Peran Strategis Pemuda dalam Tanggap Bencana Nasional

77
Fathur Rohman, Pengurus Pusat Karang Taruna Bidang Tanggap Bencana (Istimewa)

Masyarakat pada hakikatnya adalah himpunan manusia yang hidup bersama, berinteraksi, saling menghargai, saling menghormati, dan membangun relasi sosial yang memungkinkan terciptanya tatanan kehidupan yang harmonis. Dalam ruang sosial yang terus berubah ini, generasi muda hadir sebagai kelompok yang sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan psikis, sebuah fase penting yang menentukan ke mana arah masa depan mereka, sekaligus menentukan identitas diri yang masih rentan dan mudah dipengaruhi oleh dinamika zaman.

Dalam pandangan Bung Karno, sebagaimana dikutip dalam Samani dan Hariyanto (2011:1), pembangunan suatu bangsa, khususnya Indonesia, harus bertumpu pada pembangunan karakter. Karakter yang dimaksud bukan hanya etika personal, tetapi karakter kolektif yang peka terhadap perubahan zaman, peduli terhadap kondisi sosial, dan memiliki keberanian moral untuk menjaga lingkungan serta mencegah kerusakan dalam bentuk apa pun.

Pesan Bung Karno tersebut menjadi relevan di tengah situasi generasi muda hari ini yang menghadapi tantangan kompleks, termasuk melemahnya kepedulian terhadap lingkungan dan rendahnya kesadaran mitigasi bencana. Kerusakan alam tidak memilih korban, karena bencana alam tidak membedakan antara tua dan muda, kaya atau miskin, sehingga mitigasi bencana menjadi kebutuhan universal yang mempengaruhi jumlah korban jiwa dan tingkat kerugian sosial-ekonomi.

Sering kali generasi muda digambarkan sebagai masa depan bangsa, sebuah klise yang terus diulang dalam berbagai kesempatan. Namun dalam konteks penanggulangan bencana, mereka bukan hanya “masa depan,” melainkan kekuatan aktif yang hadir pada saat ini, siap mengambil peran penting ketika situasi darurat mengharuskan mereka turun tangan dalam hitungan detik.

Konsep bahwa anak muda adalah garda terdepan dalam tanggap bencana bukan semata slogan motivatif, melainkan sebuah kenyataan empiris yang dibuktikan di berbagai daerah. Ketika bencana datang, energi, kecepatan, dan daya adaptasi mereka menjadi modal besar untuk mempercepat proses pertolongan dan penyelamatan.

Menurut Suyadi (2013:9), peduli sosial merupakan sikap dan tindakan yang mencerminkan kepekaan dan kepedulian terhadap orang lain atau kelompok masyarakat yang sedang membutuhkan bantuan. Pemahaman ini menegaskan bahwa kepedulian sosial bukan sekadar perasaan empati, tetapi tindakan nyata yang diwujudkan dalam kontribusi terhadap sesama.

Karang Taruna sebagai organisasi yang dihuni oleh para pemuda juga memiliki peran fundamental dalam mencegah permasalahan sosial dan memberikan respons pada situasi bencana. Dalam Peraturan Menteri Sosial No. 25 Tahun 2019 ditegaskan bahwa Karang Taruna berkewajiban menjadi garda terdepan dalam penanggulangan bencana, terutama pada fase pascabencana yang memerlukan kerja cepat dan koordinasi intensif.

Peran Karang Taruna tidak dapat dipandang sebelah mata karena mereka menjadi pilar penting dalam mengembalikan nilai gotong royong—sebuah nilai sosial khas bangsa Indonesia yang perlahan mulai terkikis oleh pola hidup individualistis di era modern.

Generasi muda memiliki energi besar dan kemampuan adaptasi teknologi yang tinggi, dua faktor yang menjadi keunggulan signifikan dalam konteks manajemen bencana modern. Di tengah situasi yang membutuhkan kecepatan dan ketepatan, kemampuan mereka memanfaatkan teknologi menjadi faktor yang mempercepat penanganan di lapangan.

