Maluku Utara di Antara 40 Negara

882
Gubernur Sherly Tjoanda menghadiri peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 25 November 2025 di halaman Kantor Dikbud Malut, didampingi Kadikbud Malut Abubakar Abdullah dan Sespri Gubernur Celsy, sebagai wujud komitmen Pemprov Malut dalam memperkuat peran guru dan kualitas pendidikan. WARTASOFIFI.ID/Rais Dero
Fokus Gubernur Malut , Sherly Tjoanda, terhadap dunia pendidikan tampaknya bukan sekadar slogan kebijakan. Dedikasinya yang konsisten dalam mendorong pembinaan sains dan teknologi di tingkat sekolah menengah telah menorehkan hasil nyata yang patut diacungi jempol. Upaya strategis Dikbud Malut dan pihak sekolah dalam memperkuat kualitas pendidikan, mulai dari peningkatan kapasitas guru, penyediaan fasilitas laboratorium yang memadai, hingga pengembangan program ekstrakurikuler berbasis sains, membuahkan capaian yang menakjubkan. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa investasi serius pada pendidikan bukanlah sekadar anggaran yang terserap, tetapi membentuk fondasi kompetensi generasi muda yang mampu bersaing di kancah global.
Dua pelajar SMA Negeri 2 Kota Ternate, Andini Putri Faruk dan Siti Maghfira Abdullah, menjadi bukti nyata dari arah kebijakan pendidikan Sherly Tjoanda. Mereka terpilih sebagai wakil Indonesia pada ajang International Youth Robot Competition (IYRC) 2025, sebuah kompetisi internasional yang diselenggarakan di Tiongkok pada 19 hingga 21 Desember 2025. Keikutsertaan mereka bukan hanya sekadar membawa nama sekolah atau daerah, tetapi menjadi simbol bahwa kualitas pendidikan di Malut kini mampu menembus batas-batas nasional dan menempatkan pelajar lokal sejajar dengan peserta dari berbagai negara maju yang selama ini mendominasi bidang sains dan teknologi.
Keberhasilan Andini dan Siti dalam ajang internasional tersebut menegaskan bahwa proses pembinaan sains dan teknologi di Malut telah masuk pada fase yang produktif dan berkelanjutan. Tidak hanya sekadar teori atau pelatihan singkat, program yang dijalankan Pemprov Malut memberikan ruang bagi pelajar untuk mengeksplorasi kreativitas, berpikir kritis, serta mengasah kemampuan teknis mereka melalui praktik langsung. Ini juga menjadi jawaban atas keraguan skeptis yang selama ini muncul tentang kemampuan sekolah-sekolah di wilayah timur Indonesia untuk bersaing di level global, sekaligus membuktikan bahwa kualitas bukan soal lokasi geografis, melainkan visi, konsistensi, dan pendampingan yang tepat.
Keberhasilan ini juga menjadi momentum penting bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan di Malut untuk semakin menguatkan komitmen terhadap pengembangan talenta muda. Pencapaian ini tidak datang secara instan, melainkan melalui sinergi antara kebijakan pemerintah, dedikasi tenaga pengajar, dukungan orang tua, serta ketekunan siswa itu sendiri.
Tidak berhenti di situ, prestasi ini membuka peluang bagi pengembangan program-program lanjutan, termasuk beasiswa riset, pertukaran pelajar, dan kompetisi sains internasional lainnya, sehingga Malut tidak hanya menjadi daerah yang berprestasi sesaat, tetapi mampu membangun ekosistem pendidikan berkelanjutan yang menghasilkan generasi unggul.
Pada titik inilah, prestasi berkelas dunia ini menegaskan bahwa arah kepemimpinan Sherly Tjoanda di bidang pendidikan telah membuahkan buah manis yang nyata. Ia memperlihatkan bahwa fokus yang tepat, dukungan penuh terhadap talenta lokal, dan pemberdayaan pendidikan berbasis sains dapat menghadirkan prestasi luar biasa yang membanggakan tidak hanya Malut, tetapi juga Indonesia.
Keberhasilan ini menunjukkan dengan jelas bahwa pendidikan yang digarap serius dan profesional mampu menghasilkan anak-anak muda yang tidak sekadar menguasai teori, tetapi mampu menerapkan ilmu mereka hingga ke panggung internasional, mengharumkan nama daerah, sekaligus menjadi inspirasi nyata bagi generasi penerus.
