Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda. WARTASOFIFI.ID/Rais Dero
Banjir yang melanda wilayah Halbar dan Halut pada awal Januari 2026 kembali menguji daya tanggap pemerintah daerah dalam merespons bencana hidrometeorologi yang kian sering terjadi di Malut. Dalam situasi darurat yang menuntut kecepatan dan ketepatan keputusan, Pemprov Malut memilih pendekatan aktif dengan langsung menurunkan tim reaksi cepat dan menggerakkan seluruh sumber daya yang tersedia.
Sejak sesaat setelah kejadian, Pemprov Malut memilih untuk bergerak cepat dengan menurunkan tim reaksi cepat ke lokasi bencana dan membangun koordinasi langsung dengan pemerintah kabupaten setempat, sebuah keputusan yang mencerminkan pemahaman bahwa kecepatan dan ketepatan respons menjadi kunci utama dalam melindungi masyarakat terdampak.
Langkah awal tersebut menegaskan bahwa orientasi kebijakan Pemprov Malut diletakkan pada prioritas utama, yakni penyelamatan jiwa serta pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak, sekaligus mencerminkan kesadaran bahwa dalam karakter wilayah kepulauan seperti Malut, kecepatan dan ketepatan distribusi bantuan menjadi faktor penentu untuk mencegah meluasnya dampak sosial dan memperpanjang penderitaan warga.
Untuk menjangkau wilayah terdampak banjir yang sulit diakses melalui jalur darat, Pemprov Malut mengerahkan KN SAR Pandudewanata 237 di bawah komando Kapten Sujono dengan dukungan armada kapal feri, sebuah keputusan yang tidak hanya merepresentasikan kehadiran pemerintah di tengah situasi darurat, tetapi juga menunjukkan langkah strategis dan terukur guna memastikan distribusi logistik berlangsung tepat waktu, efektif, dan menjawab kebutuhan mendesak masyarakat di daerah berciri geografis kepulauan tersebut.
Estimasi pelayaran dari Ternate menuju Halbar yang memakan waktu sekitar satu jam 40 menit menjadi pertimbangan krusial dalam perumusan strategi distribusi bantuan, karena ketepatan perhitungan waktu tersebut memungkinkan Pemprov Malut memastikan bahwa logistik dapat segera menjangkau masyarakat di Kecamatan Ibu dan wilayah terdampak lainnya tanpa penundaan yang berpotensi memperberat kondisi sosial warga.
Bantuan yang disalurkan merupakan hasil kolaborasi BPBD Provinsi Malut dan Dinas Sosial Provinsi Malut, sebuah sinergi antarlembaga yang tidak hanya memperlihatkan soliditas penanganan bencana, tetapi juga memastikan bahwa lebih dari lima ton beras beserta ratusan item kebutuhan dasar, baik pangan maupun non-pangan, dapat disiapkan dan didistribusikan secara terukur untuk menopang keberlangsungan hidup masyarakat pada tahap darurat.
Dalam konteks penanganan pascabencana ini, Gubernur Malut Sherly Tjoanda menegaskan bahwa respons pemerintah tidak boleh berjalan secara parsial atau sektoral, melainkan harus dibangun melalui koordinasi lintas sektor dan lintas wilayah yang solid, melibatkan pemerintah kabupaten di Halut dan Halbar, unsur TNI-Polri, Basarnas, Balai PU, operator telekomunikasi, pihak swasta, hingga jejaring relawan, agar proses pemulihan dapat berlangsung cepat, terarah, dan berkelanjutan bagi masyarakat terdampak.
“Kita berkoordinasi baik dengan Halut dan Halbar, TNI-Polri, Basarnas, Balai PU, operator telekomunikasi, pihak swasta serta segenap relawan untuk membantu pemulihan cepat,” tegasnya.
Sikap Gubernur Sherly tersebut menegaskan bahwa Pemprov Malut menempatkan kolaborasi sebagai fondasi utama dalam menghadapi bencana, sebuah pendekatan yang menunjukkan kesadaran bahwa kompleksitas penanganan tidak dapat ditangani oleh satu institusi secara tunggal. Dalam realitas lapangan, keterlibatan banyak pihak menjadi penentu keberhasilan respons darurat, terutama di wilayah dengan tantangan geografis tinggi, di mana akses, jarak, dan kondisi alam kerap memperlambat upaya penanganan apabila tidak dikelola secara terpadu.
Distribusi bantuan kemudian dilakukan secara spesifik dan terukur dengan menyesuaikan tingkat dampak di masing-masing wilayah terdampak. Di Halbar, bantuan difokuskan ke Kecamatan Ibu dan Loloda, sementara di Halut diarahkan ke Kecamatan Loloda Utara dan Kao, sebuah pendekatan yang mencerminkan upaya pemerintah untuk menghindari pola distribusi yang bersifat merata semu. Dengan berbasis pada kebutuhan riil di lapangan, kebijakan ini diharapkan mampu memastikan bahwa bantuan benar-benar menjangkau kelompok masyarakat yang paling terdampak.
