Motif Kapita Perang Menghidupkan Kembali Tenun Koloncucu Ternate

96
Pengrajin tenun di Desa Sade, Lombok (Foto: Istimewa)

WartaSofifi.id – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Maluku Utara berkomitmen untuk melestarikan Tenun Koloncucu Ternate, sebuah warisan budaya yang telah ada selama ratusan tahun.

Langkah utama dalam pelestarian ini adalah pengembangan motif Kapita Perang Kesultanan Ternate.

Kepala Disperindag Malut, Yudhitya Wahab, menjelaskan bahwa Tenun Koloncucu adalah tenun tradisional tertua di Maluku Utara, dengan sejarah sekitar 300 hingga 400 tahun.

Jumlah penenun Koloncucu sempat hampir punah, dengan hanya empat penenun yang tersisa.

Namun, berkat pembinaan yang intensif, jumlah penenun kini meningkat menjadi sembilan orang.

Motif baru yang dikembangkan adalah Pending Kapita Perang, simbol yang digunakan oleh para panglima perang Kesultanan Ternate di masa lalu.

“Para Kapita Perang biasanya mengenakan Pending Merah yang disilang di bahu dan melingkar di pinggang sebagai tanda kepemimpinan mereka di medan perang,” jelas Yudhitya.

Pengembangan motif ini dilakukan setelah berdiskusi dengan Fanyira Kadaton Kesultanan Ternate.

Tujuannya adalah untuk memperkuat identitas lokal dan menarik minat generasi muda agar terus melanjutkan tradisi tenun Koloncucu.

Yudhitya menambahkan bahwa pelestarian Tenun Koloncucu tidak hanya bertujuan untuk menjaga warisan budaya, tetapi juga untuk membuka peluang ekonomi kreatif.

“Kami ingin Tenun Koloncucu menjadi produk unggulan yang dikenal luas, baik di pasar nasional maupun internasional,” ujarnya.

Dengan dukungan berbagai pihak, diharapkan Tenun Koloncucu dapat terus berkembang, melestarikan warisan budaya, dan memberikan dampak positif bagi ekonomi lokal. (red).