Kadikbud Malut Abubakar Abdullah menyampaikan rilis tertulis pada Minggu malam, 21 Desember 2025, terkait capaian gemilang pelajar Malut di kompetisi internasional di Tiongkok. Keberhasilan ini menegaskan bahwa pembinaan sains dan teknologi di tingkat sekolah menengah mulai menunjukkan hasil nyata, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga di arena internasional yang ketat dan berstandar tinggi.
“Ini prestasi yang sangat membanggakan dan menjadi kebahagiaan bagi dunia pendidikan Maluku Utara,” tulis Abubakar Abdullah dalam rilisnya.
Mantan Pj Sekda Malut itu menjelaskan, dua pelajar SMA Negeri 2 Kota Ternate, Andini Putri Faruk dan Siti Maghfira Abdullah, menjadi wakil Indonesia pada ajang International Youth Robot Competition (IYRC) 2025 yang digelar di Tiongkok pada 19 sampai 21 Desember 2025.
Dua pelajar SMA Negeri 2 Kota Ternate, Andini Putri Faruk dan Siti Maghfira Abdullah, membentangkan bendera Merah Putih di panggung utama ajang International Youth Robot Competition (IYRC) 2025 di Tiongkok, beserta peserta dari berbagai negara. (Ist)
Keikutsertaan mereka tidak hanya membawa nama sekolah dan daerah, tetapi juga mewakili wajah pendidikan Indonesia di mata dunia, terutama dalam bidang robotik dan inovasi teknologi yang kini menjadi indikator penting kemajuan suatu bangsa.
“Keduanya tampil sangat kompetitif dan mampu menunjukkan kualitas pelajar Indonesia di tingkat dunia,” ujarnya.
Kompetisi robotik tingkat dunia tersebut diikuti sekitar 600 peserta dari 40 negara, yang datang dengan latar belakang pendidikan, budaya, dan kemajuan teknologi yang beragam. Di tengah persaingan yang menuntut kreativitas, ketepatan teknis, dan kemampuan presentasi yang kuat, kehadiran pelajar dari Malut menjadi bukti bahwa daerah kepulauan pun memiliki sumber daya manusia yang sanggup berkompetisi secara setara di arena internasional yang ketat dan penuh tekanan.
“Ini membuktikan bahwa pelajar Maluku Utara mampu bersaing di level global bila diberi ruang dan kesempatan,” ujar Abubakar.
Tim robotik SMA Negeri 2 Kota Ternate mencatatkan prestasi berlapis yang menunjukkan konsistensi dan kualitas kerja tim. Andini dan Maghfira tidak hanya unggul dalam satu kategori, tetapi mampu menunjukkan performa yang baik di berbagai aspek penilaian, mulai dari inovasi proyek, kemampuan teknis, hingga presentasi gagasan di hadapan juri internasional. Mereka meraih Medali Emas kategori Innovation Creative (Proyek Terbaik Kigomo Robotik), Medali Perak kategori Presentasi Terbaik proyek Innovation Creative Kigomo Robotik, serta Juara I dan Juara II kategori Wonder Planet jenjang SMA.
“Prestasi ini bukan hasil kebetulan, tetapi buah dari kerja keras guru, pembinaan, dan keseriusan para siswa,” kata Abubakar Abdullah.
Keberhasilan tersebut mempertegas bahwa keterbatasan geografis tidak dapat dijadikan alasan penghambat lahirnya prestasi. Dari sekolah negeri di Kota Ternate, dengan segala keterbatasan sarana dan jarak dari pusat pusat pengembangan teknologi nasional, lahir inovasi robotik yang mampu menembus pengakuan dunia. Capaian ini menjadi pesan penting bahwa kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh komitmen pembinaan dan keberanian membuka ruang bagi kreativitas siswa.
“Potensi pelajar daerah sangat besar dan harus terus didukung secara berkelanjutan,” ujarnya.
Kadikbud Abubakar juga menyatakan bahwa keberhasilan Andini Putri Faruk dan Siti Maghfira Abdullah di ajang kompetisi robotik internasional merupakan buah dari proses pembinaan yang dijalankan secara sistematis, konsisten, dan berorientasi jangka panjang. Ia memandang capaian tersebut tidak sekadar prestasi personal, melainkan cerminan kapasitas pelajar Malut yang selama ini terus dipupuk untuk mampu menembus arena persaingan global, khususnya di ranah sains dan teknologi.
“Prestasi ini membanggakan karena mengharumkan daerah dan bangsa,” ujar Abubakar Abdullah.
