Purbaya Didukung Seluruh Lapisan Masyarakat jadi Dirjen Imigrasi

91
Ahmad Purbaya

WARTASOFIFI.ID – Keberhasilan Ahmad Purbaya menarik perhatian publik Maluku Utara, menjadi simbol terbukanya peluang bagi putra daerah menempati posisi strategis di level nasional, dan disambut antusias oleh tokoh-tokoh daerah serta politisi.

Menanggapi kabar ini, Aksandri Kitong, politisi Partai Demokrat sekaligus anggota DPRD Malut, menyampaikan dukungan melalui pesan WhatsApp, Sabtu (4/10). Ia menegaskan pentingnya memberikan dukungan penuh kepada Purbaya.

“Mendukung Ahmad Purbaya agar di pusat ada orang Maluku Utara. Ini adalah kesempatan yang tidak boleh kita abaikan. Sebagai sesama orang Maluku Utara, kita harus dukung agar kita punya orang di pusat,” ujar Aksandri.

Selama ini, perwakilan Maluku Utara di jajaran pemerintahan pusat yang memiliki kemampuan mengambil keputusan strategis sangat terbatas. Hal ini menjadi salah satu tantangan bagi daerah untuk mendapatkan suara yang signifikan di tingkat nasional.

“Karena memang sampai sejauh ini perwakilan Malut di pusat dalam jajaran pemerintahan yang bisa mengambil keputusan strategis itu tidak ada,” katanya.

Aksandri menegaskan bahwa keberhasilan Ahmad Purbaya lolos tiga besar seleksi Dirjen Imigrasi merupakan momentum penting yang harus disambut antusias oleh seluruh warga Maluku Utara, karena hal ini menjadi bukti bahwa putra daerah memiliki peluang untuk menembus jabatan strategis di tingkat nasional;

“Jadi jika Pak Ahmad Purbaya lolos 3 besar, harusnya sebagai warga Malut kita mendukung beliau,” ujar Aksandri, menekankan pentingnya dukungan kolektif dari masyarakat untuk memastikan perwakilan Malut dapat hadir dan berperan di panggung pemerintah pusat.

Selain menjadi kebanggaan bagi Maluku Utara, keberhasilan Ahmad Purbaya lolos seleksi tiga besar Dirjen Imigrasi diharapkan dapat membuka peluang lebih luas bagi putra-putra daerah lainnya untuk menduduki jabatan strategis di tingkat nasional.

Kesempatan ini menjadi simbol bahwa kualitas dan kompetensi putra daerah Maluku Utara semakin diakui di kancah pemerintahan pusat, sekaligus memberikan inspirasi bagi generasi muda di daerah.

Aksandri juga menekankan pentingnya dukungan seluruh warga Maluku Utara agar keberhasilan ini tidak hanya berhenti sebagai pencapaian individu, tetapi dapat menjadi momentum bagi daerah untuk lebih banyak memiliki wakil yang berperan dalam pengambilan keputusan strategis di pemerintahan pusat.

“Kita doakan beliau agar supaya beliau lolos jadi Dirjen, sehingga putra Malut sudah ada 2 Dirjen, yaitu di Kemendes dan Imigrasi,” tuturnya.

Sahril Hi. Rauf, mantan Wakil Ketua DPRD Halmahera Utara dan tokoh yang aktif di dunia organisasi kemahasiswaan HMI, memberikan perspektif lebih mendalam terkait pencapaian ini. Menurut Sahril, keberhasilan Purbaya bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil dari proses panjang tentang bagaimana orang daerah bisa menempatkan diri di panggung nasional.

“Sebagai warga negara Indonesia, semua punya hak dan peluang yang sama, tapi tidak berarti semua bisa menduduki jabatan strategis nasional. Paling tidak ada dua ruang seseorang mendapat peran dalam skala nasional, yang pertama karena relasi politik yang kuat dan yang kedua karena kemampuan individual atau profesional,” ujarnya via WhatsApp, Sabtu (4/10).

Sahril menyoroti sejarah panjang keterwakilan Maluku Utara di panggung nasional. Beberapa figur dari Malut pernah menempati posisi strategis sejak era transisi Orde Lama ke Orde Baru, seperti Abang Abdul Gafur (Almarhum) dan Fadel Muhammad.

