Carteran Lion Air jadi Opsi Final Haji Maluku Utara

413
Konfrensi pers DPRD Malut dan PPIHD di kantor DPRD Malut, Senin (14/4)

WARTASOFIFI.ID Persiapan pemberangkatan jamaah haji asal Provinsi Maluku Utara (Malut) tahun 2025 terus dimatangkan. Dalam konferensi pers yang digelar usai rapat bersama antara Komisi IV DPRD Malut, Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Malut, dan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Daerah (PPIHD) Malut pada Senin, 14 April 2025, di Kantor DPRD Malut di Sofifi, dipastikan bahwa seluruh jamaah akan diberangkatkan dengan sistem penerbangan carteran menggunakan maskapai Lion Air.

Ketua Komisi IV DPRD Malut, Muhajirin Bailussy, menyampaikan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah dalam memberikan pelayanan maksimal bagi jamaah haji, khususnya dari aspek kenyamanan dan efisiensi proses keberangkatan.

“Alhamdulillah, telah kami konfirmasi langsung kepada Kepala Biro Kesra dan panitia bahwa jamaah haji tahun 2025 Insya Allah akan masuk ke asrama haji pada tanggal 8 Mei 2025. Keberangkatan dilakukan dengan sistem carteran menggunakan maskapai Lion Air,” ujar Muhajirin.

Politisi yang dikenal vokal di bidang pelayanan publik ini menambahkan bahwa Komisi IV DPRD Malut akan terus melakukan pengawasan intensif terhadap seluruh tahapan keberangkatan haji, mulai dari persiapan hingga pemulangan jamaah nantinya.

“Yang pasti, kami di Komisi IV telah menegaskan bahwa akan terus melakukan pengawasan sebagaimana yang telah diputuskan oleh pemerintah daerah. Ini penting agar seluruh proses berjalan sesuai dengan prinsip akuntabilitas, efisiensi, dan pelayanan yang bermutu bagi para jamaah haji kita,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua PPIHD Malut, Kadri Laetje, menjelaskan secara rinci teknis pemberangkatan jamaah. Tahun ini, jumlah jamaah haji Malut mencapai 1.076 orang yang akan diberangkatkan dalam tiga kelompok terbang (kloter), yakni kloter 13, 15, dan 17.

“Untuk kloter pertama, jamaah akan masuk ke Asrama Haji Ngade Ternate pada tanggal 8 Mei. Kemudian, pada 9 Mei diberangkatkan dari Bandara Baabullah Ternate menuju Makassar, dan pada tanggal 10 Mei dilanjutkan penerbangan ke Jeddah. Ini untuk kloter 13,” ungkap Kadri.

Menurutnya, sistem rotasi ini disusun berdasarkan distribusi jamaah dari sepuluh kabupaten/kota di Malut. Setiap kloter mencakup jamaah dari beberapa daerah agar proses keberangkatan bisa berjalan lebih efisien dan tertib. Jamaah akan menginap di Asrama Haji Sudiang, Makassar, selama dua hari sebelum diterbangkan ke Arab Saudi. Masa tunggu ini, kata Kadri, penting untuk memberikan waktu istirahat yang cukup bagi jamaah.

“Rata-rata jamaah akan berada di asrama haji Sudiang selama dua hari. Ini bagian dari upaya kami memberikan waktu istirahat dan aklimatisasi sebelum mereka melakukan perjalanan udara panjang ke Jeddah,” ujarnya.

Kadri menegaskan bahwa pemerintah daerah melalui PPIHD berkomitmen memberikan pelayanan terbaik, yang tidak hanya mengedepankan kenyamanan dan keselamatan tetapi juga efisiensi dalam seluruh rangkaian ibadah haji. Semua proses ini didukung oleh anggaran daerah sebesar kurang lebih Rp11 miliar yang bersumber dari APBD Provinsi Malut.

“Anggaran sebesar Rp11 miliar ini mencakup seluruh biaya akomodasi, konsumsi, dan transportasi, baik transportasi udara maupun darat. Dengan carter flight dari Bandara Baabullah ke Makassar, serta pemulangan dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar ke Ternate, kami memastikan proses berjalan cepat dan aman,” papar Kadri.

Hal lain yang menjadi sorotan penting dalam penyelenggaraan haji tahun ini adalah aspek kesehatan jamaah. Berdasarkan catatan panitia, sekitar 60 hingga 70 persen jamaah haji Malut tahun ini masuk dalam kategori lanjut usia (lansia). Hal ini menjadi tantangan tersendiri yang membutuhkan penanganan ekstra dari panitia.

“Fokus utama kami adalah kesehatan jamaah. Oleh karena itu, panitia penyelenggara tahun ini didominasi oleh tenaga kesehatan. Kami ingin memastikan bahwa setiap jamaah dalam kondisi prima sebelum diberangkatkan. Jika ada yang sakit parah, maka kami konsisten untuk tidak memberangkatkan yang bersangkutan,” ujar Kadri.

Ia menambahkan bahwa panitia telah menyiapkan calon pengganti (jamaah cadangan) bagi mereka yang batal berangkat karena alasan medis. Proses validasi kesehatan ini dilakukan hingga batas akhir tanggal 17 April 2025.

“Panitia kesehatan berkomitmen menjaga integritas dan keselamatan. Jika ada jamaah yang tidak layak terbang karena kondisi medis berat, maka penggantinya sudah kami siapkan. Ini semua untuk memastikan jamaah yang berangkat benar-benar siap fisik dan mental,” jelasnya.

Kadri juga menyampaikan bahwa dengan dominasi jamaah lansia, panitia sangat menekankan pentingnya kolaborasi dan kerja sama lintas sektor. Semua unsur panitia, baik logistik, teknis, maupun kesehatan, diminta untuk bekerja sinergis demi pelayanan terbaik.

“Kolaborasi semua panitia sangat penting, karena kita melayani jamaah yang sebagian besar adalah lansia. Kami ingin memastikan bahwa mulai dari asrama hingga ke Arab Saudi, semua pelayanan berjalan optimal dan ramah lansia,” imbuhnya.

Ia berharap seluruh proses penyelenggaraan ibadah haji tahun ini bisa menjadi momentum peningkatan kualitas layanan haji di Malut.

Tidak hanya pada proses keberangkatan, tetapi juga saat jamaah berada di Tanah Suci hingga proses pemulangan kembali ke daerah.

“Insya Allah, dengan dukungan penuh pemerintah daerah dan DPRD, penyelenggaraan haji tahun 2025 akan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Kepuasan jamaah menjadi indikator utama keberhasilan kita bersama,” pungkas Kadri. (red)