Satu Tangkai Bunga, Seribu Makna Kepedulian Sherly Tjoanda

1176
Plt Kadikbud Malut, Abubakar Abdullah, menyambut para siswa baru di gerbang SMA Negeri 5 Ternate, Senin, 14 Juli 2025, dengan memberikan bunga kepada siswa baru sebagai simbol semangat dan harapan. Momen ini menjadi bagian dari penyambutan hari pertama sekolah yang bersahabat dan sarat makna, mencerminkan komitmen pemerintah dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang ramah dan menyenangkan bagi peserta didik. (Foto: Dok, Dikbud Malut)

WARTASOFIFI.ID – Plt Kadikbud Malut Abubakar Abdullah menunjukkan satu pelajaran penting di hari pertama sekolah bahwa perhatian seorang pemimpin tidak harus selalu lahir dari podium atau rapat formal, melainkan bisa dari seuntai bunga, sebuah senyuman, dan kehadiran tulus di gerbang sekolah.

Senin 14 Juli 2025 pagi itu, Abubakar yang akrab disapa Aka menciptakan momen yang tak biasa di SMA Negeri 5 Ternate. Ia turun langsung menyambut siswa baru tahun ajaran 2025/2026.

Ketika Aka menyerahkan bunga kepada siswa baru, ia tidak sekadar memberikan hiasan, tetapi menyampaikan pesan bahwa kasih sayang dan perhatian pemerintah bisa hadir dalam bentuk paling sederhana namun paling bermakna.

Aksi itu bukan semata-mata seremoni yang bersifat simbolis, melainkan penanda arah baru dalam kepemimpinan pendidikan yang lebih manusiawi dan menyentuh langsung hati peserta didik.

Dunia pendidikan yang selama ini kerap dibebani oleh jargon dan regulasi mendadak terasa lebih hidup ketika seorang pejabat eselon dua memilih berdiri bersama anak-anak di hari pertama mereka menginjakkan kaki di sekolah menengah.

Itu bukan hanya tentang prosedur penjemputan simbolis yang diinisiasi oleh Dikbud Malut atas arahan Gubernur Sherly Tjoanda dan Wakil Gubernur Sarbin Sehe. Ini adalah soal keberanian untuk menunjukkan empati sebagai nilai dasar kepemimpinan.

“Penjemputan ini adalah bentuk cinta dan komitmen pemerintah terhadap masa depan pendidikan. Kami ingin anak-anak merasa bahwa sekolah adalah rumah kedua yang aman dan penuh kasih” ujar Aka dalam rilis resminya.

Hari pertama masuk sekolah di SMA Negeri 5 Ternate ditandai dengan penyambutan khusus oleh Plt Kadikbud Malut, Abubakar Abdullah, Kepsek Diva Fara, dan para guru. Di bawah pancaran matahari pagi, mereka berdiri di gerbang sekolah menyambut siswa baru dengan senyum tulus dan semangat menginspirasi. (Foto: Dok, Dikbud Malut)

Di tengah derasnya retorika tentang masa depan generasi muda, hanya segelintir pejabat yang benar-benar hadir di ruang nyata kehidupan siswa. Aka bukan tipe pemimpin yang berhenti pada kata-kata.

Ia menunjukkan bahwa cinta dan komitmen terhadap pendidikan tidak cukup disuarakan dari balik meja rapat, tapi harus ditunjukkan lewat tindakan nyata, meski sederhana namun penuh makna.

Aka tidak memilih jalan birokratis atau formalitas dalam menyambut siswa baru. Ia tidak mengutus staf, tidak cukup hanya mengirim surat edaran. Ia datang sendiri, menyapa langsung, berdiri sejajar dengan anak-anak yang masih canggung di hari pertama sekolah.

Di tengah wajah-wajah gugup dan penasaran, kehadirannya menghadirkan rasa aman yang sulit diukur dengan angka. Lebih dari itu, dalam sambutan singkatnya, ia membawa salam hangat dari Gubernur Sherly Tjoanda dan Wakil Gubernur Sarbin Sehe.

Bukan sekadar pesan dari balik meja kekuasaan, tetapi salam yang lahir dari kepemimpinan yang ingin diingat bukan karena kebijakannya, melainkan karena keberpihakannya kepada rakyat.

Ketika ia berkata, “Pemprov Malut bangga menjemput kalian untuk mulai mengejar masa depan,” yang terdengar bukan hanya suara biasa, tapi suara Sherly Tjoanda dari jauh yang sedang rindu dan menyentuh hati para siswa dan guru.

“Dari SMA Negeri 5 Ternate kami sampaikan salam sayang dari Ibu Gubernur dan Bapak Wagub. Pemprov Malut bangga menjemput kalian untuk mulai mengejar masa depan” katanya.

