Satu Hati untuk Maluku Utara

65
Sherly Tjoanda

WARTASOFIFI.ID – Gubernur Malut, Sherly Tjoanda, menegaskan bahwa kemajuan dan kesejahteraan sejati hanya dapat terwujud jika seluruh masyarakat bersatu dan mendukung arah pemerintahan dengan penuh keyakinan. Ajakan ini bukan sekadar seruan formal, melainkan panggilan nyata untuk menghadirkan sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam mewujudkan Malut yang lebih sejahtera dan berdaya. Dalam konteks puncak HUT ke-26 Malut di Sofifi, 11 Oktober 2025 malam itu, seruan tersebut mencerminkan komitmen kepemimpinan yang menempatkan kebersamaan dan keterlibatan masyarakat sebagai fondasi utama pembangunan daerah.

“Hanya minta doanya, doakan saya amanah. Satukan hati, dukung saya. Percayalah bahwa niat saya hanya satu, memastikan bahwa Maluku Utara sejahtera dalam arti yang sesungguhnya,” ucap Sherly.

Sambutan yang disampaikan Sherly malam itu melampaui sekadar kegiatan formal, menjadi renungan mendalam tentang perjalanan kepemimpinan dan tanggung jawab yang diembannya sebagai gubernur perempuan pertama di Malut. Suaranya yang tenang dan penuh ketulusan menegaskan bahwa setiap kebijakan dan langkah Pemprov Malut dilandasi oleh doa, keyakinan, serta niat tulus untuk kesejahteraan masyarakat.

Momen itu sekaligus menjadi ruang bagi Sherly untuk menyingkap pandangannya tentang makna kehidupan dan hakikat kekuasaan, menghadirkan kepemimpinan yang tidak hanya administratif tetapi juga bermakna secara manusiawi.

“Tiada apapun yang terjadi di muka bumi ini tanpa seizinNya. Berikan saya hikmah untuk mengerti. Kemudian saya tidur, besok paginya saya bangun, entah kenapa rasa marah itu mulai hilang,” tuturnya, menggambarkan proses batin yang ia alami setelah melalui masa-masa sulit di Taliabu kala itu (12 Oktober 2024, red).

Kemudian, Sherly mengenang perjalanan hidupnya yang pernah diwarnai ujian berat, termasuk pengalaman saat harus dibawa menggunakan ambulans menuju helikopter. Momen itu menjadi titik balik dalam hidupnya, ketika ia menyadari betapa rapuhnya manusia di hadapan takdir dan betapa berharganya setiap napas kehidupan.

Pengalaman tersebut menumbuhkan empati yang mendalam dalam dirinya terhadap masyarakat Malut yang masih berjuang menghadapi keterbatasan, terutama di bidang layanan kesehatan. Dari peristiwa itu, Sherly belajar bahwa kekuasaan dan jabatan hanyalah sementara, sementara makna kepemimpinan sejati terletak pada kepekaan terhadap penderitaan masyarakat dan kemampuan menghadirkan perubahan nyata.

“Dari perjalanan mulai dari rumah naik ambulans menuju helikopter, saya berpikir mungkin ini yang Tuhan ijinkan saya rasakan. Karena yang seperti ini banyak dirasakan oleh banyak orang di Maluku Utara,” katanya.

Sherly menggambarkan realitas yang masih dihadapi masyarakat Malut saat ini, terutama dalam perjuangan melawan keterbatasan fasilitas kesehatan. Orang nomor satu di Malut itu juga menyoroti bagaimana banyak warga di pelosok daerah masih berjuang keras untuk mendapatkan pelayanan medis yang layak, sementara sebagian lainnya kehilangan harapan di tengah keterlambatan dan minimnya sarana.

Dari pengalaman pribadi yang pernah ia alami, Sherly merasakan betapa dekatnya jarak antara hidup dan maut ketika akses terhadap layanan kesehatan begitu terbatas.

Sherly pernah menyaksikan sendiri bagaimana nyawa seseorang seolah pergi begitu saja karena fasilitas yang tidak memadai, sebuah pengalaman yang mengajarkannya tentang kerendahan hati di hadapan kuasa Tuhan dan kesadaran bahwa manusia, betapapun tinggi jabatannya, pada akhirnya hanyalah makhluk yang rapuh.

