
WARTASOFIFI.ID – Sore Kamis, 16 Oktober 2025, lapangan Pelabuhan Perikanan Nusantara Ternate dipenuhi warga menyambut Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, bersama Gubernur Malut, Sherly Tjoanda, dalam acara Festival Tara No Ate. Sherly berjalan sendiri di atas karpet merah, menyapa warga sambil tersenyum ramah, memancarkan kedekatan dan wibawa seorang pemimpin perempuan. Mengenakan kebaya hijau zamrud dan konde keemasan, ia tampak seperti seorang ratu. Langkahnya penuh keyakinan dan anggun, tatapannya meneduhkan, senyum tipisnya hangat, dan sapaan tangannya menghadirkan sosok pemimpin yang dekat dan dirindukan masyarakat.
Di atas panggung utama, Sherly duduk berdampingan dengan Wapres Gibran Rakabuming Raka dan Sultan Ternate, menghadirkan simbol harmonis antara tradisi dan modernitas. Pada momen itu, kekuatan kepemimpinan Sherly tersaji dengan jelas, bukan sekadar formalitas tetapi nyata sebagai wujud empati, integritas, dan kedekatan dengan rakyat. Sorot kamera ponsel dari berbagai arah menangkap setiap geraknya, menegaskan bagaimana figur Sherly kini menjadi sorotan media nasional dan viral di media sosial.
Sherly Tjoanda lahir di Ambon, Maluku, pada 8 Agustus 1982. Menikah dengan Benny Laos pada 28 Mei 2005 dan dikaruniai tiga anak, Edbert, Edelyn, dan Edrick, ia menapaki jalur kepemimpinan yang memadukan politik dan kepedulian sosial. Di luar kegiatan politiknya, Sherly memimpin Yayasan Bela Peduli, lembaga yang fokus mendukung anak yatim dan masyarakat kurang mampu, sekaligus menjabat sebagai Ketua DPD HKTI Malut, berperan strategis dalam pengembangan sektor pertanian dan peningkatan kesejahteraan petani. Kepemimpinan Sherly mencerminkan keseimbangan antara visi pembangunan dan sentuhan kemanusiaan yang nyata di lapangan.
Setelah kehilangan suaminya dalam kecelakaan pada 12 Oktober 2024 di Taliabu, Sherly Tjoanda bangkit dengan tekad yang kuat untuk melanjutkan perjuangan kepemimpinan. Ia maju sebagai calon gubernur Malut 2024 bersama Sarbin Sehe, didukung delapan partai politik, menandai awal babak baru kepemimpinan perempuan di provinsi itu. Kini, di usianya yang ke-43, Sherly bukan sekadar pemimpin. Ia menjadi simbol kebangkitan perempuan di Indonesia, memimpin dengan empati, membangun dengan hati, dan menempatkan Malut di peta perhatian nasional hingga ke Istana.
Popularitas Gubernur Sherly, kini telah dikenal luas di seluruh penjuru daerah di Indonesia dan menjadi sorotan di tingkat nasional. Bahkan Wapres Gibran, secara terbuka mengakui kepemimpinan dan kiprahnya sebagai sosok kepala daerah yang fenomenal dan viral di mata publik.
Pujian itu disampaikan Wapres Gibran saat memberikan sambutan pada acara Festival Tara No Ate, menegaskan bahwa Sherly tidak sekadar populer, tetapi juga menjadi figur yang berpengaruh dalam perjalanan pembangunan Malut. Selama dua hari penuh mendampingi kunjungan kerja Wapres, kehadiran Sherly menegaskan peran strategisnya sebagai pemimpin yang komunikatif, inspiratif, dan dekat dengan rakyat.
“Yang saya hormati Ibu Gubernur Maluku Utara, gubernur yang fenomenal, selalu viral. Dua hari ini menemani saya berkeliling Maluku Utara. Ini ada Pak Wagub juga, Forkopimda juga lengkap,” ujar Gibran dalam sambutannya.
Selain memberikan apresiasi kepada Gubernur Sherly, Wapres Gibran juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Sultan Ternate atas penganugerahan gelar kehormatan Kaicil Kastela yang baru saja diterimanya. Menurutnya, penghargaan tersebut menjadi simbol kedekatan antara pemerintah pusat dan masyarakat Malut.
“Pertama-tama, saya ucapkan terima kasih kepada Sultan Ternate melalui penganugerahan gelar Kaicil Kastelayang tadi telah digelar. Jadi, terima kasih sekali, Sultan. Yah, ini artinya saya harus lebih sering lagi ke Ternate. Sekali lagi, terima kasih,” tuturnya.
Dalam kunjungan kerjanya selama tiga hari di Maluku dan Malut, Gibran mengaku sempat meninjau sejumlah daerah di Malut, termasuk Sofifi, Jailolo, dan Morotai. Ia menyebut kunjungan tersebut memberi gambaran nyata tentang kondisi masyarakat serta potensi besar yang dimiliki Malut.
“Mohon izin juga kepada semua warga Ternate. Tiga hari ini saya mengunjungi beberapa tempat, Ambon, tadi kita ke Sofifi, dan beberapa tempat yang sulit dijangkau,” ucapnya.
Menurut Wapres, capaian ekonomi Malut saat ini di bawah kepemimpinan Sherly Tjoanda patut diapresiasi. Orang nomor dua di Indonesia itu menyebut, pada triwulan kedua tahun ini, pertumbuhan ekonomi provinsi tersebut mencapai 30 persen year on year, dengan kontribusi terbesar berasal dari industri pengolahan yang tumbuh hingga 40 persen.