Dia juga menilai keberhasilan Andini dan Maghfira memiliki resonansi yang luas bagi iklim pendidikan di Malut. Prestasi ini dinilainya mampu membangkitkan keyakinan pelajar lain bahwa keterbatasan wilayah tidak menghalangi peluang untuk berprestasi di tingkat dunia, sekaligus mendorong lahirnya budaya kompetisi yang sehat dan produktif di lingkungan sekolah.
“Mereka bisa menjadi contoh dan motivasi bagi pelajar lainnya,” ujarnya.
Dalam konteks peran pemerintah daerah, Abubakar menekankan pentingnya dukungan yang berkelanjutan terhadap pengembangan prestasi pelajar. Ia menyebut perhatian, fasilitas, dan keberpihakan kebijakan sebagai elemen pendukung yang memperkuat kepercayaan diri siswa ketika membawa nama daerah di forum internasional.
“Dukungan pemerintah daerah dan semua pihak sangat berarti dalam pencapaian ini,” ujarnya.
Abubakar turut menyoroti arti simbolik dari keberhasilan pelajar Malut yang mampu meraih medali emas dan perak sekaligus mengibarkan Merah Putih di hadapan delegasi dari berbagai negara. Baginya, momen tersebut merupakan pernyataan kolektif bahwa Malut hadir dan diperhitungkan dalam percaturan global pengembangan inovasi dan teknologi.
“Pelajar Malut mampu mengibarkan Merah Putih di panggung internasional dan itu menjadi kebanggaan bersama,” ujar Abubakar.
Dua pelajar SMA Negeri 2 Kota Ternate, Andini Putri Faruk dan Siti Maghfira Abdullah, membentangkan bendera Merah Putih di panggung utama ajang International Youth Robot Competition (IYRC) 2025 di Tiongkok, beserta peserta dari berbagai negara. (Ist)
Menutup pernyataannya, Abubakar Abdullah menegaskan bahwa capaian ini harus dijadikan pijakan awal untuk melahirkan prestasi-prestasi lanjutan. Ia menekankan pentingnya kesinambungan pembinaan, konsistensi dukungan, serta komitmen semua pemangku kepentingan agar Malut terus melahirkan generasi muda yang kompetitif dan berdaya saing global.
“Ini bukan akhir, tetapi awal dari prestasi prestasi berikutnya yang lebih besar,” tulis Abubakar Abdullah.
Sebelumnya, Dikbud Malut merilis Prestasi dua pelajar SMA Negeri 2 Ternate yang berhasil menembus ajang Youth Robotic Competition (YRC) di Tiongkok semestinya tidak diperlakukan sebagai sekadar kabar menggembirakan yang lalu begitu saja. Peristiwa ini merupakan sinyal kuat sekaligus cermin yang memantulkan potensi besar pendidikan Malut yang selama ini sering terhambat oleh sistem yang setengah jalan dan kebijakan yang sering berubah arah. Pada titik ini, capaian tersebut tidak cukup dirayakan dengan tepuk tangan, melainkan harus mendorong evaluasi mendalam tentang sejauh mana Pemprov Malut sungguh-sungguh menyiapkan ruang yang konsisten bagi lahirnya prestasi kelas dunia.
Keberhasilan Siti Magfira Abdullah dan Andini Putri Faruk menembus panggung global tidak layak dipersempit sebagai kisah prestasi individual semata. Capaian ini adalah bantahan nyata terhadap stigma lama yang kerap melekat pada anak-anak Malut, seolah keterbatasan geografis dan minimnya fasilitas menjadi tembok permanen bagi daya saing mereka. Di tengah kondisi yang serba terbatas, keduanya justru membuktikan bahwa kerja keras yang terarah, pembinaan yang konsisten, serta keberanian untuk mengukur diri di level internasional mampu melampaui batas-batas yang selama ini dianggap mustahil bagi pelajar daerah.
Respons Pemprov Malut yang disampaikan melalui pernyataan Gubernur Sherly Tjoanda layak ditempatkan dalam konteks yang lebih strategis. Ungkapan kebanggaan dan kebahagiaan atas keberhasilan pelajar Malut mewakili Indonesia di ajang akademik internasional bukan sekadar pernyataan asal-asalan, melainkan penegasan awal bahwa isu pendidikan mulai memperoleh tempat penting dalam kepemimpinan Sherly Tjoanda. Pernyataan ini sekaligus menjadi titik uji, apakah apresiasi tersebut akan berhenti sebagai retorika publik, atau justru berkembang menjadi kebijakan nyata yang berkelanjutan, terukur, dan benar-benar membuka jalan bagi lahirnya lebih banyak prestasi global dari Malut.