Di luar aspek distribusi logistik, Pemprov Malut juga segera menginisiasi langkah pemulihan pascabencana dengan menaruh perhatian pada pemulihan infrastruktur dasar. Koordinasi dengan Balai Jalan dan Jembatan PUPR dilakukan untuk menangani tiga titik jembatan putus dan dua titik jalan tertimbun longsor di jalur Ibu-Loloda, yang selama ini menjadi urat nadi mobilitas masyarakat. Langkah ini menunjukkan bahwa pemulihan tidak hanya dipahami sebagai pemenuhan kebutuhan darurat, tetapi juga sebagai upaya menjaga keberlangsungan aktivitas sosial dan ekonomi warga terdampak.
Sementara itu, Dinas Kominfo Malut bergerak secara paralel dengan langkah penanganan darurat lainnya dengan menjalin komunikasi intensif bersama para operator telekomunikasi. Upaya ini difokuskan pada percepatan pemulihan jaringan yang sempat terganggu akibat bencana, mengingat keberlangsungan akses informasi dan kelancaran koordinasi lapangan menjadi elemen penting dalam mendukung distribusi bantuan serta pengambilan keputusan selama masa tanggap darurat.
Di sisi lain, Gubernur Malut bersama Balai PU telah melakukan pendalaman dan analisis awal terkait rencana perbaikan maupun rekonstruksi infrastruktur pada 6 Januari 2026 di Kantor Balai PU. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah provinsi tidak hanya berfokus pada penanganan darurat, tetapi juga mulai menyiapkan skema penanganan jangka menengah dan panjang, khususnya untuk memastikan infrastruktur vital yang terdampak dapat segera difungsikan kembali guna menunjang aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.
Sekda Malut, saat melepas bantuan logistik, menegaskan bahwa penanganan bencana tidak dapat dipahami sebagai langkah sesaat, melainkan sebagai rangkaian proses yang saling berkaitan dan membutuhkan kesinambungan kebijakan. Penanganan tersebut dilakukan secara bertahap, dimulai dari distribusi logistik untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak, dilanjutkan dengan upaya evakuasi dan penyelamatan guna memastikan keselamatan warga, hingga masuk pada tahap rekonstruksi perumahan dan infrastruktur sebagai fondasi pemulihan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat secara jangka panjang.
“Penanganan bencana dilakukan secara bertahap, mulai dari distribusi logistik, evakuasi dan penyelamatan, hingga rekonstruksi perumahan dan infrastruktur,” tegas Sekda.
Pendekatan bertahap dalam penanganan bencana banjir di Kecamatan Ibu patut dipandang sebagai indikator keseriusan pemerintah daerah dalam membaca persoalan secara lebih utuh dan berjangka panjang. Penanganan bencana tidak seharusnya berhenti pada distribusi bantuan darurat semata, karena kebutuhan masyarakat terdampak jauh melampaui urusan pangan dan logistik sesaat.
Pemulihan sosial dan ekonomi menjadi tahap penentu yang menentukan apakah warga mampu kembali bangkit atau justru terperangkap dalam siklus kerentanan baru. Di titik inilah konsistensi kebijakan, kesinambungan program, serta keberpihakan anggaran diuji apakah pemerintah daerah benar-benar hadir hingga tahap pemulihan, atau hanya muncul pada saat krisis berada di puncaknya.
Dalam konteks tersebut, peran Dinas Sosial Malut menjadi simpul penting yang tidak bisa dilepaskan dari efektivitas penanganan di lapangan. Kecepatan respons harus diimbangi dengan ketepatan sasaran agar bantuan tidak sekadar bergerak, tetapi benar-benar menyentuh warga yang paling membutuhkan. Koordinasi lintas sektor, validasi data penerima, serta transparansi distribusi menjadi tolak ukur kepercayaan publik terhadap pemerintah. Pernyataan Plt Kadis Sosial Malut, Zen Kasim, menegaskan bahwa respons birokrasi tidak berjalan sendiri, melainkan berada dalam garis komando langsung pimpinan daerah.
“Ibu Gubernur langsung menginstruksikan kami untuk bergerak cepat menangani warga terdampak banjir di Kecamatan Ibu dan sekitarnya,” kata Zen Kasim.
Instruksi Gubernur Sherly untuk bergerak cepat menunjukkan bahwa penanganan bencana membutuhkan pola kerja berbeda dari kondisi normal. Dalam situasi darurat, birokrasi yang kaku justru berpotensi memperlambat bantuan dan memperbesar penderitaan warga terdampak. Menjadikan kecepatan sebagai prioritas mencerminkan keberpihakan pada keselamatan dan kebutuhan dasar masyarakat, sebagaimana tercermin dalam langkah Dinas Sosial Malut di bawah koordinasi Zen Kasim, yang menempatkan respons lapangan sebagai fokus utama penanganan awal.
