Dari Demokrat untuk Halmahera Utara

214
Politisi Partai Demokrat, Aksandri Kitong. WartaSofifi/RD

Di pusaran dinamika politik di daerah yang kerap dipenuhi persaingan kepentingan dan pertarungan citra, nama Aksandri Kitong justru dikenal melalui pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat. Politisi muda Partai Demokrat yang saat ini menjabat sebagai anggota DPRD Malut itu kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap warga dengan menyalurkan tiga ekor sapi kurban kepada tiga masjid di wilayah Tobelo, Halut, dalam momentum Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah.

Tindakan tersebut menjadi agenda tahunan yang merefleksikan jejak pengabdian yang konsisten dari Aksandri Kitong sebagai kader Partai Demokrat di tengah masyarakat Halut. Dia tidak hanya hadir pada saat momen pemilu, tetapi senantiasa berada di tengah warga melalui kerja-kerja nyata yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat, memperlihatkan bahwa keterlibatan politik tidak berhenti pada kontestasi elektoral, melainkan terus hidup dalam tindakan sosial yang memberi dampak langsung di tengah kehidupan warga, dan politisi seperti inilah yang dibutuhkan masyarakat saat ini.

Bahkan, Aksandri pernah membangun akses jalan menuju Loloda menggunakan dana pribadi demi membantu mobilitas masyarakat di wilayah tersebut. Belum lagi berbagai bentuk pengabdian lainnya yang telah dilakukan di Halut dan tak dapat dihitung satu per satu, menjadikan namanya tumbuh sebagai salah satu figur muda yang dekat dengan denyut kehidupan masyarakat.

Pada momentum Idul Adha tahun ini, tiga ekor sapi kurban yang disalurkan Aksandri Kitong masing-masing diberikan kepada Masjid Raya Tobelo, Masjid Istiqlal Gorua Selatan, dan Masjid Al-Hikmah Gamsungi. Penyaluran tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian sosial sekaligus upaya menjaga semangat berbagi di tengah masyarakat. Kehadiran bantuan hewan kurban itu pun disambut hangat oleh pengurus masjid dan warga setempat yang menerima manfaat dari pembagian kurban.

Dalam rilis tertulisnya yang diterima WARTASOFIFI.ID pada Rabu, 27 Mei 2026, Aksandri Kitong mengatakan bahwa Hari Raya Idul Adha harus dimaknai lebih luas dibanding ritual keagamaan tahunan. Menurutnya, nilai terbesar dari Idul Adha terletak pada kemampuan manusia untuk belajar ikhlas, memahami kesulitan sesama, dan menghadirkan manfaat melalui tindakan nyata yang sederhana namun bermakna.

“Selamat Hari Raya Idul Adha. Semoga semangat berkurban mengajarkan kita tentang keikhlasan sejati dan menjadikan kita pribadi yang lebih peduli kepada sesama,” ujar Aksandri.

Ia juga menilai bahwa tradisi kurban memiliki pesan moral yang sangat kuat dalam kehidupan sosial masyarakat. Di tengah berbagai tantangan ekonomi dan sosial yang dihadapi masyarakat saat ini, semangat berbagi dinilai menjadi salah satu cara paling sederhana untuk menjaga rasa kemanusiaan tetap hidup. Menurutnya, Idul Adha tidak boleh berhenti pada prosesi penyembelihan hewan kurban, tetapi juga harus menjadi pengingat pentingnya kepedulian terhadap sesama.

“Idul Adha bukan hanya tentang menyembelih hewan kurban, tetapi juga tentang menghadirkan kepedulian sosial di tengah masyarakat,” kata Aksandri.

Seiring itu, ia mengatakan bahwa kehidupan masyarakat di Malut dibangun melalui budaya gotong royong dan rasa persaudaraan yang kuat. Karena itu, nilai berbagi harus terus dipelihara agar hubungan sosial tetap harmonis dan masyarakat mampu tumbuh dengan semangat kebersamaan yang kokoh.

“Semangat berbagi harus terus dijaga sebagai bagian dari nilai kemanusiaan dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat,” ungkapnya.

Menurut Aksandri Kitong, penyaluran hewan kurban bukan hanya tentang memberikan bantuan materi kepada masyarakat, tetapi juga menjadi bentuk kehadiran seorang wakil rakyat di tengah warga yang mereka wakili. Ia menilai bahwa masyarakat membutuhkan pemimpin yang hadir bukan hanya dalam pidato dan janji politik, tetapi juga melalui tindakan nyata yang manfaatnya dapat langsung dirasakan masyarakat.

“Penyaluran hewan kurban ini merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap masyarakat, khususnya di momentum Hari Raya Idul Adha,” tuturnya.

Aksandri pun menegaskan bahwa makna pengorbanan dalam Idul Adha harus mampu membentuk karakter masyarakat agar lebih peka terhadap kondisi sekitar. Menurutnya, keikhlasan dalam membantu sesama menjadi salah satu nilai penting yang harus terus dijaga dalam kehidupan sosial di tengah berbagai tantangan yang terus berkembang.

“Keikhlasan dalam berkurban mengajarkan kita untuk lebih peka terhadap kebutuhan sesama,” ujarnya.

Selain itu, Aksandri juga berharap momentum Idul Adha dapat menjadi pengingat pentingnya menjaga hubungan sosial di tengah masyarakat. Menurutnya, kebersamaan dan solidaritas harus terus diperkuat agar kehidupan masyarakat tetap harmonis dan penuh rasa persaudaraan, terutama di daerah yang memiliki keberagaman sosial seperti Malut.

“Kebersamaan dan solidaritas sosial harus terus diperkuat agar hubungan antarmasyarakat tetap harmonis,” katanya.

Di tengah kehidupan masyarakat yang terus bergerak dengan berbagai dinamika sosial, Idul Adha dinilai menjadi salah satu momentum yang mampu menghadirkan kembali rasa kedekatan antarsesama. Tradisi berbagi melalui kurban bukan hanya menciptakan kebahagiaan bagi masyarakat penerima, tetapi juga memperkuat silaturahmi dan rasa persaudaraan yang menjadi fondasi kehidupan bersama.

“Idul Adha menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi dan menebarkan kebahagiaan kepada masyarakat,” ungkapnya.

Aksandri Kitong berharap nilai-nilai pengorbanan dan kepedulian yang diajarkan Idul Adha tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Ia ingin semangat tersebut terus tumbuh dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, sehingga nilai kemanusiaan, persaudaraan, dan rasa saling membantu tetap hidup dan terjaga di tengah masyarakat Malut.

“Semoga nilai-nilai pengorbanan, kepedulian, dan persaudaraan terus hidup dalam kehidupan masyarakat Maluku Utara,” tandasnya. (red)

Bagi WARTASOFIFI.ID, berita adalah amanah, ditulis dengan ketelitian, dijaga dengan integritas, dan disampaikan dengan netralitas kepada masyarakat.