“Mereka berteriak tapi tidak ada yang mendengar. Nyawa seakan-akan pergi karena fasilitas kesehatan yang kurang baik. Kemudian sampai di helikopter, saya melihat bapak ditutup dengan terpal, dan saya tidur. Di situ saya sadar, tidak ada kuat atau gagahnya kita,” ujarnya.

Sherly menegaskan bahwa segala hal yang dimiliki manusia sejatinya hanyalah titipan. Ia menyadari bahwa jabatan, kekuasaan, bahkan kekuatan fisik bukanlah milik abadi, melainkan pinjaman yang dipercayakan untuk digunakan sebaik-baiknya bagi kepentingan masyarakat.

Pengalaman hidupnya dalam menghadapi ujian berat membuatnya semakin memahami makna kerendahan hati di hadapan Tuhan. Baginya, setiap detik kehidupan adalah pengingat bahwa manusia tidak memiliki apa pun secara mutlak, dan kekuasaan hanyalah sarana untuk berbuat kebaikan bagi sesama.

“Tidak ada yang kita pakai adalah milik kita, semuanya pinjaman dari warga. Semua yang terjadi dalam 24 jam terakhir membuat saya sadar, tidak ada kuat atau gagahnya kita,” lanjutnya.

Sherly mengenang sosok almarhum Benny Laos, suami sekaligus mantan Bupati Pulau Morotai, sebagai figur yang memberikan teladan kuat dalam kepemimpinan dan kesederhanaan. Baginya, Benny bukan sekadar seorang kepala daerah, tetapi contoh nyata tentang bagaimana kekuasaan dapat dijalankan tanpa kehilangan nilai kemanusiaan dan kejujuran.

Ia menilai bahwa di tengah godaan jabatan dan harta, Benny tetap teguh menjaga integritasnya. Kehidupannya mencerminkan sikap rendah hati yang tidak mudah silau oleh kemewahan, sekaligus menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukan pada banyaknya kekayaan, tetapi pada ketulusan dan dedikasi dalam melayani masyarakat.

Bagi Sherly, kepergian almarhum Benny bukan hanya kehilangan pribadi, tetapi juga kehilangan sosok panutan yang mengajarkan makna sejati dari pengabdian. Dari perjalanan hidup Benny, ia belajar bahwa jabatan hanyalah sementara, sementara warisan yang abadi terletak pada keteladanan, kejujuran, dan cinta kepada rakyat yang dilayani.

“Benny Laos adalah kepala daerah terkaya se-Indonesia. Tapi kekayaan itu tidak mengubah apapun. Akhirnya seorang Benny Laos pergi begitu saja,” katanya mengenang.

Dari pengalaman hidup yang penuh ujian, Sherly menyadari bahwa kehidupan hanyalah titipan yang harus dijalani dengan kesadaran, makna, dan tanggung jawab. Ia memahami bahwa jabatan, kekuasaan, maupun pencapaian pribadi tidak akan berarti apa-apa ketika waktu telah usai.

Kesadaran itu menumbuhkan tekad dalam dirinya untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan mendiang Benny Laos, bukan sekadar sebagai bentuk cinta dan penghormatan, tetapi juga sebagai panggilan nurani untuk meneruskan mimpi besar membangun Malut dengan hati yang tulus dan pengabdian tanpa pamrih.

“Siapa saya untuk bertanya kenapa? Sehebat apapun, setinggi apapun jabatan kita, ketika waktu ‘check out’, kita akan pergi. Saya hanya ingin melanjutkan mimpi seorang Benny Laos,” tuturnya.

Sherly menegaskan bahwa amanah yang kini ia emban merupakan kelanjutan dari cita-cita besar almarhum suaminya untuk membawa Malut menuju kesejahteraan yang sejati.

Baginya, posisi sebagai gubernur perempuan pertama di provinsi itu bukan sekadar simbol pencapaian, melainkan tanggung jawab moral untuk membuktikan bahwa perempuan juga mampu memimpin dengan ketegasan, empati, dan visi yang berpihak pada masyarakat.

Momen tersebut menjadi penegasan akan perubahan zaman di Malut, di mana kepemimpinan kini tidak lagi dibatasi oleh gender, melainkan diukur dari ketulusan dan kemampuan dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat luas.

“Saya berdiri di sini sebagai gubernur perempuan pertama di Maluku Utara. Tidak ada yang menyangka bahwa Maluku Utara bisa memiliki gubernur seorang perempuan,” ujar Sherly.

