
WARTASOFIFI.ID – Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Malut, Muhammad Abusama, memastikan bahwa Pesta Siaga tingkat daerah akan digelar lebih awal dari jadwal semula dan dipusatkan di Jailolo, Halbar. Perubahan ini dilakukan karena penyesuaian dengan agenda Gubernur Malut, Sherly Tjoanda, yang dijadwalkan menghadiri langsung kegiatan tersebut pada Minggu, 20 Juli 2025.
Dalam wawancara melalui sambungan telepon pada Jumat (18/7), Muhammad Abusama menjelaskan bahwa awalnya kegiatan dijadwalkan berlangsung pada 22 Juli 2025, sebagai bagian dari rangkaian menyambut Hari Anak Nasional yang jatuh pada 23 Juli. Namun, karena Gubernur memiliki agenda lain pada tanggal tersebut, maka acara dimajukan dua hari lebih awal.
“Ibu Gubernur mintanya dilaksanakan pada tanggal 20 Juli hari Minggu, karena pada tanggal 21 dan 22 Ibu Gubernur punya jadwal agenda lain juga,” jelas Muhammad Abusama.
Menurutnya, kehadiran langsung Gubernur dalam kegiatan Pesta Siaga adalah bentuk nyata dari perhatian dan komitmen pimpinan daerah terhadap penguatan karakter anak-anak sejak dini.
Dia menyebut, momentum ini akan menjadi penyemangat tersendiri bagi para peserta, khususnya anak-anak Pramuka Siaga yang berusia antara 6 hingga 12 tahun.
“Lusa hari Minggu Ibu Gubernur hadir. Untuk sementara lagi persiapan,” tambahnya.
Karena pelaksanaan kegiatan bertepatan dengan hari Minggu, pihak Kwarda memastikan jadwal disesuaikan dengan aktivitas keagamaan masyarakat setempat. Acara akan dimulai setelah ibadah Minggu pagi selesai, sebagai bentuk penghormatan terhadap toleransi beragama.
“Kegiatan kita mulai setelah selesai ibadah Minggu,” ujar Muhammad Abusama.
Dari sisi jumlah peserta, Kwarda Malut memperkirakan kehadiran antara 600 hingga 1.000 orang. Perkiraan ini mencakup peserta, pendamping, panitia, dan unsur pelaksana lainnya. Data final akan ditentukan berdasarkan daftar hadir dan registrasi terakhir.
“Peserta diperkirakan 1.000 peserta, tergantung nanti tong lihat. Tapi targetnya 600 sampai 1.000 peserta,” jelas Abusama.
Berdasarkan laporan sementara dari panitia teknis, jumlah peserta siaga putra sebanyak 288 orang, dan peserta putri juga 288 orang. Pendamping laki-laki dan perempuan masing-masing 72 orang, begitu pula pembantu pembina.
Sementara itu, panitia daerah terdiri atas 26 putra dan 23 putri, sementara panitia cabang/lokal berjumlah 73 orang. Jika ditotalkan, jumlah seluruh partisipan mencapai 984 orang.
“Sehingga ditotalkan semuanya sebanyak 984 orang yang menghadiri kegiatan tersebut,” kata Abusama, menegaskan bahwa angka tersebut masih bisa berubah.
Ia menekankan bahwa seluruh kegiatan akan dikemas dengan pendekatan menyenangkan agar anak-anak bisa menyerap nilai-nilai moral dan kedisiplinan tanpa merasa terbebani. Ini juga selaras dengan arahan Gubernur Malut yang ingin pembinaan Pramuka lebih menekankan permainan tradisional sebagai bagian dari pelestarian budaya lokal.
“Kegiatan ini juga merupakan implementasi dari arahan Ibu Gubernur saat pelantikan lalu. Beliau ingin menghidupkan kembali permainan-permainan tradisional sebagai bagian dari upaya memperkaya kearifan lokal,” ungkap Abusama.
Pesta Siaga tahun ini mengusung lima kelompok kegiatan utama yang dirancang khusus untuk anak-anak usia 6 hingga 12 tahun. Kegiatan pertama adalah Kegiatan Umum, yang terdiri dari Upacara Pembukaan, Upacara Penutupan, dan Pasar Siaga. Selanjutnya adalah Permainan Scouting, meliputi Bolping, Klompeng Raksasa, dan Ambil Koin. Kemudian Permainan Tradisional seperti Cenge-cenge Putri, Lompat Tali Putri, Sem Putra, dan Boi Tampurung Putra.
Selain itu, kegiatan berikutnya adalah Lomba Barung, yang mencakup Taman Pentas Seni, Taman KIM, Taman Baris-berbaris, Taman Sirkuit Ketangkasan, Taman Menyusun Kata, dan Taman Tarik Tambang Segi Tiga. Terakhir adalah Lomba Gugus Depan, yang terdiri dari Pameran Edukasi Ceria serta Sepeda Hias dengan tema kehidupan petani atau nelayan.
Menurut Muhammad Abusama, pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam menanamkan nilai karakter, terutama bagi anak-anak Pramuka Siaga. Permainan menjadi media pembelajaran yang komunikatif, gerak aktif, dan tidak membosankan.
“Pembinaan karakter di usia dini, sekitar 6 sampai 12 tahun, lebih efektif jika dimulai dengan pendekatan yang menyenangkan, seperti permainan. Itu sangat cocok dimasukkan ke dalam kegiatan Pramuka, terutama di golongan siaga,” lanjutnya.
Peserta Pesta Siaga tahun ini hanya berasal dari Halbar. Kebijakan ini, kata Muhammad Abusama, merupakan bagian dari prinsip pemerataan dan keadilan geografis dalam pelaksanaan kegiatan Kwarda Malut. Tidak ada peserta dari kabupaten/kota lain yang diundang.
“Karena lokasi kegiatan di Halbar, maka pesertanya pun dari Halbar. Kami tidak mengundang peserta dari kabupaten/kota lain. Ini bagian dari prinsip pemerataan dan keadilan geografis,” tegas Abusama.
Ia menambahkan, rotasi ini sudah diterapkan sejak awal kepemimpinannya. Kegiatan serupa telah diselenggarakan di Halsel, Halut, dan Kota Tidore Kepulauan. Tahun ini Halbar menjadi tuan rumah, dan tahun berikutnya giliran akan diberikan kepada kabupaten lain yang belum mendapatkan kesempatan.
“Selama kepemimpinan saya, kegiatan serupa sudah pernah kita laksanakan di Halsel, Halut, dan Kota Tidore Kepulauan. Tahun ini Halbar menjadi tuan rumah, dan ke depan kita akan lanjutkan di kabupaten/kota yang belum mendapatkan giliran,” tutupnya. (red)