Dalam fase tanggap darurat, kecepatan menjadi kunci utama. Respons cepat anak muda dalam bergerak, berkoordinasi, dan menyebarkan informasi dapat menjadi pembeda antara keselamatan dan bahaya, antara kerugian kecil dan bencana yang meluas.

Pertama, dalam penyebaran informasi, generasi muda sangat mahir menggunakan media sosial dan platform digital. Mereka dapat menyebarkan peringatan dini, informasi jalur evakuasi, dan kebutuhan mendesak secara real-time, membantu masyarakat memperoleh informasi yang benar secepat mungkin di tengah derasnya informasi simpang siur.

Kedua, anak muda memiliki kapasitas fisik yang mendukung berbagai aktivitas logistik di lapangan. Mereka lebih lincah dalam melakukan evakuasi, mengangkut bantuan, mendistribusikan logistik, serta berperan dalam pendirian posko darurat yang membutuhkan tenaga dan stamina yang kuat.

Ketiga, mereka memiliki kemampuan inovatif dalam memanfaatkan keterampilan digital untuk menciptakan aplikasi pelaporan kerusakan, membuat peta interaktif zona aman, hingga merancang sistem donasi digital yang transparan dan akuntabel. Hal-hal seperti ini tidak mungkin dilakukan tanpa literasi digital yang kuat.

Peran anak muda selama ini seringkali diidentikkan sebagai relawan pembantu, posisi yang menempatkan mereka hanya sebagai tenaga tambahan, bukan sebagai pengambil keputusan. Padahal, kapasitas mereka sesungguhnya memungkinkan untuk menjadi aktor utama dalam keseluruhan siklus manajemen bencana.

Sebagai aktor utama, anak muda perlu dilibatkan dalam tiga fase penting manajemen bencana: mitigasi, kesiapsiagaan, dan pemulihan. Pelibatan ini bukan sekadar formalitas, tetapi merupakan kebutuhan nyata untuk memastikan keberlanjutan strategi penanggulangan bencana nasional.

Pada fase mitigasi, anak muda dapat menjadi bagian dari perencanaan tata ruang yang berperspektif kebencanaan serta terlibat dalam kampanye kesadaran lingkungan. Pendidikan siaga bencana perlu diintegrasikan secara kreatif dalam kurikulum sekolah maupun kampus agar menjadi kebiasaan sejak dini.

Fase kesiapsiagaan menuntut akses yang luas terhadap pelatihan pertolongan pertama, pelatihan dasar SAR, dan pelatihan manajemen posko. Organisasi kepemudaan dan komunitas sosial perlu mendapatkan fasilitas pelatihan yang kontinyu agar menciptakan relawan yang kompeten dan siap turun ke lapangan kapan saja.

Sementara dalam fase pemulihan, anak muda berkesempatan memimpin proses rekonstruksi sosial dan ekonomi dengan ide-ide segar, inovatif, dan adaptif. Proses pemulihan tidak hanya membangun kembali infrastruktur, tetapi juga memulihkan mental masyarakat yang terdampak.

Salah satu kontribusi besar anak muda dalam pemulihan adalah program trauma healing melalui seni dan olahraga. Aktivitas ini dianggap efektif oleh para psikolog karena dapat mengurangi tekanan emosional secara nonverbal, cocok terutama bagi anak-anak yang kesulitan mengekspresikan trauma secara langsung.

Trauma healing berbasis seni dan olahraga juga menciptakan lingkungan interaksi yang aman bagi korban, terutama bagi remaja yang cenderung lebih mudah terbuka kepada teman sebayanya dibanding kepada orang dewasa.

Kekuatan sosial generasi muda sebagai pendukung sebaya (peer-to-peer support) dapat menjadi jembatan emosional yang tidak dimiliki oleh relawan dewasa. Pendekatan ini sering kali lebih efektif dalam memulihkan psikologi para korban karena kesamaan pengalaman yang membuat mereka saling memahami.

