
WARTASOFIFI.ID – Pemprov Malut terus mendorong pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat di sektor energi, khususnya listrik. Melalui kerja sama dengan Kementerian ESDM, program bantuan pasang baru listrik resmi digulirkan tahun ini. Program ini ditujukan bagi masyarakat tidak mampu yang hingga kini belum menikmati sambungan listrik.
Upaya menghadirkan program tersebut bukan perkara mudah. Gubernur Malut, Sherly Tjoanda, disebut turun langsung melakukan lobi ke Kementerian ESDM. Hasilnya, Malut mendapat alokasi ribuan sambungan baru yang akan dipasang secara bertahap di seluruh kabupaten dan kota.
Kepala Dinas ESDM Malut, Suriyanto Andili, melalui Kepala Bidang Ketenagalistrikan, Rinto M. Adam, menjelaskan program ini saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (9/9). Ia menegaskan, langkah Gubernur Sherly Tjoanda telah membuka akses baru bagi ribuan rumah tangga di Malut yang sebelumnya hidup dalam kegelapan.
“Program ini namanya program bantuan pasang baru listrik. Ini adalah upaya Ibu Gubernur untuk melobi kegiatan ini di Kementerian ESDM. Kegiatan Ibu Gubernur sendiri ada hubungannya dengan program Kementerian ESDM,” kata Rinto.
Menurutnya, Dinas ESDM Malut mendapat peran penting dalam memastikan program ini berjalan tepat sasaran. Meski kegiatan ini secara teknis ditangani Kementerian ESDM, Pemprov Malut berfungsi sebagai pintu utama pendataan.
“Kegiatan listrik dan penyediaan dalam torang, oe item kegiatan itu hanya pada identifikasi desa dan rumah yang belum teraliri listrik,” jelasnya.
Rinto menyebutkan, total bantuan pasang baru listrik yang dialokasikan Kementerian ESDM untuk Malut mencapai 2.050 sambungan rumah. Angka ini tersebar di seluruh kabupaten dan kota, mulai dari Halmahera Utara, Ternate, Tidore, hingga Pulau Taliabo dan Kepulauan Sula.
“Kegiatan Kementerian yang disalurkan di Malut sebanyak 2.050, tersebar di seluruh kabupaten/kota. Kita di dinas hanya mengidentifikasi,” tambahnya.
Meski jumlahnya cukup besar, program ini belum bisa menjawab seluruh kebutuhan masyarakat. Berdasarkan data Pemprov Malut, masih ada ribuan rumah tangga di wilayah terpencil yang belum menikmati listrik, terutama di desa-desa kepulauan.
Proses identifikasi rumah tangga penerima bantuan menjadi prioritas utama. Rinto menegaskan, Dinas ESDM melakukan pembaruan data secara berkala untuk memastikan keakuratan.
“Data yang baru di-update sekitar 1.900 unit rumah. Kita dari dinas dapat data itu dari desa,” katanya.
Verifikasi dilakukan berlapis, mulai dari data yang dikirim desa, validasi di tingkat kelurahan, hingga pengecekan lapangan langsung. Pendekatan by name by address diterapkan agar tidak terjadi kesalahan sasaran.
“Data itu kita betul-betul kroscek di lapangan, by name by address. Menyurat ke desa bulan Februari dan September 2025, berdasarkan hasil verifikasi dari desa atau lurah,” jelasnya lagi.
Pada tahap awal, program ini akan mulai berjalan September 2025. Dari total 2.050 sambungan, sebanyak 157 rumah akan diprioritaskan pada tahap pertama. Lokasi penerima tersebar di tiga wilayah, yaitu di Kabupaten Pulau Taliabo, Halmahera Utara (Halut), dan Kepulauan Sula.
“Data yang akan dipasang bulan September dari Kementerian, sesuai hasil verifikasi, kurang lebih 157 rumah. Itu tersebar tahap satu di Taliabo, Halut, dan Sula,” ungkap Rinto.
Tahap selanjutnya akan terus berjalan hingga seluruh alokasi rampung. Dinas ESDM Malut memastikan koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota tetap diperkuat untuk mempercepat proses.
Meski program ini disambut baik, tantangan elektrifikasi di Malut masih cukup besar. Sebagai provinsi kepulauan dengan geografis yang tersebar, sambungan listrik belum merata. Banyak desa di wilayah Halmahera bagian utara, Halmahera timur, serta pulau-pulau kecil masih bergantung pada genset swadaya atau bahkan hidup tanpa listrik.
Kondisi ini membuat angka rasio elektrifikasi Malut tertinggal dibanding provinsi lain di Indonesia. Dengan adanya program bantuan pasang baru listrik dari Kementerian ESDM, diharapkan kesenjangan akses listrik dapat berkurang.
Listrik bukan hanya soal penerangan, tetapi juga penopang ekonomi masyarakat. Bagi keluarga di desa, hadirnya listrik membuka peluang usaha baru, mendukung aktivitas belajar anak-anak di malam hari, hingga meningkatkan kualitas layanan kesehatan di puskesmas.
Pemprov Malut menilai, program ini akan memberikan efek domino terhadap kualitas hidup masyarakat. Setiap rumah tangga yang tersambung listrik akan ikut menggerakkan roda perekonomian di tingkat lokal.
Program bantuan pasang baru listrik juga dipandang sebagai bukti keberpihakan Pemprov Malut terhadap masyarakat kecil. Lobi yang dilakukan Gubernur Sherly Tjoanda dinilai sebagai langkah strategis yang langsung menyentuh kebutuhan dasar rakyat.
Bagi sebagian warga, listrik mungkin hal biasa. Namun, bagi masyarakat di desa terpencil Malut, kehadiran listrik adalah simbol perubahan hidup.
Pemprov Malut menargetkan agar program serupa terus berlanjut di tahun-tahun mendatang. Kolaborasi dengan Kementerian ESDM menjadi pintu utama, tetapi dukungan dari pemerintah daerah juga sangat penting.
Rinto menegaskan, pihaknya akan terus memperbarui data dan memperketat verifikasi agar setiap rumah tangga yang berhak benar-benar mendapat akses.
“Intinya, kami pastikan data valid. Tujuannya agar masyarakat bisa merasakan listrik secara gratis tanpa dipungut biaya pasang baru,” tutupnya.
Program bantuan pasang baru listrik menjadi titik terang bagi ribuan keluarga di Malut. Meski tahap pertama hanya menjangkau 157 rumah, langkah ini menandai komitmen Pemprov Malut untuk memperluas akses energi hingga pelosok. Dengan listrik, Malut perlahan mengejar ketertinggalan pembangunan, sekaligus menegaskan bahwa perhatian Gubernur Sherly pada rakyat kecil bukan sekadar janji, tetapi nyata dirasakan. (red)




