Sejarah Maluku Utara Segera Masuk Kurikulum Sekolah

72
Abubakar Abdullah

WARTASOFIFI.ID – Plt Kadikbud Malut, Abubakar Abdullah menegaskan pentingnya menanamkan kembali nilai-nilai sejarah dalam dunia pendidikan sebagai pondasi pembentukan karakter dan jati diri generasi muda.

Penegasan itu disampaikannya kepada sejumlah wartawan usai kegiatan dialog bertema “Story Telling Sang Pejuang” yang digelar oleh Dikbud Malut di Aula Dikbud Sofifi, Kamis (9/10). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-26 Malut.

Dialog tersebut menghadirkan Syaiful Ruray, mantan Ketua DPRD Malut sekaligus mantan anggota DPR RI, yang dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perjuangan pembentukan Provinsi Maluku Utara. Kehadiran Ko Ipul, sapaan akrab Syaiful Ruray, sebagai narasumber utama memberi makna mendalam bagi para peserta yang terdiri dari guru, pelajar, dan jajaran ASN Dinas Dikbud.

Dalam wawancara tersebut, Plt Kadikbud Malut yang akrab disapa Aka ini mengatakan bahwa bangsa yang melupakan sejarah adalah bangsa yang kehilangan arah. Dia menegaskan, pesan tentang pentingnya sejarah bukan sekadar romantisme masa lalu, tetapi juga refleksi untuk memperkuat kesadaran identitas daerah.

“Pertama, saya kira tadi ada satu pandangan yang sudah disampaikan oleh Ko Ipul, bahwa bangsa yang melupakan sejarah adalah bangsa yang tidak cerdas,” ujarnya.

Ia menilai kegiatan seperti ini sangat relevan di tengah derasnya arus globalisasi yang kerap membuat generasi muda terputus dari akar sejarahnya.

Menurut Aka, memahami sejarah bukan hanya bentuk penghormatan terhadap para pendiri provinsi, tetapi juga modal untuk menatap masa depan dengan pijakan yang kokoh.

“Jadi memang inisiasi ini penting kita lakukan, karena kita menyadari bahwa sejarah itu penting, termasuk di dalamnya sejarah terbentuknya Provinsi Maluku Utara,” katanya.

Aka melanjutkan, tanpa memahami sejarah, masyarakat dan generasi penerus dapat tersesat dalam mengambil arah pembangunan. Momentum HUT ke-26 Malut, katanya, harus dijadikan ajang untuk merefleksikan perjalanan panjang perjuangan daerah ini.

“Andaikan saja kita tidak tahu sejarah, kita melupakan sejarah, kira-kira kita kadang akan mengambil arah yang keliru. Karena itu, di momentum seperti ini penting untuk kita dengarkan secara saksama bagaimana pembentukan sejarah Provinsi Maluku Utara,” ujarnya.

Kemudian, Aka mengungkapkan rencana konkret untuk menindaklanjuti hasil dialog tersebut. Ia menuturkan, Dinas Dikbud akan menginisiasi agar sejarah pembentukan Malut sebagai Provinsi dapat dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah, khususnya di tingkat SMA dan SMK.

“Tapi saya kira, setelah mendengar dan melihat penjelasan tadi, maka mungkin kami akan menginisiasi untuk menindaklanjuti pembicaraan terkait dengan catatan-catatan sejarah pembentukan Provinsi Maluku Utara itu, agar bisa diintegrasikan dalam kurikulum di tingkat sekolah SMA,” ujarnya.

Aka menambahkan, saat ini pihaknya tengah menyusun Kurikulum Muatan Lokal (Mulok) sebagai wadah penguatan identitas daerah. Proses penyusunan tersebut, kata dia, telah memiliki dasar hukum berupa Peraturan Gubernur dan sedang dikoordinasikan dengan Kementerian Pendidikan, khususnya Direktorat Dikdasmen.

“Kebetulan kami sekarang sedang menyusun Kurikulum Muatan Lokal (Mulok). Pergub-nya sudah ada, dan kita sedang koordinasikan dengan Kementerian Dikdasmen,” jelasnya.

Dalam proses tersebut, Aka menilai penting untuk memasukkan nilai-nilai sejarah daerah sebagai materi pelajaran. Ia membuka peluang agar materi sejarah pembentukan Provinsi Maluku Utara dapat menjadi bagian dari modul ajar siswa SMA dan SMK di seluruh wilayah.

“Mungkin materi itu akan kita pertimbangkan untuk dapat dimasukkan sebagai materi Muatan Lokal (Mulok) untuk SMA dan SMK,” tuturnya.

Selain itu, Dinas Dikbud juga telah memiliki sejumlah referensi pendukung. Sejumlah buku yang diterbitkan Dinas Pariwisata dan lembaga lainnya disebut memuat dokumentasi penting terkait proses lahirnya Provinsi Maluku Utara.

