
WARTASOFIFI.ID – Dengan semangat Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Pemerintah Provinsi Maluku Utara melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) menggelar sebuah event edukatif berskala provinsi bertajuk Pekan Pendidikan Maluku Utara 2025. Kegiatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan sebuah panggung strategis untuk menata ulang arah pendidikan di provinsi kepulauan yang menyimpan segudang tantangan sekaligus potensi besar.
Dalam konferensi pers yang berlangsung di ruang rapat Kantor Dikbud Malut, Rabu (23/4), Rizka Amin, Kepala Bidang Pendidikan Masyarakat Pendidikan Khusus (PMPK) sekaligus Panitia Hardiknas 2025, menyampaikan bahwa Pekan Pendidikan Maluku Utara 2025 adalah ruang reflektif sekaligus momentum kolektif untuk menyatukan kekuatan pendidikan di daerah ini.
“Pendidikan bukan sekadar soal angka kelulusan atau ranking nasional, tapi soal keberpihakan pada masa depan anak-anak kita. Pekan Pendidikan ini kami desain sebagai ruang kolaboratif untuk merayakan, mengevaluasi, dan mengimajinasikan kembali masa depan pendidikan Maluku Utara,” tegas Rizka dalam paparannya.
Di tengah realitas geografis Maluku Utara yang masih menjadi tantangan utama dalam pemerataan akses dan kualitas pendidikan, Pekan Pendidikan hadir membawa misi yang lebih progresif. Tidak hanya selebrasi tahunan, kegiatan ini didorong menjadi laboratorium ide—tempat bertemunya inovasi, kreativitas, dan partisipasi masyarakat.
Rangkaian kegiatan yang disiapkan mencerminkan keberagaman pendekatan edukatif: dari pembersihan lingkungan dinas sebagai simbol tanggung jawab bersama, pameran pendidikan sebagai etalase kreativitas sekolah, penghijauan untuk menanamkan kesadaran ekologi, hingga diskusi interaktif yang mengundang banyak pemangku kepentingan untuk membedah problematika pendidikan Malut dari hulu ke hilir.
Puncaknya, berbagai lomba dirancang bukan sekadar untuk unjuk bakat, tetapi sebagai medium ekspresi, kontestasi gagasan, dan edukasi publik. Tema-tema yang diangkat pun mencerminkan kepekaan terhadap isu-isu kekinian:
• Lomba Baris Berbaris: “Merah Putih di Dada, Bangga Jadi Anak Maluku Utara”
• Lomba Kriya Tradisional: “Tradisi dan Teknologi dalam Harmoni”
• Lomba Tari Kreasi: “Jejak Tradisi, Langkah Inovasi”
• Vlog Sekolah: “Sekolahku, Duniaku”
• Poster Edukasi: “Cintai Bumi, Mulai dari Sekolah”
• Karya Tulis Siswa:
• “Narkoba dan Generasi Digital: Ancaman dan Peluang”
• “Melawan Perundungan: Membangun Budaya Empati di Sekolah”
• Inovasi Guru: “Guru Sebagai Inovator: Mengubah Tantangan Menjadi Peluang”
Rizka juga menegaskan lima pilar utama tujuan kegiatan ini:
1. Memperkuat kesadaran kolektif tentang pentingnya pendidikan sebagai hak dasar dan investasi jangka panjang.
2. Mendorong kreativitas dan inovasi, khususnya dalam konteks pembelajaran digital dan pendekatan pedagogis yang adaptif.
3. Meningkatkan kolaborasi antarpemangku kepentingan: pemerintah, sekolah, masyarakat, dunia usaha, dan media.
4. Mengangkat potensi lokal, dari budaya, kearifan tradisional, hingga sumber daya alam, sebagai bagian dari kurikulum kontekstual.
5. Menanamkan semangat belajar dan cinta pendidikan, sebagai nilai dasar yang perlu ditanamkan sejak usia dini.
“Tujuan kami tidak sederhana: kami ingin membongkar sekat-sekat dalam dunia pendidikan. Semua anak harus punya ruang belajar yang aman, sehat, dan menumbuhkan potensi mereka,” imbuh Rizka.
Kegiatan ini terbuka bagi seluruh siswa dan guru SMA, SMK, dan SLB se-Maluku Utara. Peserta dipastikan akan mendapatkan ruang untuk menunjukkan kapasitas intelektual, emosional, dan sosial mereka melalui berbagai program yang disiapkan.
Seluruh kegiatan ini didukung penuh oleh anggaran dari DIPA Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara, sebagai bentuk komitmen negara hadir dalam pembangunan pendidikan di daerah-daerah kepulauan. (red)