Namun, ia menegaskan, dibandingkan daerah lain, keterwakilan Maluku Utara masih tergolong minim. Hal ini menunjukkan bahwa putra daerah perlu menonjolkan kualitas personal agar bisa bersaing di tingkat nasional.

“Sederetan generasi Maluku Utara pernah menduduki jabatan strategis nasional, tetapi jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain, jauh lebih dominan mereka,” kata Sahril.

Sahril menekankan, keberhasilan menduduki posisi penting tidak bisa hanya mengandalkan identitas daerah atau dukungan kultural. Kekuatan personal individu menjadi faktor utama yang menentukan.

“Bagi saya, seseorang yang bisa menduduki jabatan butuh reposisi kuat yang bersifat personal, bukan karena kekuatan kelompok apalagi kekuatan kultural. Kita tidak punya kekuatan itu,” tegasnya.

Menurut Sahril, Maluku Utara belum memiliki jaringan politik yang masif seperti daerah lain. Oleh karena itu, satu-satunya jalan bagi putra daerah untuk menembus lingkaran strategis nasional adalah melalui kualitas profesional dan kemampuan individu.

Keberhasilan Ahmad Purbaya patut diapresiasi sebagai simbol bahwa putra daerah bisa bersaing sejajar dengan kandidat lain di tingkat nasional.

Sahril juga menyinggung tokoh lain asal Maluku Utara, seperti Taufik Majid, yang sebelumnya lebih dulu menduduki jabatan strategis, menunjukkan bahwa Malut memiliki potensi untuk menghasilkan figur berkualitas di pusat pemerintahan.

“Dari pendekatan ini, kita patut apresiasi kepada saudara Ahmad Purbaya, juga Taufik Majid dan generasi lain sebelumnya. Sekaligus menawarkan narasi bahwa peluang itu sama untuk semua anak bangsa. Bukan soal jumlah kita yang sedikit, sementara ada generasi lain yang lebih banyak mendapat jabatan strategis,” jelas Sahril.

Ia menambahkan, narasi tentang kesempatan yang sama bagi seluruh anak bangsa harus terus digelorakan agar Maluku Utara tidak merasa termarjinalkan.

Keberhasilan Purbaya, kata Sahril, menunjukkan bahwa kemampuan individu bisa menembus sekat politik dan kekuasaan di pusat. Hal ini menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya dari Maluku Utara untuk lebih percaya diri mengambil peran di tingkat nasional.

“Mereka bisa karena kemampuan personal yang kuat. Itu menjadi pintu bagi generasi berikutnya untuk bisa mereposisi peran sehingga masuk dalam kekuasaan nasional,” tuturnya.

Sahril mengingatkan bahwa realitas politik selalu dipengaruhi pertimbangan subjektif, termasuk faktor kepentingan dan strategi dalam proses seleksi jabatan nasional.

“Kondisi politik dan kekuasaan juga tidak mengabaikan kebijakan serta keputusan yang bersifat subjektif,” ucapnya.

Meski demikian, Sahril menekankan pencapaian Ahmad Purbaya adalah bukti nyata bahwa kemampuan personal mampu membuka jalan bagi putra daerah di panggung nasional.

Keberhasilan ini bukan hanya kemenangan pribadi, tetapi juga cerminan potensi Maluku Utara yang mampu bersaing secara profesional di tingkat pusat.

Figur-figur seperti Purbaya dan Taufik Majid membuktikan bahwa Maluku Utara bisa menempatkan wakilnya di posisi strategis meskipun keterwakilan secara jumlah masih terbatas.

Sahril menilai, keberhasilan putra daerah dalam mencapai posisi strategis harus dijadikan momentum untuk membangun optimisme baru bagi generasi muda Maluku Utara.

“Capaian ini membuktikan bahwa Maluku Utara memiliki potensi yang tidak kalah dengan daerah lain. Selama kita menonjolkan kualitas personal dan profesional, peluang untuk bersaing tetap terbuka,” jelasnya.

Ia menambahkan, dukungan masyarakat dan tokoh daerah penting, tetapi yang paling menentukan adalah kapasitas individu untuk bertahan dan bersaing di level nasional.

“Saya berharap ini menjadi inspirasi bagi putra-putri Maluku Utara, bahwa mereka punya hak dan peluang yang sama untuk berkiprah di tingkat nasional. Bukan soal jumlah, tetapi kualitas personal yang menentukan,” pungkasnya. (red)