Sherly mengakui bahwa pada awal masa kepemimpinannya banyak pihak yang sempat meragukan kemampuannya untuk memimpin Malut. Namun, waktu membuktikan sebaliknya. Dalam kurun delapan bulan, ia berhasil mengubah wajah Sofifi menjadi lebih hidup dan berkembang pesat.

Di bawah kepemimpinannya, berbagai program sosial dan pelayanan publik dijalankan secara nyata, mulai dari pendidikan dan kesehatan gratis, hingga renovasi rumah layak huni bagi masyarakat. Semua capaian itu menjadi bukti bahwa tekad dan kerja tulus mampu menepis keraguan, sekaligus menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan dapat menghadirkan perubahan konkret bagi daerah.

“Mungkin sebagian dari sini dulu bertanya, apa bisa? Kan cuma ibu rumah tangga. Tapi lihat sekarang, Sofifi bisa seramai dan seterang ini hanya dalam delapan bulan. Kita gratiskan kesehatan, pendidikan, renovasi rumah, dan ramaikan Sofifi,” katanya dengan bangga.

Sherly menyoroti perubahan besar dalam cara pandang masyarakat Indonesia terhadap Malut selama ini. Kini, provinsi itu tidak lagi dipandang sebelah mata, melainkan mulai dikenal dan diperhitungkan secara luas. Perubahan persepsi ini menjadi bukti bahwa kemajuan dan pembangunan yang berlangsung di Malut telah membentuk citra baru yang membanggakan bagi seluruh warganya.

“Kalau dulu ke Jakarta bilang dari Maluku Utara, orang akan tanya, ‘Oh, Maluku?’ Sekarang mereka tahu Maluku Utara. Enak, kan? Bangga, tidak?” ujar Sherly disambut gemuruh sorak warga.

Sherly memaknai kehadirannya sebagai bukti bahwa mimpi dapat terwujud melalui ketulusan dan perjuangan. Baginya, semangat dan cita-cita almarhum Benny Laos tidak pernah padam, melainkan terus hidup dalam setiap langkah dan kebijakan yang ia jalankan. Dia melihat kepemimpinannya sebagai kelanjutan dari mimpi besar untuk membawa Malut menuju masa depan yang lebih sejahtera dan bermartabat.

Bagi Sherly, perjalanan yang ia tempuh bukan semata tentang kekuasaan, tetapi tentang melanjutkan warisan perjuangan yang berakar dari cinta terhadap tanah kelahiran. Ia ingin menjadikan Malut sebagai daerah yang kuat secara ekonomi, berdaya secara sosial, dan berkarakter dalam kebudayaan.

Dengan visi itu, ia berusaha memastikan setiap program pemerintah benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat, agar mimpi yang dulu hanya diucapkan oleh Benny Laos kini menjelma menjadi kenyataan yang dirasakan oleh seluruh masyarakat Malut.

“Saya di sini adalah wujud nyata bahwa mimpi itu bisa menjadi kenyataan. Mimpi seorang putra terbaik Maluku Utara, Benny Laos, saya bawa di hati. Saya melanjutkan mimpi itu,” tegasnya.

Sherly tidak sekadar mengajak masyarakat Malut untuk bersatu. Ia menegaskan bahwa pembangunan sejati hanya mungkin terjadi melalui kebersamaan dan kerja nyata. Gestur menggenggam tangan masyarakat bukan simbol belaka, melainkan pernyataan tegas tentang komitmen kepemimpinan yang menempatkan masyarakat sebagai mitra utama dalam setiap langkah perubahan. Dalam konteks ini, harapan akan Malut yang maju dan sejahtera menjadi tanggung jawab kolektif, di mana setiap elemen masyarakat memiliki peran vital untuk mewujudkan mimpi bersama.

“Malam ini saya memegang tangan semua yang ada di sini, seluruh masyarakat Maluku Utara, untuk bersama-sama mewujudkan mimpi Maluku Utara,” katanya.

Dalam kepemimpinannya, Sherly menegaskan pentingnya prinsip meritokrasi sebagai fondasi tata kelola pemerintahan yang adil dan transparan. Setiap mutasi dan seleksi pejabat daerah dijalankan berdasarkan kemampuan dan kompetensi, bukan kedekatan atau kepentingan pribadi, sehingga membuka ruang yang sama bagi Malut untuk berkembang dan belajar.