Di tengah lonjakan jumlah siswa baru yang mencapai 360 orang dan total peserta didik yang kini melampaui 800, yang terpenting bukanlah angka-angka itu, melainkan cara mereka disambut. Kehangatan dan kepedulian di hari pertama jauh lebih bermakna daripada statistik penerimaan.

Kepala sekolah dan para guru mungkin telah siap secara teknis menyongsong tahun ajaran baru, tetapi yang mereka terima dari kehadiran langsung sang kepala dinas adalah suntikan moral yang tak ternilai.

Seperti diungkapkan Kepsek SMA Negeri 5 Ternate, Diva Fara, kehadiran pejabat provinsi untuk menyambut siswa secara langsung bukan hanya langka, tetapi menyentuh dan menghidupkan semangat seluruh tenaga pendidik. Di balik tindakan yang tampak sederhana itu, para guru merasakan pengakuan yang nyata terhadap dedikasi diam-diam mereka selama ini.

“Sepanjang yang saya tahu belum pernah ada pejabat Dikbud Malut yang hadir menjemput siswa baru secara langsung. Ini sangat menyentuh dan memberi semangat bagi kami semua” ujarnya.

Dalam sorot mata Diva Fara, kehadiran seorang pejabat di hari pertama sekolah bukan sekadar rutinitas seremonial. Ia melihatnya sebagai bentuk keberpihakan yang nyata, sebuah pendekatan baru yang memanusiakan dunia pendidikan.

Bagi para guru, aksi Aka seperti ini bukan pencitraan, melainkan pengakuan bahwa pendidikan tak cukup hanya dibangun di atas kurikulum, tapi juga atas dasar kehadiran, kepedulian, dan sentuhan kemanusiaan yang dirasakan langsung sejak langkah pertama siswa menapaki gerbang sekolah.

Satu per satu siswa baru disambut dengan jabatan tangan oleh Plt Kadikbud Malut, Abubakar Abdullah, Kepsek Diva Fara, dan para guru di gerbang SMA Negeri 5 Ternate. Momen ini mencerminkan komitmen bersama untuk menumbuhkan kedekatan dan rasa percaya diri sejak langkah pertama di lingkungan sekolah. (Foto: Dok, Dikbud Malut)

Kehadiran Aka di pagi hari pertama sekolah telah menyampaikan pesan yang lebih dalam daripada sekadar instruksi administratif. Ia menunjukkan bahwa anak-anak kita layak disambut dengan cara yang manusiawi, dan para guru pantas merasakan bahwa dedikasi mereka dihargai.

Sekolah bukan hanya institusi yang mendidik, tapi ruang hidup yang menumbuhkan. Pada momen langka yang begitu menyentuh di awal tahun ajaran, para guru menjadi saksi bagaimana sebuah sambutan yang tulus mampu membuat siswa merasa diterima dan dihargai sejak langkah pertama mereka di gerbang sekolah.

Ini bukan soal seremoni di atas panggung atau sekadar hadir di depan kamera. Ini adalah tentang bagaimana sebuah kepemimpinan memilih untuk hadir, menyapa, dan memanusiakan pendidikan.

Sebagaimana ditegaskan oleh Diva Fara, ketika sekolah memulai dengan rasa aman dan ketulusan, maka yang tumbuh bukan hanya kecerdasan, tapi juga keutuhan jiwa.

“Kalau dari awal kami sudah menciptakan rasa aman dan hangat maka siswa akan tumbuh bukan hanya menjadi pintar tapi juga menjadi manusia yang utuh” ucapnya.

Pendidikan sejatinya bukan hanya tentang pengajaran tetapi tentang hubungan. Relasi antara guru dan siswa, antara pemerintah dan masyarakat sekolah.

Dalam momen itu, tindakan Sherly Tjoanda melalui sosok Aka mengajarkan satu pelajaran penting bahwa pemimpin yang menyentuh hati akan lebih lama diingat daripada pemimpin yang hanya mencatat angka.

Apa yang terjadi di SMA Negeri 5 Ternate bukan sekadar catatan kecil dalam kalender kegiatan Dinas. Ia adalah isyarat kuat tentang perlunya pendekatan baru dalam membangun pendidikan di Malut.

Kepemimpinan yang menyapa sejak di gerbang sekolah, yang hadir tanpa formalitas, dan yang tulus menyambut masa depan bangsa dengan pelukan hangat dan tatapan penuh harap.

Inilah pelajaran paling sederhana namun paling berharga dari hari pertama sekolah tahun ini. Bahwa pendidikan butuh lebih dari sekadar kurikulum. Ia butuh kehadiran. Ia butuh sentuhan. Dan ia butuh pemimpin seperti Sherly Tjoanda dan Abubakar Abdullah yang tahu kapan harus berhenti berbicara dan mulai mendengarkan langsung dari gerbang sekolah. (red)