Inovasi dan kesadaran lingkungan yang dimiliki anak muda menjadi faktor penting dalam memastikan bahwa proses rekonstruksi pascabencana tidak hanya sekadar mengembalikan kondisi seperti semula, tetapi membangun kembali dengan konsep Build Back Better.

Build Back Better adalah pendekatan rekonstruksi yang bertujuan bukan hanya memulihkan kerusakan, tetapi membangun sistem yang lebih kuat, lebih aman, dan lebih siap menghadapi bencana serupa di masa depan. Ini adalah prinsip penting dalam manajemen bencana modern.

Selain potensi individu, terdapat sejumlah kebijakan pemerintah yang secara eksplisit maupun implisit mendukung peningkatan peran anak muda dalam penanggulangan bencana. Kebijakan ini berperan sebagai pintu masuk struktural agar anak muda dapat bekerja secara resmi dan profesional.

BNPB melalui Rencana Nasional Penanggulangan Bencana (RENAS PB) periode 2020-2024 menekankan pentingnya pemberdayaan masyarakat, termasuk kaum muda, dalam setiap tahap penanggulangan bencana. Kebijakan ini memberikan legitimasi atas partisipasi generasi muda dalam struktur penanggulangan bencana nasional.

Di tingkat daerah, BPBD memiliki kewenangan untuk mengelola relawan, termasuk anak muda dari berbagai organisasi seperti Pramuka, mahasiswa, hingga komunitas sosial. Relawan yang terdaftar secara resmi mendapatkan payung hukum serta perlindungan yang dapat meningkatkan efektivitas penanganan di lapangan.

Kementerian Pemuda dan Olahraga turut memperkuat sinergi melalui berbagai program seperti “Collab Rangers” yang memberikan pelatihan tematik terkait mitigasi dan kesiapsiagaan bencana kepada organisasi kepemudaan. Program semacam ini memperkuat kapasitas generasi muda secara nasional.

Di sisi lain, Kementerian Pendidikan berperan dalam mengintegrasikan pendidikan kebencanaan ke dalam lingkungan sekolah dan kampus. Hal ini dilakukan melalui program literasi bencana, simulasi evakuasi, dan kurikulum pembelajaran yang relevan.

Kehadiran kebijakan lintas kementerian menunjukkan bahwa pemerintah melihat potensi besar anak muda dalam memperkuat ketangguhan nasional. Namun implementasinya tetap membutuhkan dukungan struktural di tingkat daerah dan komunitas.

Anak muda saat ini bukan hanya aktor pendukung dalam penanggulangan bencana, tetapi telah menjadi kekuatan kritis yang aktif dalam berbagai level kegiatan. Mereka terlibat sebagai relawan lapangan, pengembang teknologi, fasilitator trauma healing, hingga advokat kebijakan lingkungan.

Ketika bencana melanda, kerap kali kelompok pertama yang tiba di lokasi adalah para relawan muda. Semangat pantang menyerah dan solidaritas tinggi membuat mereka mampu bekerja dalam tekanan dan medan sulit tanpa kehilangan fokus pada tujuan utama: menyelamatkan nyawa dan membantu sesama.

Perubahan iklim dan kerusakan lingkungan membuat bencana semakin sering terjadi. Situasi ini menuntut Indonesia memiliki barisan anak muda yang terlatih dan sadar bencana, agar bisa mengurangi risiko dan mencegah korban lebih banyak di masa depan.

Sayangnya, masih ada stigma di sebagian kalangan yang meremehkan kemampuan generasi muda dalam pengambilan keputusan strategis. Padahal, tantangan kebencanaan modern membutuhkan perspektif baru yang justru banyak dimiliki oleh para pemuda.