Di sisi lain, proses pendataan korban yang masih terus berlangsung menunjukkan bahwa penanganan bencana bersifat dinamis dan tidak bisa disandarkan pada data statis. Perubahan kondisi lapangan dan bertambahnya laporan warga membuat jumlah korban dan kerugian bersifat sementara. Situasi ini menuntut ketelitian sekaligus fleksibilitas kebijakan agar penyaluran bantuan tetap tepat sasaran dan mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat terdampak.
“Saat kejadian, kondisi lapangan masih dalam proses pendataan, sehingga jumlah korban dan kerugian masih bersifat sementara,” ujarnya.
Dalam menghadapi bencana, Pemprov Malut mengambil pendekatan yang menyeimbangkan antara kecepatan respons dan prinsip kehati-hatian. Keputusan untuk mengirim bantuan lebih dulu sembari melakukan validasi data secara paralel menunjukkan kesadaran bahwa kebutuhan warga terdampak tidak bisa menunggu, namun efektivitas penyaluran tetap harus dijaga.
Strategi ini, kata Zen Kasim, mencerminkan pemahaman bahwa bencana menuntut tindakan simultan: di satu sisi bantuan harus cepat sampai, di sisi lain distribusi harus akurat agar tidak menimbulkan ketimpangan atau pemborosan sumber daya. Langkah ini dikawal langsung oleh Zen Kasim, dengan menempatkan respons lapangan sebagai prioritas utama penanganan awal.
Selain itu, skema pengiriman bantuan dalam dua tahap yang dilaksanakan oleh Kementerian Sosial RI bekerja sama dengan Pemprov Malut melalui Dinas Sosial Malut memastikan suplai logistik tetap berjalan tanpa putus, meski kebutuhan di lapangan terus meningkat dan kondisi dinamis berubah. Kecepatan, koordinasi antarinstansi, dan pemahaman nyata terhadap kondisi masyarakat terdampak menjadi kunci agar setiap langkah benar-benar memberikan dampak positif, sekaligus menjaga kepercayaan warga terhadap pemerintah daerah.
“Dukungan penanganan berasal dari Kementerian Sosial dan Pemprov Malut melalui Dinas Sosial, dengan fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar warga,” jelas Zen.
Tahap pertama bantuan untuk warga terdampak, yang mencakup beras, tenda keluarga, family kit, mi instan, gula, teh celup, minyak goreng, susu kental manis, serta palet logistik, dikirim dari gudang Dinas Sosial Malut pada 8 Januari 2026 dengan tujuan memastikan kebutuhan dasar masyarakat dapat segera terpenuhi dan suplai logistik tidak terputus di tengah kondisi darurat.
“Seluruh bantuan tahap pertama ini dijadwalkan dikirim dari gudang Dinas Sosial Provinsi Malut pada Kamis, 8 Januari 2026,” kata Zen.
Untuk menutup kebutuhan paling mendesak warga terdampak, bantuan tahap kedua dikirim lebih awal dari Sentra Wasana Bahagia Ternate pada Rabu malam, 7 Januari 2026, mencakup berbagai kebutuhan pokok dan logistik penting, dengan tujuan memastikan warga yang terdampak bencana dapat segera memperoleh bantuan dasar sekaligus mengurangi tekanan pada masyarakat selama periode penanganan bencana.
“Bantuan dari Sentra Wasana Bahagia kami kirim lebih dulu agar kebutuhan mendesak warga bisa segera terpenuhi,” ungkapnya.
Zen Kasim menegaskan bahwa langkah cepat yang dilakukan oleh Pemprov Malut di bawah instruksi Gubernur Sherly tidak hanya mencerminkan kehadiran aparat di tengah masyarakat terdampak bencana, tetapi juga dirancang untuk memastikan seluruh warga yang membutuhkan tidak terabaikan, dengan fokus memberikan perlindungan, pemenuhan kebutuhan dasar, dan bantuan secara cepat, tepat, serta menyeluruh agar proses pemulihan sosial dan ekonomi masyarakat dapat segera dimulai.
“Ini adalah wujud komitmen pemerintah untuk memastikan masyarakat terdampak bencana mendapatkan perlindungan dan bantuan secara cepat dan tepat,” tegas Zen Kasim.
Zen menambahkan bahwa koordinasi lintas instansi akan terus dilakukan, melibatkan Dinas Sosial Halbar serta berbagai pihak terkait lainnya, dengan tujuan memastikan setiap langkah penanganan bencana berjalan optimal, kebutuhan dasar masyarakat terdampak terpenuhi secara menyeluruh, dan proses pemulihan sosial maupun ekonomi dapat berlangsung secara efektif hingga kondisi benar-benar kembali stabil.
“Kami terus berkoordinasi dengan Dinas Sosial Halbar dan pihak terkait lainnya untuk memastikan penanganan berjalan optimal,” jelasnya. (red)