Pesparawi Malut Resmi Digelar 12 hingga 15 September 2025

90
Herifal Naly Thomas (Foto: Ist)

WARTASOFIFI.IDUcapan terima kasih yang disampaikan Ketua LPPD Malut sekaligus Ketua Panitia Pesparawi 2025, Herifal Naly Thomas, kepada Kepala Kanwil Kemenag Malut, Amar Manaf, sesungguhnya merefleksikan betapa pentingnya sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam menjaga harmoni. Bagi Herifal, Pesparawi adalah ruang yang melampaui batas spiritualitas, karena mampu memperkuat seni sekaligus budaya lokal.

“Supaya tidak hanya mengembangkan sisi keagamaan, tetapi juga membantu pemerintah untuk meningkatkan seni dan budaya di tengah masyarakat. Seni budaya yang eksis menandakan bahwa masyarakat tersebut maju,”tuturnya, saat konfrensi pers di Sofifi, Selasa (9/9).

Pesparawi merupakan ajang paduan suara gerejawi yang rutin digelar di tingkat provinsi maupun nasional. Di Malut, kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk menyiapkan utusan ke tingkat nasional, tetapi juga sebagai sarana pembinaan seni, budaya, dan moderasi beragama di tengah masyarakat.

Herifal menambahkan, kegiatan ini diharapkan menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengasah bakat dan kreativitas sekaligus memperkuat keimanan.

“Melalui Pesparawi, kita bisa menumbuhkan rasa cinta terhadap seni, budaya, dan agama secara bersamaan. Ini juga bagian dari kontribusi kita dalam membangun masyarakat yang toleran dan berbudaya,” jelas Herifal.

Hingga saat ini, panitia telah menyiapkan sebanyak 414 kontingen dan 80 orang official dari 11 mata lomba yang telah menjalani latihan sejak tahun lalu. Persiapan ini meliputi paduan suara dewasa campuran, paduan suara putra-putri, solo, vokal grup, serta lomba eksebisi Yangere.

Selain itu, panitia juga mengadakan ujicoba kembali untuk pemenang Pesparawi tahun sebelumnya di Halmahera Timur (Haltim), yang dinilai langsung oleh juri tingkat nasional. Tujuannya untuk melihat kekurangan dan melengkapinya dalam enam bulan ke depan sebagai persiapan menuju Pesparawi tingkat nasional di Manokwari, Papua Barat pada 2026.

“Semua persiapan sedang kami optimalkan. Arena acara hampir rampung, akomodasi peserta sudah disiapkan dengan baik, termasuk tempat tinggal mereka. Saat ini persiapan telah mencapai 70 persen,” kata Herifal.

Ia memperkirakan, total peserta dan official yang mengikuti kegiatan ini mencapai lebih dari 500 orang, dan berpotensi meningkat hingga 800-1.000 orang saat pembukaan pada 12 September 2025.

Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag Malut, Amar Manaf, menegaskan bahwa Pesparawi adalah ajang keagamaan yang berbeda dengan event umum lainnya.

“Sasaran utama pelaksanaannya adalah masyarakat. Oleh karena itu, akses harus dibuka seluas-luasnya agar masyarakat dapat menikmati dan menyaksikan secara langsung,” ujar Amar.

Menurut Amar, Pesparawi tingkat provinsi juga merupakan bagian dari persiapan untuk Pesparawi tingkat nasional di Papua pada 2026. Ia optimis kontingen Malut mampu bersaing dengan provinsi lain.

“Para perwakilan Malut yang akan melanjutkan perjuangan di tingkat nasional harus menunjukkan dedikasi tinggi agar dapat meraih prestasi membanggakan,” tambahnya.

Selain aspek kompetisi, Amar menekankan pentingnya kegiatan ini sebagai sarana moderasi beragama.

“Kerukunan tidak sebatas saling menghargai atau menghormati, tetapi membangun cinta untuk semua umat beragama. Pesparawi menjadi wadah penting dalam merealisasikan kerukunan antarumat,” tegasnya.

Amar juga menyoroti perlunya evaluasi berkelanjutan untuk memaksimalkan pembinaan peserta. Ia mencatat bahwa keberhasilan kompetisi tidak hanya ditentukan oleh bakat, tetapi juga oleh faktor pendukung seperti anggaran, dukungan masyarakat, dan kesiapan panitia.

“Ke depan, kolaborasi antara Kemenag dan pemerintah daerah harus diperkuat agar kegiatan keagamaan bisa berjalan maksimal,” ujarnya.

Ia mencontohkan model pelaksanaan di Nusa Tenggara Timur (NTT), di mana ketua panitia Pesparawi dijabat tokoh Muslim, sementara ajang STQ dipegang tokoh Kristiani. Skema ini bisa memperkuat hubungan antarumat beragama dan diterapkan di Malut.

Pesparawi tingkat provinsi 2025 membuka 12 jenis lomba, yang melibatkan 10 kabupaten/kota. Sebagian kegiatan bersifat penguatan peserta finalis Pesparawi tahun 2024 agar siap menghadapi tingkat nasional. Setiap lomba akan diulang untuk memastikan kualitas peserta dari seluruh kabupaten/kota.

“Komunikasi aktif dengan kabupaten/kota terus kami lakukan agar semua pihak tetap proaktif mengikuti ajang ini,” jelas Amar.

Amar menegaskan, peluang Malut di tingkat nasional sangat besar, namun bergantung pada keseriusan dan kesiapan masing-masing peserta. Ia menekankan bahwa sebagian besar kegiatan Pesparawi berkaitan erat dengan ibadah keseharian umat Kristiani.

“Persaingan di tingkat nasional tentu ketat. Persiapan matang dan kepercayaan diri harus dimaksimalkan,” kata Amar.

Lebih jauh, Amar berharap Pesparawi dapat mendorong keimanan, ketakwaan, serta rasa kemanusiaan, kerukunan, dan kedamaian.

“Harapan saya, kegiatan ini tidak hanya menjadi lomba, tetapi ajang pembinaan karakter, seni, dan budaya yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Pesparawi tingkat provinsi Malut 2025 diprediksi menjadi salah satu kegiatan keagamaan terbesar dan paling berkesan di wilayah ini. Selain sebagai persiapan menghadapi ajang nasional, kegiatan ini diharapkan memberi dampak positif terhadap pengembangan seni, budaya, dan ekonomi lokal.

Partisipasi masyarakat dan dukungan pemerintah diharapkan memperkuat keberhasilan ajang ini dan membangun citra Malut sebagai provinsi yang harmonis dan kreatif dalam bidang keagamaan dan budaya.

Dengan persiapan matang, dukungan penuh pemerintah, dan partisipasi aktif masyarakat, Pesparawi tingkat provinsi 2025 diharapkan tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga momentum bagi masyarakat untuk merayakan seni, budaya, dan kerukunan antarumat beragama. (red)