Pendekatan ini menegaskan bahwa kualitas kepemimpinan dan administrasi publik harus ditempatkan di atas kepentingan individu demi kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

“Saya bersandar pada meritokrasi. Saya melakukan seleksi secara adil agar Maluku Utara diberikan ruang adil untuk bertumbuh dan belajar,” ujarnya.

Sherly menggarisbawahi bahwa pembangunan Malut tidak dapat dicapai hanya melalui regulasi dan kebijakan pemerintah, melainkan membutuhkan peran aktif generasi muda sebagai penggerak perubahan. Kepemimpinan yang efektif harus mampu memberdayakan anak-anak muda untuk belajar, berinovasi, dan memanfaatkan peluang demi kemajuan daerah. Persatuan dan kolaborasi lintas generasi menjadi kunci untuk memastikan bahwa setiap langkah pembangunan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat secara luas.

“Saya dan Pak Sarbin hanya bisa menyiapkan regulasi. Tapi butuh kerja sama dari adik-adik semua untuk belajar dan memanfaatkan kesempatan ini. Kita harus bersatu,” tutur Sherly.

Sherly melihat keberagaman sebagai fondasi kekuatan Malut yang sesungguhnya. Keberagaman bukan sekadar fakta sosial, tetapi sumber daya strategis yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat persatuan, membangun sinergi, dan membuka jalan bagi kemajuan daerah. Dengan menyatukan hati dan visi seluruh elemen masyarakat, Malut dapat menjadikan perbedaan sebagai pendorong inovasi, kebersamaan, dan kesejahteraan yang berkelanjutan.

“Kekuatan Indonesia adalah keberagaman. Mari kita manfaatkan keberagaman itu, marimoi ngone futuru. Ketika hati kita satu, Tuhan akan bukakan jalan,” katanya.

Sherly menegaskan bahwa pemberantasan kemiskinan ekstrem menjadi prioritas utama dalam kepemimpinannya di Malut. Upaya ini menuntut perhatian serius terhadap kondisi hidup masyarakat, termasuk perbaikan rumah tidak layak huni dan akses pendidikan bagi seluruh anak. Komitmen tersebut mencerminkan tekad Pemprov Malut untuk memastikan bahwa pembangunan tidak hanya berhenti pada angka statistik, tetapi benar-benar dirasakan oleh masyarakat, menghadirkan kesejahteraan yang nyata dan berkelanjutan.

“Tidak boleh lagi ada rumah yang berdinding kayu dan beratap rumbia. Tidak boleh lagi ada anak yang tidak bisa sekolah. Itu tidak boleh terjadi,” tegasnya.

Sherly berkomitmen untuk mewujudkan cita-cita pembangunan Malut secara nyata dengan melibatkan seluruh masyarakat. Visi ini bukan hanya kelanjutan mimpi almarhum Benny Laos, tetapi juga penghormatan terhadap perjuangan para pejuang pemekaran daerah.

Kepemimpinan yang berkelanjutan, kata Sherly menuntut regenerasi, di mana generasi muda memegang peran sentral dalam melanjutkan estafet pembangunan, memastikan bahwa impian dan aspirasi kolektif masyarakat tidak terhenti, melainkan terus berkembang dan membuahkan hasil nyata.

“Saya bersama kalian akan memastikan itu terjadi. Ini mimpi Benny Laos, juga mimpi banyak pejuang pemekaran Maluku Utara. Estafetnya harus disambung oleh generasi muda,” ujar Sherly.

Sherly menekankan bahwa jabatan gubernur hanyalah sementara, namun dampak kepemimpinan harus meninggalkan warisan yang abadi bagi daerah. Fokusnya bukan pada kekuasaan pribadi, melainkan pada pembentukan fondasi dan ruang yang memungkinkan lahirnya pemimpin-pemimpin berikutnya yang kompeten dan visioner. Pendekatan ini mencerminkan kepemimpinan yang berpandangan jauh ke depan, menempatkan keberlanjutan pembangunan dan regenerasi kepemimpinan sebagai prioritas utama bagi Malut.

“Saya di sini hanya sementara, lima tahun. Saya hanya bisa memberikan fondasi dan ruang agar nanti tumbuh pemimpin Maluku Utara selanjutnya yang terbaik,” katanya.

