Sahril Hi. Rauf: Purbaya Bukti Maluku Utara Punya SDM Kompeten

58
Sahril Hi. Rauf (Foto: Istimewa)

WARTASOFIFI.IDKabar gembira datang dari Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan RI setelah putra Maluku Utara, Ahmad Purbaya, dinyatakan berhasil lolos dalam tiga besar seleksi terbuka jabatan Direktur Jenderal (Dirjen) Imigrasi. Pencapaian ini menjadi sorotan publik di daerah karena menandai semakin terbukanya ruang bagi putra daerah untuk menduduki posisi strategis di tingkat nasional.

Merespons hal tersebut, Sahril Hi. Rauf, mantan Wakil Ketua DPRD Halmahera Utara sekaligus tokoh yang dikenal aktif di dunia organisasi kemahasiswaan HMI, memberikan pandangan mendalam. Ia menilai bahwa keberhasilan Purbaya bukanlah sekadar kebetulan, melainkan bagian dari dinamika panjang tentang bagaimana orang daerah bisa menempatkan diri di panggung nasional.

Menurut Sahril, tidak semua orang bisa menembus lingkaran jabatan nasional. Ada syarat, mekanisme, dan faktor-faktor yang harus diperhitungkan. Ia menekankan bahwa jalan menuju kursi strategis selalu melalui dua jalur yang menentukan.

Sebagai warga negara Indonesia, semua punya hak dan peluang yang sama, tapi tidak berarti semua bisa menduduki jabatan strategis nasional. Paling tidak ada dua ruang seseorang mendapat peran dalam skala nasional, yang pertama karena relasi politik yang kuat dan yang kedua karena kemampuan individual atau profesional,” ujarnya via pesan WhatsApp, Sabtu (4/10).

Sejarah panjang keterwakilan Maluku Utara dalam panggung nasional juga menjadi sorotan Sahril. Ia mengingatkan bahwa meski jumlahnya tidak banyak, beberapa figur dari Maluku Utara pernah mendapat tempat terhormat di kancah pemerintahan pusat. Nama-nama itu bahkan dikenang hingga kini karena peran dan kiprahnya yang besar.

Sahril menyebut bahwa keberadaan figur-figur ini menjadi bukti bahwa generasi Maluku Utara memiliki kualitas yang mumpuni untuk diakui di level nasional. Namun ia tidak menutup mata bahwa dibandingkan dengan daerah lain, keterwakilan Maluku Utara masih tertinggal cukup jauh.

Sederetan generasi Maluku Utara pernah menduduki jabatan strategis nasional sejak dari masa transisi Orde Lama ke Orde Baru, seperti Abang Abdul Gafur (Almarhum), Fadel Muhammad. Tetapi jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain, jauh lebih dominan,” katanya.

Meski begitu, Sahril mengingatkan bahwa keberhasilan menduduki posisi penting tidak bisa hanya bergantung pada identitas daerah ataupun dukungan kultural. Dia menegaskan bahwa kekuatan personal menjadi faktor utama yang membuat seseorang mampu bertahan dan bersaing di lingkup pusat.

Baginya, ketahanan individu jauh lebih penting daripada mengandalkan simbol-simbol kolektif. Maluku Utara, kata dia, belum memiliki kekuatan kelompok atau jaringan politik yang masif seperti daerah lain, sehingga satu-satunya jalan adalah menonjolkan kualitas personal.

Bagi saya, seseorang yang bisa menduduki jabatan butuh reposisi kuat yang bersifat personal, bukan karena kekuatan kelompok apalagi kekuatan kultural. Kita tidak punya kekuatan itu,” tegas Sahril.

Dalam konteks itulah, Sahril menilai capaian Ahmad Purbaya patut diapresiasi. Ia menyebut keberhasilan Purbaya sebagai sebuah simbol harapan bahwa putra daerah bisa bersaing sejajar dengan kandidat lain di tingkat nasional.

Tak hanya itu, ia juga menyebut tokoh lain asal Maluku Utara, seperti Taufik Majid, yang sebelumnya sudah lebih dulu menduduki jabatan strategis.

Bagi Sahril, hal ini seharusnya membangun optimisme baru bagi generasi muda Maluku Utara. Narasi tentang kesempatan yang sama bagi seluruh anak bangsa harus terus digelorakan agar Maluku Utara tidak merasa termarjinalkan.

Dari pendekatan ini kita patut apresiasi kepada saudara Ahmad Purbaya, juga Taufik Majid dan generasi lain sebelumnya. Sekaligus menawarkan narasi bahwa peluang itu sama untuk semua anak bangsa. Bukan soal jumlah kita yang sedikit, sementara ada generasi lain yang lebih banyak mendapat jabatan strategis,” jelasnya.

Namun demikian, ia juga memberi catatan penting bahwa realitas politik tidak bisa dilepaskan dari subjektivitas. Dalam proses seleksi jabatan nasional, menurut Sahril, faktor politik, kepentingan, serta pertimbangan subjektif tetap memiliki pengaruh kuat. Sahril menyebut bahwa dunia politik dan birokrasi di tingkat pusat selalu berjalan beriringan dengan pertimbangan yang tidak hanya teknis, tetapi juga strategis.

Kondisi politik dan kekuasaan juga tidak mengabaikan kebijakan serta keputusan yang bersifat subjektif,” ucapnya.

Meski menyadari tantangan itu, Sahril tetap optimistis. Baginya, capaian Ahmad Purbaya adalah bukti nyata bahwa kemampuan individu bisa menembus sekat politik dan kekuasaan. Keberhasilan ini menjadi jalan pembuka bagi generasi berikutnya dari Maluku Utara untuk lebih percaya diri mengambil peran dalam percaturan nasional.

Dia menilai capaian ini bukan hanya kemenangan pribadi, melainkan juga cerminan potensi Maluku Utara yang mampu bersaing secara profesional di tingkat pusat.

Mereka bisa karena kemampuan personal yang kuat. Itu menjadi pintu bagi generasi berikutnya untuk bisa mereposisi peran sehingga masuk dalam kekuasaan nasional,” tutup Sahril. (red)