“Saya ucapkan terima kasih sekali kepada Ibu Gubernur. Di triwulan kedua ini, saya lihat pertumbuhan ekonomi di Maluku Utara ada di angka 30 persen year on year, dengan pertumbuhan terbesar di industri pengolahan, yakni 40 persen year on year. Terima kasih Ibu Gubernur, Forkopimda, dan utamanya seluruh masyarakat Maluku Utara. Ini saya kira capaian yang sangat luar biasa,” kata Gibran.
Wapres Gibran menambahkan, potensi alam dan sumber daya yang dimiliki Malut menjadikan provinsi ini sebagai salah satu wilayah paling strategis di Indonesia bagian timur. Kekayaan laut, cadangan nikel, serta hasil bumi seperti pala dan cengkeh menjadi kekuatan ekonomi yang harus dijaga dan dikembangkan.
“Ternate dan Maluku Utara ini punya potensi yang cukup besar, ikan yang melimpah, cadangan nikel yang besar, pantai yang indah, serta hasil bumi seperti pala dan cengkeh dengan kualitas premium. Tak heran, sejak abad ke-16 Ternate sudah dikenal sebagai pusat rempah dunia,” katanya.
Secara mendalam, Wapres Gibran menekankan bahwa semua potensi itu merupakan anugerah Tuhan yang harus dikelola secara profesional. Ia mengajak pemerintah daerah untuk merawat kekayaan alam tersebut dengan hati dan mempromosikannya secara berkelanjutan.
“Ini semua anugerah Tuhan kepada masyarakat Maluku Utara, yang jika dikelola secara profesional, dirawat dengan hati, dan dipromosikan dengan baik, tentu akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat Maluku Utara,” tegasnya.
Selama di Malut, Wapres Gibran juga mengunjungi sejumlah titik pembangunan dan kegiatan sosial seperti rumah sakit, pasar, serta program Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda. Ia menilai sinergi antara pemerintah pusat dan daerah sudah berjalan sangat baik di bawah kepemimpinan Gubernur Sherly.
“Tiga hari ini saya banyak bertemu dengan nelayan, petani, pelaku UMKM, mengunjungi rumah sakit, pasar, Sekolah Rakyat, dan Sekolah Garuda, untuk memastikan sinergi pusat dan daerah berjalan dengan baik,” ucap Gibran.
Wapres Gibran pun menyebut bahwa peran gubernur sangat penting sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat di daerah. Ia menilai Sherly dan kepala OPDnya mampu menjalankan fungsi itu dengan efektif dan komunikatif.
“Ibu Gubernur beserta timnya adalah kepanjangan tangan pemerintah pusat yang ada di daerah. Kami sebagai pembantu presiden ingin memastikan program-program dan visi-misi beliau bisa berjalan dengan baik,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Wapres Gibran juga meminta agar sejumlah program unggulan di Malut seperti pengecekan kesehatan gratis, Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, dan proyek pembangunan infrastruktur tetap dijaga dan dikawal pelaksanaannya.
“Jadi, saya mohon kepada Ibu Gubernur agar program pengecekan kesehatan gratis, Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, serta pembangunan-pembangunan yang sifatnya fisik ini, mohon bisa dikawal,” katanya.
Pemerintah pusat, kata Gibran, terus berkomitmen mendukung pengembangan ekonomi daerah melalui berbagai program berbasis potensi lokal. Salah satunya adalah program Koperasi Merah Putih, yang kini telah membentuk lebih dari 80 ribu koperasi desa atau Kopdes di seluruh Indonesia.
“Dan saat ini, kami dari pemerintah pusat sudah berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan ekonomi daerah berbasis potensi lokal, salah satunya melalui program Koperasi Merah Putih. Saat ini sudah terbentuk 80 ribu Kopdes,” jelas Gibran.
Wapres berharap, melalui program tersebut, daya saing ekonomi masyarakat desa, nelayan, dan petani bisa terus meningkat, sekaligus memperluas akses mereka terhadap pupuk, bahan bakar, dan pasar.
“Harapannya dapat meningkatkan skala ekonomi para petani, nelayan, maupun masyarakat desa, serta mempermudah akses, baik terkait pupuk bagi petani, solar untuk nelayan, maupun akses pasar,” tambahnya.
Wapres Gibran juga menegaskan komitmen pemerintah pusat untuk mewujudkan pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia, bukan hanya terfokus di Pulau Jawa.
“Dan komitmen kami tidak berubah. Kita tidak ingin pembangunan yang Jawa-sentris, tapi harus mulai ada pemerataan yang Indonesia-sentris. Tadi saya sudah janji, akan lebih sering lagi ke sini, ke Ternate, ke Maluku,” katanya.
Sebelum menutup sambutannya, Wapres mengungkapkan bahwa dirinya menerima banyak masukan dari Gubernur Sherly selama kunjungan di Malut. Seluruh saran itu, kata dia, akan segera ditindaklanjuti bersama para menteri setelah kembali ke Jakarta.
“Dan kita pastikan, karena ini Ibu Gubernur salah satu kepala daerah yang paling banyak memberikan saya masukan. Tadi masukannya sudah saya tampung, dan setelah saya nanti pulang ke Jakarta, akan segera kami tindak lanjuti bersama para menteri,” tutup Gibran. (red)