Di akhir sambutannya, Sherly menegaskan pentingnya persatuan masyarakat sebagai kunci pembangunan Malut. Ajakan untuk bersatu bukan sekadar retorika, melainkan panggilan nyata agar seluruh elemen masyarakat bergerak bersama mewujudkan perubahan.

Dengan semangat kolaborasi itu, Sofifi dan seluruh kabupaten/kota di Malut diharapkan mampu bangkit, berkembang, dan menjadi wilayah yang lebih maju, ramai, dan berdaya saing, mencerminkan kepemimpinan yang menempatkan rakyat sebagai pusat setiap langkah pembangunan.

“Dukung saya, satukan hati. Bersama-sama kita bangkitkan Maluku Utara. Mulai malam ini akan menjadi awal untuk Sofifi yang lebih maju dan lebih ramai,” serunya.

Perayaan HUT Malut ke-26, bagi Sherly, bukan sekadar agenda formal, melainkan cerminan kebangkitan ekonomi rakyat yang nyata. Momentum ini menunjukkan bahwa pembangunan daerah tidak hanya terlihat dari seremoni, tetapi dari tumbuhnya UMKM, aktifnya perputaran ekonomi, dan berkembangnya sektor industri kreatif. Pendekatan ini menegaskan bahwa kepemimpinan Sherly menempatkan kesejahteraan masyarakat sebagai pusat setiap langkah pembangunan.

Perayaan yang mengedepankan ekonomi rakyat ini juga menjadi bukti bahwa setiap program pemerintah diarahkan untuk memberdayakan masyarakat secara langsung. Dari pelaku UMKM hingga penggiat industri kreatif, semua diberi ruang untuk berkembang, menunjukkan bahwa pembangunan yang menyeluruh adalah fondasi bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Pendekatan ini sekaligus menegaskan bahwa kepemimpinan Sherly tidak berhenti pada tampilan formal semata, tetapi menekankan aksi nyata yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Dengan fokus pada pemberdayaan ekonomi lokal, Malut dapat membangun ekosistem yang kuat, di mana kesejahteraan rakyat tumbuh selaras dengan kemajuan daerah secara keseluruhan.

“Perayaan tahun ini saya ingin menunjukkan bahwa bukan hanya perayaan formalitas, tapi ekonomi bertumbuh, UMKM jalan, perputaran uang hidup, dan pelaku industri kreatif punya ruang,” ujarnya.

Sofifi, menurut Sherly, kini menunjukkan wajah baru yang siap menatap masa depan dengan optimisme dan semangat pembangunan. Aktivitas ekonomi yang semakin hidup, dari pelaku usaha hingga pasar lokal, menjadi indikator nyata bahwa kota ini mulai berkembang dan memberikan peluang bagi masyarakat untuk merasakan manfaat langsung dari kemajuan daerah.

Persiapan infrastruktur dan rencana penyelenggaraan event nasional menegaskan visi kepemimpinan Sherly untuk menjadikan Sofifi sebagai pusat kegiatan ekonomi dan budaya yang berkelas nasional. Strategi ini tidak hanya menumbuhkan ekonomi lokal, tetapi juga membangun citra Malut sebagai provinsi yang siap bersaing, menerima investasi, dan menjadi tuan rumah yang kompeten bagi berbagai kegiatan strategis di masa depan.

“Yang jualan laku, kan? Dan ini semakin ramai. Dari masa ke masa akan semakin banyak event. Saya sudah menyiapkan infrastruktur, dan mulai akhir 2027 hingga 2028 kita akan siap menerima event nasional di Sofifi,” ungkap Sherly.

Di akhir sambutannya, Sherly menegaskan prinsip kepemimpinan yang mengedepankan aksi nyata daripada janji kosong. Pendekatan ini menunjukkan komitmennya untuk fokus pada hasil konkret yang dapat dirasakan oleh masyarakat, bukan sekadar retorika politik atau pencitraan.

Kepemimpinan yang berbasis kerja nyata seperti ini menegaskan integritas dan tanggung jawab Sherly sebagai gubernur, di mana setiap program dan kebijakan akan diimplementasikan dengan serius sebelum dikomunikasikan ke publik.

Sikap ini mencerminkan transparansi dan ketulusan dalam membangun Malut, sekaligus menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan yang berpihak pada kesejahteraan masyarakat.

“Akan banyak berita baik lainnya, tapi saya tidak suka cerita kalau belum jadi. Saya akan cerita ketika itu sudah jadi,” pungkas Sherly. (red)