“Kita sudah punya beberapa buku yang diterbitkan oleh Dinas Pariwisata. Kemarin juga ada beberapa buku yang diterbitkan dan berkaitan dengan sejarah pembentukan Provinsi Maluku Utara,” ungkapnya.

Aka bilang, seluruh referensi itu akan menjadi rujukan penting dalam penyusunan kurikulum daerah. Ia juga menilai pandangan dan pengalaman tokoh-tokoh seperti Syaiful Ruray merupakan sumber otentik yang bernilai akademis dan historis tinggi.

“Saya kira itu akan menjadi referensi juga bagi kami. Kemudian, beberapa perspektif yang tadi disampaikan oleh Ko Ipul akan menjadi catatan, lalu catatan-catatan lepas dari berbagai sumber akan menambah khazanah penting bagi penyusunan kurikulum,” katanya.

Secara mendalam, Aka menegaskan bahwa memasukkan sejarah daerah ke dalam kurikulum adalah bagian dari tanggung jawab moral pemerintah untuk memastikan nilai-nilai perjuangan tidak hilang di tengah kemajuan zaman.

“Saya kira ini penting. Kita akan menginisiasi hal ini untuk masuk dalam materi muatan lokal. Kami sedang mempersiapkan penyusunan Kurikulum Muatan Lokal,” ujarnya.

Ia berharap, sejarah pembentukan Provinsi Maluku Utara bisa diajarkan secara resmi dalam mata pelajaran Muatan Lokal. Menurutnya, hal ini akan menumbuhkan rasa bangga terhadap daerah dan memperkuat kecintaan siswa terhadap tanah kelahirannya.

“Siapa tahu, sejarah pembentukan Provinsi Maluku Utara itu bisa menjadi bagian penting dalam mata pelajaran Muatan Lokal,” ucap Aka.

Pada bagian lain, Aka  juga menyinggung makna filosofis dari peringatan HUT ke-26 Malut. Ia menjelaskan bahwa perayaan ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan momentum untuk memperkuat arah pembangunan dan nilai-nilai kerja.

“Di ulang tahun kali ini ada tiga kata kunci, pertama membetulkan niat dengan tema ‘bekerja dengan hati’, kemudian harus inovatif, dan harus kolaboratif,” katanya.

Aka menekankan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam tema HUT ke-26 Malut bukan hanya sekadar slogan, tetapi harus menjadi pedoman nyata dalam menjalankan tugas pemerintahan dan pendidikan. Ia menilai, setiap ASN dan tenaga pendidik di Malut perlu menanamkan prinsip kerja dengan ketulusan, berpikir kreatif dalam menghadapi keterbatasan, serta membangun semangat kebersamaan lintas sektor.

Aka menjelaskan bahwa tiga nilai utama tersebut yaitu ketulusan, inovasi, dan kolaborasi merupakan fondasi penting dalam membangun pemerintahan yang efektif dan berorientasi pada hasil. Dengan menghadirkan nilai-nilai tersebut ke dalam praktik kerja sehari-hari, ia yakin roda pembangunan dan pendidikan di Malut akan lebih terarah.

“Saya kira ini memang tantangan kita hari ini. Tema ini akan menjadi kompas bagi pembangunan Maluku Utara selanjutnya, yang ditentukan oleh tiga nilai dasar yang hari ini diartikulasikan dalam tema, yaitu bekerja dengan tulus atau bekerja dengan hati, kemudian harus memiliki kemampuan inovasi, dan di bawah keadaan seperti ini dengan segala keterbatasan termasuk fiskal, maka seluruh OPD mestinya mendorong yang namanya inovasi,” ujar Aka.

Dia juga menekankan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi syarat utama keberhasilan pembangunan, termasuk di bidang pendidikan. Tanpa kerja sama dan sinergi, menurutnya, upaya membangun daerah akan berjalan lambat.

“Kemudian setelah itu, kita tidak bisa bekerja sendiri. Kita butuh sinergitas yang dalam tema kali ini disebut sebagai kolaboratif,” tegas Aka.

Sebelum menutup wawancara, Aka menyampaikan pesan khusus kepada para guru. Ia mengajak seluruh tenaga pendidik untuk menjadikan sejarah sebagai sumber inspirasi dan kebijaksanaan dalam mengajar serta mendidik generasi muda.

“Di momentum Hari Ulang Tahun Provinsi ke-26 ini, kita akan mempersiapkan hadiah terbaik untuk guru-guru,” ujarnya.

Dia menegaskan bahwa menghormati sejarah sama artinya dengan menghormati guru, karena keduanya memiliki peran besar dalam menuntun manusia menuju kebijaksanaan dan kemajuan.

“Pesannya kepada guru, bahwa semua guru dan kita semua harus menghormati dan menghargai sejarah, karena sejarah pasti akan menjadi guru yang sangat berharga bagi kita semua,” harap Aka. (red)