Mengabaikan peran mereka sama artinya dengan menyia-nyiakan potensi besar yang bisa mempercepat respons bencana. Karena itu, penting untuk menciptakan ruang partisipasi yang jelas dan terstruktur bagi anak muda dalam kebijakan kebencanaan.

Di banyak negara maju, anak muda diberi peran strategis dalam perencanaan kebencanaan, termasuk dalam perancangan kota ramah bencana dan pengembangan teknologi prediksi. Indonesia perlu mengambil langkah serupa dengan menempatkan mereka sebagai mitra strategis pemerintah.

Anak muda memiliki mentalitas pembelajar cepat (fast learner), sebuah keunggulan yang sangat penting dalam situasi darurat di mana setiap detik menjadi krusial. Kemampuan memproses informasi dengan cepat membantu mereka membuat keputusan yang tepat di lapangan.

Mereka juga memiliki jejaring sosial yang luas, baik di dunia nyata maupun digital, sehingga memudahkan proses mobilisasi relawan, pengumpulan donasi, dan penyebaran informasi dalam waktu singkat.

Para pemuda yang aktif di komunitas lingkungan juga menjadi agen perubahan dalam mengkampanyekan pelestarian alam, pencegahan deforestasi, dan pengurangan risiko bencana berbasis ekosistem. Aktivitas ini merupakan bagian dari mitigasi jangka panjang.

Anak muda memiliki kecenderungan berkolaborasi lintas komunitas, lintas daerah, bahkan lintas negara. Kolaborasi ini memungkinkan terjadinya transfer pengetahuan dan teknologi, yang sangat penting dalam penanganan bencana modern.

Dengan berbagai kemampuan yang mereka miliki, anak muda perlu diberikan ruang untuk tidak hanya menjadi relawan, tetapi menjadi aktor pengambil kebijakan, terutama di tingkat lokal melalui forum kebencanaan desa atau kelurahan.

Pemerintah daerah dapat memperkuat peran anak muda dengan menyediakan pelatihan berkelanjutan, fasilitasi advokasi kebijakan, dan ruang kolaborasi formal di bawah payung BPBD atau dinas sosial setempat.

Ketangguhan bencana suatu bangsa bukan hanya ditentukan oleh kekuatan infrastruktur, tetapi juga oleh kekuatan manusianya. Generasi muda adalah kekuatan utama yang dapat membangun ketangguhan sosial melalui empati, kepedulian, solidaritas, dan inovasi.

Kita perlu menyadari bahwa investasi pada generasi muda adalah investasi pada keselamatan bangsa. Setiap pelatihan, setiap edukasi, dan setiap fasilitas yang diberikan kepada anak muda akan kembali dalam bentuk respons cepat yang menyelamatkan banyak nyawa ketika bencana datang.

Untuk itu, negara perlu mengubah cara pandang terhadap anak muda. Mereka bukan hanya objek kebijakan, melainkan subjek aktif yang memiliki kemampuan, kreativitas, dan keberanian untuk memastikan Indonesia tangguh terhadap bencana.

Kedepannya, sinergi antara pemerintah, komunitas, sekolah, kampus, dan organisasi kepemudaan perlu diperkuat agar seluruh potensi anak muda dapat dimaksimalkan dalam setiap tahap penanggulangan bencana.

Anak muda bukan hanya siap merespons keadaan darurat, mereka juga siap merencanakan masa depan Indonesia yang lebih aman, lebih resilien, dan lebih berdaya saing dalam menghadapi risiko bencana yang semakin kompleks akibat perubahan iklim global.

Karena itu, kini saatnya kita mengakui peran besar anak muda sebagai garda terdepan tanggap bencana, mendukung mereka melalui kebijakan yang inklusif, dan memberikan kepercayaan penuh agar mereka dapat menjadi pilar utama dalam mewujudkan Indonesia yang lebih siap menghadapi bencana di masa depan.

Oleh: Fathur Rohman

Pengurus Pusat Karang Taruna Bidang Tanggap Bencana