Keberhasilan dua pelajar Malut ini tidak semestinya dipersempit sebagai kisah heroik personal yang hanya berfungsi menghangatkan emosi publik dalam satu siklus pemberitaan. Capaian tersebut perlu dibaca secara lebih mendalam sebagai cermin objektif bagi kondisi sistem pendidikan Malut, untuk menilai apakah prestasi ini merupakan hasil dari kebijakan yang kokoh, terencana, dan berkelanjutan, atau justru lahir dari kerja keras individu yang harus menembus keterbatasan sistem pendidikan yang hingga kini belum sepenuhnya merata dan berkeadilan di seluruh wilayah Malut.

Rilis tertulis Dikbud Malut yang diterima WARTASOFIFI.ID pada Jumat, 19 Desember 2025, memuat pernyataan Gubernur Malut Sherly Tjoanda yang menyampaikan rasa bangga dan kebahagiaannya atas keberhasilan dua pelajar tersebut mewakili Indonesia di ajang akademik tingkat internasional. Pernyataan ini penting dicatat bukan hanya sebagai ekspresi apresiasi, tetapi sebagai indikasi awal bahwa Pemprov Malut mulai secara terbuka mengakui nilai strategis pendidikan sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia Malut ke depan.
Namun, pengakuan semacam itu tidak boleh berhenti pada tataran wacana dan pernyataan publik semata. Prestasi pendidikan menuntut keberlanjutan kebijakan, konsistensi arah perencanaan, serta keberanian melakukan pembenahan struktural yang menyentuh akar persoalan, bukan sekadar ekspresi simbolik yang hidup di satu momentum lalu menghilang ketika perhatian publik bergeser ke isu lain.
Pernyataan Kepala Dikbud Malut Abubakar Abdullah, yang mengutip langsung ungkapan Gubernur Sherly bahwa keberhasilan ini bukan hanya prestasi individu melainkan juga prestasi daerah, seharusnya dimaknai sebagai ikrar tanggung jawab kolektif. Jika prestasi tersebut diakui sebagai prestasi daerah, maka menjadi kewajiban Sherly Tjoanda untuk memastikan bahwa keberhasilan serupa tidak lagi bergantung pada keberuntungan dan kerja keras segelintir pelajar, melainkan lahir dari sistem pendidikan yang adil, terbuka, dan konsisten melahirkan prestasi kelas dunia.
“Ibu Gubernur merasa sangat bangga dan bahagia karena akhirnya ada pelajar dari Malut yang mampu mewakili Indonesia di ajang akademik tingkat internasional. Ini bukan hanya prestasi individu, tetapi juga prestasi daerah,” kata Aka, sapaan akrab Kadikbud Malut itu, bukan sekadar figur birokrat. Dia adalah simbol kapasitas kepemimpinan teknokratis yang memahami bahwa keberhasilan suatu kebijakan bergantung pada kemampuan menavigasi kompleksitas administrasi, menggerakkan aparatur, dan menerjemahkan visi kepala daerah ke dalam program yang nyata, terukur, dan berkelanjutan.
Dua pelajar SMA Negeri 2 Kota Ternate, Andini Putri Faruk dan Siti Maghfira Abdullah, membentangkan bendera Merah Putih di panggung utama ajang International Youth Robot Competition (IYRC) 2025 di Tiongkok, beserta peserta dari berbagai negara. (Ist)
Keterangan ini menegaskan bahwa keberhasilan Magfira dan Andini tidak sekadar prestasi individu, melainkan capaian kolektif yang lahir dari pertemuan kerja keras siswa, dedikasi guru, dukungan sekolah, serta keterbukaan Pemprov Malut dalam menyediakan ruang pembinaan. Capaian ini bukan hanya momen kebanggaan, tetapi juga titik awal bagi penguatan pendidikan berbasis sains dan teknologi di Malut, menunjukkan bahwa daerah mulai memiliki fondasi untuk melangkah lebih jauh dalam kompetisi akademik tingkat tinggi.
Menurut Aka, prestasi ini menumbuhkan optimisme yang serius bahwa pelajar Malut benar-benar memiliki kapasitas untuk bersaing di level global. Namun optimisme semata tidak cukup. Keberhasilan ini seharusnya menjadi panggilan nyata bagi Pemprov Malut untuk menegaskan komitmen pada kebijakan pendidikan yang berkelanjutan, memastikan bahwa generasi berikutnya tidak hanya mengulang prestasi, tetapi juga melampaui batas yang selama ini dianggap mustahil.
