
WARTASOFIFI.ID – Mimpi Gubernur Malut Sherly Tjoanda untuk menghadirkan pendidikan gratis berkualitas dan inklusif bagi anak-anak dari keluarga rentan di Malut akhirnya menjadi kenyataan. Pada Senin 14 Juli Sekolah Rakyat (SR) resmi memulai aktivitasnya dengan menggelar masa orientasi siswa dan pemeriksaan kesehatan menyeluruh bagi 50 calon siswa di lokasi IPWL Akekolano Sofifi.
Meski Sekolah Rakyat merupakan program nasional Presiden Prabowo Subianto kehadirannya di Malut tidak lepas dari peran aktif dan lobi panjang Gubernur Sherly Tjoanda ke Kementerian Sosial RI.
Ia bahkan beberapa kali menyambangi langsung Kemensos di Jakarta untuk memastikan Malut tak tertinggal dari daerah lain.
Gubernur Sherly dinilai sebagai salah satu kepala daerah paling siap mengimplementasikan program ini.
Ia bahkan telah menyiapkan dua lahan untuk pembangunan Sekolah Rakyat satu di Halbar (di antara Desa Toniku dan Desa Tabadamai) dan satu lagi di Halut.
Masing-masing proyek pembangunan ini didanai Kemensos dengan anggaran Rp200 miliar, totalnya 400 miliar.
Meski capaian ini menuai pujian dari banyak pihak, Sherly Tjoanda tidak menanggapinya dengan gembira berlebihan. Bagi dirinya ini adalah bagian dari tanggung jawab moral sebagai pemimpin.
Ia memilih tampil sebagai seorang ibu yang tidak rela melihat anak-anak Malut putus sekolah hanya karena orang tuanya tidak mampu.
Program Sekolah Rakyat merupakan satu dari tiga program prioritas nasional Presiden Prabowo selain Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Merah Putih.
Di Malut program ini menjadi wujud nyata dari komitmen politik Gubernur Sherly yang sejak awal menolak melihat anak-anak miskin kehilangan masa depan karena ketimpangan pendidikan.
Mewakili Gubernur Malut, sekda Samsuddin Abdul Kadir hadir dalam pembukaan kegiatan orientasi siswa Sekolah Rakyat yang berlangsung di IPWL Akekolano, Sofifi.
Kehadirannya menjadi penanda penting bahwa Pemprov Malut serius mengawal langsung pelaksanaan program prioritas nasional ini yang diharapkan dapat menjadi solusi pendidikan bagi anak-anak dari keluarga rentan.
Di hadapan para orang tua dan calon siswa, sekda menegaskan bahwa Sekolah Rakyat adalah bukti nyata hadirnya negara dalam memastikan akses pendidikan yang merata dan bermutu.
Ia menyampaikan bahwa pemerintah melalui program ini tidak hanya memberikan fasilitas belajar, tetapi juga jaminan hidup dan pembinaan karakter bagi seluruh siswa.
“Bagaimana cara berterima kasih kepada negara yaitu dengan belajar sungguh-sungguh. Manfaatkan kesempatan ini untuk meraih cita-cita,” ujar sekda Samsuddin dalam sambutannya.
Usai menyampaikan pesan tersebut, sekda turut mengingatkan para siswa bahwa mereka adalah generasi penerus yang dipersiapkan tidak hanya untuk cerdas secara akademik, tetapi juga berintegritas dan siap membangun daerah.
Pemerintah berharap lulusan Sekolah Rakyat kelak akan menjadi motor perubahan sosial dan ekonomi di Malut.
Selain memberikan motivasi kepada para siswa, sekda Malut Samsuddin Abdul Kadir juga menyampaikan pesan khusus kepada para orang tua yang hadir.
Ia menekankan bahwa program Sekolah Rakyat bukan hanya menyediakan pendidikan gratis, tetapi juga membentuk lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan terarah bagi anak-anak.
Sekda menyadari bahwa menitipkan anak di lingkungan asrama bisa menjadi kekhawatiran tersendiri bagi sebagian orang tua.
Namun, ia memastikan bahwa pemerintah telah menyiapkan seluruh fasilitas pendukung untuk menjamin kesejahteraan dan perkembangan siswa selama masa belajar.
“Untuk para orang tua tidak perlu khawatir. Keunggulan Sekolah Rakyat terletak pada fasilitas yang disiapkan secara gratis oleh pemerintah termasuk infrastruktur berbasis teknologi informasi,” jelas sekprov.
Ia menambahkan bahwa konsep berbasis asrama yang diterapkan di Sekolah Rakyat dirancang agar siswa mendapatkan pembinaan menyeluruh, baik akademik maupun karakter.
Tidak hanya guru yang terlibat dalam proses belajar, tetapi juga wali asuh yang bertugas seperti orang tua di sekolah.
Dengan fasilitas yang lengkap dan dukungan penuh dari negara, Pemprov Malut berharap para orang tua memberikan kepercayaan penuh untuk menitipkan anak-anak mereka, karena di sinilah anak-anak dididik untuk menjadi generasi unggul masa depan Malut.
Pelaksanaan Sekolah Rakyat di Malut dibuka secara serentak di dua lokasi berbeda, masing-masing untuk jenjang pendidikan yang berbeda pula.
Program ini dirancang agar anak-anak dari keluarga rentan bisa mendapatkan akses pendidikan yang sesuai dengan tahap usia dan kebutuhan pembinaan mereka.
Kepala Sentra Wasana Bahagia, Osep Mulyani, menjelaskan bahwa pelaksanaan Sekolah Rakyat di Malut dibagi menjadi dua titik utama, yakni di Sentra Wasana Bahagia Ternate untuk jenjang SMP dan di IPWL Akekolano Sofifi untuk jenjang SMA. Total siswa yang diterima dalam gelombang pertama ini sebanyak 100 orang, terdiri dari 51 perempuan dan 49 laki-laki.
