PPIHD Malut Minta Keluarga Segera Ajukan Pengganti CJH Sakit, Batas 17 April

203
Jamaah haji asal Maluku Utara tahun 2024 tiba di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar

WARTASOFIFI.ID – Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Daerah (PPIHD) Provinsi Maluku Utara (Malut) menegaskan kebijakan tegas dalam proses keberangkatan calon jamaah haji (CJH) tahun 2025. Ketua PPIHD Malut, Kadri Laetje, menyampaikan bahwa CJH yang secara medis dinyatakan menderita sakit berat atau tidak layak terbang tidak akan diberangkatkan ke tanah suci. Pernyataan ini disampaikan Kadri dalam konferensi pers yang digelar di Kantor DPRD Maluku Utara, Sofifi, Senin, 14 April 2025.

“Panitia dan tim kesehatan saat ini berkomitmen penuh. Kalau ada calon jamaah haji yang sakit parah, terutama yang tidak memungkinkan secara medis untuk menjalankan ibadah haji, maka dengan sangat terpaksa tidak akan kami berangkatkan. Ini demi keselamatan yang bersangkutan, serta kelancaran pelaksanaan ibadah haji secara keseluruhan,” kata Kadri menegaskan.

Lebih lanjut, Kadri meminta kepada seluruh keluarga calon jamaah haji yang diketahui memiliki kondisi kesehatan tidak stabil agar segera menyiapkan dan mengusulkan calon pengganti.

Ia menekankan bahwa tenggat waktu pengajuan nama pengganti ditetapkan hingga 17 April 2025. Lewat dari tanggal tersebut, penggantian tidak dapat diproses.

“Kami imbau kepada keluarga jamaah untuk bersikap proaktif. Jika memang ada CJH yang sakit dan kemungkinan besar tidak bisa berangkat, tolong segera komunikasikan dan usulkan penggantinya sebelum batas waktu yang ditentukan, yaitu tanggal 17 April. Kita ingin semua berjalan tertib dan tidak menimbulkan masalah administrasi di kemudian hari,” ujarnya.

Menurut Kadri, keputusan ini merupakan bagian dari upaya menjaga kualitas pelayanan dan perlindungan jamaah haji, khususnya dalam menghadapi tantangan yang cukup berat tahun ini, di mana mayoritas CJH asal Malut merupakan kelompok lanjut usia.

“Fokus utama kami tahun ini adalah aspek kesehatan. Karena berdasarkan data terakhir, sekitar 60 hingga 70 persen CJH Maluku Utara adalah lansia. Ini artinya kami membutuhkan kerja ekstra, baik dari sisi pendampingan medis maupun pelayanan selama rangkaian ibadah berlangsung,” terangnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa dalam komposisi panitia penyelenggara ibadah haji tahun ini, keterlibatan tenaga kesehatan diperkuat secara signifikan.

Tim kesehatan tidak hanya berperan dalam pemeriksaan medis, tetapi juga bertanggung jawab dalam pendampingan, edukasi kesehatan, hingga penanganan darurat selama proses ibadah haji berlangsung.

“Panitia penyelenggara haji tahun ini didominasi oleh unsur kesehatan, karena kondisi jamaah kita memang menuntut perhatian ekstra. Kita ingin jamaah sehat dan kuat secara fisik dan mental saat menjalankan ibadah. Dan jika memang dari awal sudah terindikasi tidak mampu secara medis, lebih baik digantikan saja agar ibadah tidak menjadi beban bagi yang bersangkutan,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Kadri juga menyinggung pentingnya kolaborasi antara berbagai pihak dalam kepanitiaan haji, mulai dari Kementerian Agama, Dinas Kesehatan, hingga pihak maskapai dan otoritas pelabuhan udara.

Menurutnya, kerja sama lintas sektor sangat penting demi memastikan proses pemberangkatan dan pemulangan CJH berjalan dengan tertib dan lancar.

“Kolaborasi menjadi kunci. Kita harus bersinergi karena tantangan haji tahun ini cukup kompleks, baik dari sisi jumlah lansia, potensi penyakit bawaan, cuaca di Arab Saudi, hingga faktor logistik. Maka, semua unsur dalam PPIHD harus bergerak bersama dan punya pemahaman yang sama dalam memberikan pelayanan terbaik kepada jamaah,” jelasnya.

Kadri juga berharap agar seluruh CJH bisa menjaga kondisi kesehatan mereka sejak dini, mengingat pelaksanaan ibadah haji bukanlah aktivitas ringan.

Ia mengimbau agar para jamaah mengikuti petunjuk dan arahan tim kesehatan, serta menjaga pola makan, pola istirahat, dan menghindari aktivitas berlebihan menjelang keberangkatan.

“Kami imbau para jamaah untuk mulai mempersiapkan fisik sejak sekarang. Ikuti saran-saran dari dokter dan tim kesehatan. Jangan terlalu banyak aktivitas yang melelahkan. Yang paling penting adalah kesiapan fisik dan mental agar bisa menjalani ibadah dengan lancar dan khusyuk,” pungkas Kadri. (red)