“Prestasi ini menumbuhkan optimisme bahwa pelajar Malut memiliki kemampuan untuk bersaing di tingkat global,” ujar Aka. Ucapan ini tidak sekadar ungkapan kebanggaan, tetapi menjadi pengingat penting bahwa potensi generasi Malut harus terus dibangun melalui sistem pendidikan yang konsisten, dukungan berkelanjutan, dan kebijakan yang nyata. Keberhasilan individu seperti ini seharusnya menjadi momentum bagi Pemprov Malut untuk menegaskan komitmen pada pembinaan talenta lokal agar mampu bersaing secara konsisten di kancah internasional, bukan hanya sebagai fenomena sesaat.
Gubernur Sherly Tjoanda kerap menekankan dalam kunjungannya ke berbagai SMA dan SMK di Malut bahwa anak-anak Malut memiliki kecerdasan luar biasa dan potensi besar, seperti dikutip oleh Aka.“Tugas kita adalah memberi ruang, pembinaan, dan dukungan yang berkelanjutan,” tegasnya, menegaskan bahwa prestasi tidak muncul dari kebetulan, melainkan dari sistem yang memberi kesempatan untuk berkembang.
Rangkaian pernyataan ini memperlihatkan kerangka pikir yang menempatkan pendidikan sebagai instrumen strategis pembangunan daerah. Pendidikan tidak lagi dipandang sebagai sektor pelengkap, melainkan sebagai fondasi utama yang menentukan daya saing Malut di tingkat nasional maupun global.
Dalam konteks kepemimpinan Sherly Tjoanda, penekanan pada sains, teknologi, dan inovasi menunjukkan kesadaran bahwa masa depan daerah bergantung sepenuhnya pada kualitas sumber daya manusianya, dan bahwa keberhasilan Malut menembus kompetisi global harus dibangun dari fondasi yang kuat dan berkelanjutan.
Visi kebijakan pendidikan yang digariskan Pemprov Malut memang ambisius, namun ia menuntut konsistensi dalam implementasi. Pendidikan tidak dapat dikelola dengan pendekatan jangka pendek atau sekadar kebijakan populis yang mudah bergeser mengikuti dinamika politik. Di sinilah peran Kadikbud Aka menjadi sangat krusial. Ia menempati posisi strategis untuk menerjemahkan visi kepala daerah ke dalam program yang sistematis, terukur, dan berkelanjutan.
Penguatan kapasitas guru, pembinaan siswa secara berjenjang, serta dorongan agar sekolah aktif berpartisipasi dalam kompetisi akademik merupakan strategi yang harus diperluas dan diperkuat secara institusional, agar prestasi tidak berhenti pada satu atau dua sekolah unggulan. Kendati SMA Negeri 2 Ternate menunjukkan hasil gemilang, capaian ini juga menyingkap tantangan struktural pendidikan daerah. Keberhasilan ini belum tentu mencerminkan pemerataan kualitas pendidikan di seluruh Malut. Tantangan terbesar pendidikan Malut adalah membangun sistem yang mampu melahirkan prestasi secara konsisten dan merata, bukan sekadar mengandalkan inisiatif sekolah tertentu atau guru berdedikasi luar biasa.
Pendidikan tidak boleh terus bergantung pada faktor kebetulan. Pemerintah, dalam hal ini Pemprov Malut, harus hadir melalui kebijakan proaktif, alokasi anggaran yang memadai, serta sistem pendampingan yang terencana dan berkelanjutan. Tanpa pembenahan struktural, prestasi internasional akan selalu tampil sebagai anomali yang memikat decak kagum, namun tidak cukup kuat untuk mengubah wajah pendidikan secara menyeluruh. Pemprov Malut dituntut menjadikan capaian ini sebagai pijakan evaluasi kebijakan. Rasa bangga harus diterjemahkan menjadi keberanian memperbaiki tata kelola pendidikan secara lebih serius dan terukur.
Sinergi antara Gubernur Sherly Tjoanda dan Kadikbud Aka akan diuji bukan oleh narasi, melainkan oleh konsistensi kebijakan dan keberlanjutan program setelah perhatian publik mereda. Publik berhak menuntut hasil yang lebih luas. Prestasi Magfira dan Andini seharusnya menjadi titik awal lahirnya ekosistem pendidikan yang mampu melahirkan banyak talenta serupa di seluruh Malut. Dari Ternate sebuah pesan penting mengemuka, anak-anak Malut mampu bersaing di panggung dunia. Kini tanggung jawab sepenuhnya berada pada sistem pendidikan daerah untuk memastikan bahwa pesan tersebut diwujudkan dalam kebijakan nyata dan perubahan yang berkelanjutan. (red)