Proyeksi Kebutuhan Air Maluku Utara hingga 2045

43
Kepala Bappeda Malut, Muhammad Sarmin S. Adam (Foto: Istimewa)

WARTASOFIFI.ID – Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) terhadap Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Maluku Utara menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara ketersediaan dan proyeksi kebutuhan air di provinsi ini untuk periode 2025 hingga 2045.

Pada 2024, ketersediaan air tercatat sebesar 6,29 triliun liter, cukup untuk memenuhi proyeksi kebutuhan yang diperkirakan akan meningkat dari 101 miliar liter pada 2025 menjadi 138,7 miliar liter pada 2045.

Meskipun ketersediaan air masih mencukupi, tantangan besar terletak pada pengelolaan dan distribusi air yang efisien serta berkelanjutan.

Kepala Bappeda Provinsi Maluku Utara, Muhammad Sarmin S. Adam, menyatakan bahwa meskipun ketersediaan air saat ini masih cukup, proyeksi peningkatan kebutuhan air yang signifikan dalam dua dekade mendatang memerlukan strategi pengelolaan yang lebih baik dan terarah.

“Ketersediaan air yang cukup di tahun 2024 memberi gambaran positif, tetapi kita harus merencanakan dengan cermat untuk memastikan kebutuhan air dapat terus terpenuhi, terutama di wilayah yang memiliki potensi kekurangan,” ujar Sarmin.

Selain itu, Maluku Utara juga menghadapi ancaman bencana alam, khususnya banjir bandang yang sering melanda beberapa wilayah, seperti Halmahera Barat, Halmahera Selatan, Halmahera Timur, dan Halmahera Utara.

Curah hujan yang tinggi, ditambah dengan kondisi topografi yang curam, meningkatkan potensi bencana yang dapat merusak infrastruktur dan mengancam keselamatan masyarakat.

Dalam hal ini, Sarmin menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan dan langkah-langkah mitigasi bencana untuk mengurangi dampak yang mungkin terjadi.

Sarmin menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat sangat diperlukan untuk merumuskan kebijakan dan strategi yang dapat memastikan pemanfaatan sumber daya air yang efisien, sambil mengurangi risiko bencana.

“Melalui sinergi ini, kita dapat memastikan bahwa pembangunan berkelanjutan di Maluku Utara tercapai, dengan mengelola sumber daya alam secara bijaksana dan memitigasi risiko bencana dengan lebih efektif,” tambahnya. (red)