Kemenpora Latih Mahasiswa Maluku Utara jadi Pengusaha

31
Deputi Bidang Pelayanan Kepemudaan Kemenpora, Yohan. Dok, WS/RD.

Deputi Bidang Pelayanan Kepemudaan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Yohan, menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah sangat penting untuk memperkuat peran pemuda di bidang kewirausahaan. Hal itu disampaikan Yohan kepada wartawan usai membuka kegiatan Pelatihan Kuliah Kewirausahaan Pemuda di Malut, yang digelar di Aula Penginapan Cendrawasih, Sofifi, Sabtu (8/11).

Kegiatan yang digagas oleh Kemenpora bersama Pemprov Malut tersebut mengusung tema “Dari Mahasiswa Menjadi Wirausaha: Sinergitas Kampus Entrepreneurship Menuju Generasi Mandiri, Kompetitif, Kreatif, dan Inovatif”. Sebanyak 200 mahasiswa Universitas Bumi Hijrah (Unibrah) Sofifi, Tidore, turut ambil bagian dalam pelatihan yang berfokus pada pembentukan karakter dan semangat kewirausahaan muda.

Yohan mengatakan, pelatihan ini merupakan bentuk nyata sinergi lintas sektor antara Kemenpora dan Pemprov Malut dalam membangun ekosistem kewirausahaan di kalangan generasi muda. Ia menilai, kerja sama semacam ini dibutuhkan agar isu kepemudaan tidak ditangani secara sektoral, melainkan secara terpadu.

“Kolaborasi ini penting untuk menjaga peran pemuda, karena isu kepemudaan adalah isu lintas sektor. Tidak mungkin hanya ditangani oleh satu instansi seperti Kemenpora saja. Di daerah pun perlu kolaborasi antara Dinas Pemuda dan Olahraga dengan OPD terkait,” ujar Yohan.

Selanjutnya, Yohan menjelaskan bahwa tantangan ekonomi saat ini menuntut peran aktif pemuda dalam menciptakan inovasi dan peluang kerja baru. Ia menekankan pentingnya perubahan pola pikir agar generasi muda tidak hanya bergantung pada lapangan kerja formal.

“Harapannya, para pemuda tidak lagi berpikir untuk mencari pekerjaan, tapi justru menjadi pelaku yang membuka lapangan pekerjaan,” tegasnya.

Selain pelatihan kewirausahaan, Yohan juga mengungkapkan bahwa Kemenpora saat ini tengah mengembangkan program pertukaran pemuda antarprovinsi sebagai upaya memperluas wawasan dan memperkuat karakter generasi muda di seluruh Indonesia.

“Kami punya program pertukaran pemuda antarprovinsi, di mana mereka saling bertukar pikiran dan melakukan aksi sosial di daerah lain. Ini bagian dari akselerasi membentuk karakter dan semangat kebangsaan,” jelas Yohan.

Menurutnya, program ini telah memberikan dampak positif bagi para peserta yang terlibat, terutama dalam hal memperkuat kepekaan sosial dan kemampuan beradaptasi di lingkungan baru. Ia menambahkan bahwa selain antarprovinsi, Kemenpora juga akan memperluas program ini ke tingkat internasional.

“Ada delapan negara yang kami targetkan, yakni Inggris, Jepang, Australia, Singapura, Arab Saudi, Kanada, Cina, dan Amerika Serikat. Mereka akan belajar, bertukar ide, dan membawa pulang pengalaman untuk diterapkan di Indonesia,” terang Yohan.

Yohan menilai, di era globalisasi, bentuk bela negara tidak lagi identik dengan angkat senjata, tetapi melalui gagasan, kreativitas, dan kemampuan yang bisa berkontribusi langsung bagi pembangunan bangsa.

“Pemuda Indonesia harus membela negaranya lewat ide dan kemampuan yang memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” tandasnya.

Sementara itu, Sekda Malut, Samsuddin Abdul Kadir, menyampaikan apresiasi dan rasa bangga atas kepercayaan Kemenpora yang memilih Sofifi sebagai tuan rumah kegiatan tersebut. Kata dia, keputusan itu merupakan bentuk penghargaan terhadap potensi besar generasi muda Malut.

“Kami berterima kasih karena dari sekian banyak daerah, Sofifi yang dipilih. Ini menjadi kebanggaan bagi Pemprov Malut dan kesempatan bagi kita untuk mendorong perubahan pola pikir mahasiswa,” kata Samsuddin.

Samsuddin menekankan bahwa salah satu tantangan besar dunia pendidikan saat ini adalah mindset mahasiswa yang masih berorientasi untuk menjadi pencari kerja, bukan pencipta lapangan kerja. Ia berharap kegiatan seperti ini dapat mendorong transformasi pemikiran di kalangan mahasiswa.

“Kalau semua berpikir ingin jadi pegawai negeri, sementara lapangan kerja terbatas, maka ketimpangan akan terjadi. Karena itu, melalui pelatihan ini kita dorong agar ada keseimbangan antara jumlah lulusan dan ketersediaan lapangan pekerjaan,” ujarnya.

Menurut Samsuddin, mahasiswa Unibrah memiliki keunggulan intelektual yang dapat menjadi modal kuat dalam menciptakan usaha baru. Dengan semangat kemandirian dan kreativitas, mereka bisa menjadi motor penggerak ekonomi lokal di Malut.

“Kita harap meski tidak semua, tapi setidaknya sebagian peserta bisa menciptakan usaha sendiri. Mereka punya potensi besar karena mahasiswa memiliki sumber daya pengetahuan yang memadai,” tambahnya.

Di sisi lain, Asisten Deputi Bina Kepemudaan Bidang Badan Usaha dan Swasta Kemenpora, Muhammad Adsan, selaku ketua panitia pelaksana, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari strategi nasional untuk menumbuhkan semangat wirausaha di kalangan pemuda daerah. Dia menilai, kegiatan ini juga berperan penting dalam mengukur pertumbuhan indeks pembangunan pemuda di tingkat regional.

“Pelatihan ini adalah kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Maluku Utara dan Kemenpora untuk membentuk mindset pemuda agar menjadi wirausahawan muda. Ini juga menjadi indikator dalam mengukur pertumbuhan indeks pembangunan pemuda kita,” ungkap Adsan.

Adsan menambahkan, pelatihan kewirausahaan ini tidak hanya menekankan teori bisnis, tetapi juga menggali minat dan potensi individu peserta agar mampu merancang ide usaha yang realistis dan berkelanjutan.

“Kami berharap pelatihan ini mampu menggali potensi mereka agar bisa membantu pembangunan ekonomi daerah. Ke depan kami ingin kegiatan seperti ini terus berlanjut dan diperluas jangkauannya,” tutupnya. (red)