sebelum ia meninggalkan kabin pesawat itu, Sherly menutup dengan doa yang sederhana, namun memiliki kedalaman spiritual yang begitu kuat.

“Semoga hajinya mabrur, usahanya diberkati, dan menjadi haji yang diterima di sisi Allah,” tuturnya.

Sherly menyalami satu per satu, perlahan. Setiap langkahnya bukan sekadar penghormatan, tapi cara seorang Ibu Bangsa berkata: “Selamat pulang. Negeri ini menanti kalian dengan bangga.” (Foto: Biro Adpim)

Dengan doa itu, Sherly menutup rangkaian penyambutan. Tapi pesan-pesan yang ia tinggalkan justru baru saja memulai perjalanannya. Di antara para jamaah, ada yang mengusap air mata. Ada pula yang menyimpan suara Sherly dalam hati mereka sebagai kenangan yang akan mereka ceritakan pada anak-cucu.

Hari itu, Bandara Sultan Babullah bukan sekadar tempat mendaratnya pesawat. Ia adalah panggung spiritual, tempat perjumpaan antara umat yang telah menunaikan rukun Islam dan pemimpin yang menyambut mereka bukan dengan seremoni, melainkan dengan kasih sayang.

Dan Sherly Tjoanda bukan hanya gubernur hari itu. Ia adalah pelindung. Penjaga. Ibu bangsa yang tak ingin satu pun dari rakyatnya berjalan sendiri.

Bagi sebagian orang, momen itu mungkin hanya sepenggal aktivitas dalam kalender pemerintahan. Tapi bagi para jamaah haji Maluku Utara, momen itu adalah bukti bahwa negeri ini tak kehilangan pelukan, tak kehilangan pemimpin yang mendengar dan merasakan. Di tengah segala dinamika birokrasi dan politik, masih ada satu suara dari dalam pesawat yang berkata lembut:

“Selamat datang kembali di Tanah Moloku Kie Raha. Kalian tak sendiri.”