“SR ini gratis tanpa biaya dan ditanggung oleh negara. Mulai dari seragam, bahkan makan semua gratis,” tegas Osep.
Kepala Sentra Wasana Bahagia Osep Mulyani menegaskan bahwa konsep asrama dalam Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat tinggal, melainkan bagian penting dari proses pembentukan karakter dan kedisiplinan siswa.
Lingkungan asrama dirancang untuk membentuk pola hidup yang teratur serta memperkuat nilai-nilai tanggung jawab, kebersamaan, dan kemandirian.
Ia juga menambahkan bahwa sistem asrama menjadi kunci dalam pembentukan karakter siswa. “Siswa tidak hanya akan belajar dari guru tetapi juga mendapat pendampingan intensif dari wali asuh yang berperan seperti orang tua di sekolah,” ujarnya.
Sebagai simbol dimulainya kegiatan belajar, sekprov menyematkan kartu orientasi kepada dua calon siswa, Afri Kifli dan Islamish Amer, yang mewakili angkatan pertama Sekolah Rakyat IPWL Sofifi.
Penyematan kartu orientasi tersebut menjadi penanda bahwa siswa resmi memasuki proses pembelajaran dan pengasuhan di lingkungan Sekolah Rakyat.
Momen ini disambut antusias oleh para siswa dan orang tua yang menyaksikan langsung seremoni tersebut.
Pemprov Malut berharap bahwa dengan dimulainya program ini, seluruh siswa akan memperoleh pendidikan yang setara dan bermutu, serta tumbuh menjadi generasi muda yang sehat, cerdas, dan berakhlak mulia.
Pemerintah tidak hanya fokus pada aspek pendidikan dalam pelaksanaan Sekolah Rakyat, tetapi juga memastikan kondisi kesehatan para siswa sejak awal.
Langkah ini diambil untuk menjamin bahwa anak-anak yang diterima dalam program ini benar-benar siap mengikuti proses belajar-mengajar secara optimal.
Guna memastikan kesiapan siswa secara fisik dan mental, Puskesmas Galala melakukan pemeriksaan kesehatan komprehensif. Kepala Puskesmas, Rosmini Abdul Kadir, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dikhususkan untuk mendukung keberhasilan Sekolah Rakyat.
“Kita melakukan CKG atau kesehatan gratis di Sekolah Rakyat. Ini sebenarnya berlangsung di semua sekolah tapi pemeriksaannya itu meliputi pemeriksaan personal hygiene atau kesehatan diri. Mulai diperiksa dari kepala hingga kaki itu diperiksa satu-satu,” ujar Rosmini.
Selain pemeriksaan kebersihan diri, tim medis juga melakukan pemantauan terhadap tumbuh kembang siswa seperti berat badan dan tinggi badan.
Hasil pemeriksaan tersebut akan menjadi data awal bagi sekolah dan tenaga medis untuk memantau perkembangan kesehatan anak-anak secara berkala.
Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan Puskesmas Galala tidak hanya fokus pada kebersihan diri siswa, tetapi juga mencakup aspek fisik lainnya yang berkaitan langsung dengan kondisi tumbuh kembang anak.
Setiap siswa menjalani pemeriksaan secara menyeluruh untuk memastikan bahwa mereka berada dalam kondisi yang sehat dan layak mengikuti proses belajar.
Langkah ini penting mengingat Sekolah Rakyat mengadopsi sistem asrama, sehingga kesehatan menjadi faktor utama dalam mendukung kehidupan sehari-hari siswa.
Tim medis memastikan bahwa setiap siswa dipantau sejak awal agar jika ditemukan masalah kesehatan, penanganan bisa dilakukan sedini mungkin.
“Jadi itu ditimbang berat badannya. Kalau berat badan lebih diturunkan berat badannya. Kalau berat badannya turun harus ditingkatkan,” katanya.
Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan oleh tim medis dari Puskesmas Galala mencakup berbagai aspek penting guna memastikan kesiapan siswa secara menyeluruh sebelum mengikuti proses pembelajaran di Sekolah Rakyat.
Tidak hanya pemeriksaan umum, namun juga pemeriksaan yang lebih spesifik dilakukan terhadap kondisi fisik anak.
Rosmini menambahkan bahwa hasil dari seluruh pemeriksaan tersebut akan menjadi acuan awal bagi pihak sekolah untuk terus memantau kondisi kesehatan siswa selama mereka tinggal dan belajar di lingkungan asrama.
“Kita juga memeriksa indra termasuk pemeriksaan fungsional telinga, mata, dan pengisapan lidah,” jelasnya.
Sebagai bentuk kewaspadaan terhadap potensi gangguan kesehatan yang lebih serius, tim medis juga menyiapkan langkah lanjutan apabila ditemukan indikasi yang membutuhkan penanganan lebih mendalam.
Pemeriksaan lanjutan ini bertujuan agar siswa yang mengalami gangguan bisa segera mendapatkan perawatan.
Jika ditemukan adanya gejala atau keluhan, siswa akan langsung dirujuk ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan lanjutan secara gratis melalui program CKG tahap dua.
“Mereka akan melalui CKG tahap dua, pemeriksaan gratis di rumah sakit. Kemudian ada pemeriksaan gigi, mulut, dan imun,” tambahnya.
Pemeriksaan yang dilakukan di Sekolah Rakyat tidak hanya mencakup kondisi fisik luar, tetapi juga menyentuh aspek kesehatan mental siswa.
Hal ini dilakukan untuk memastikan kesiapan psikologis anak-anak dalam mengikuti kehidupan berasrama dan proses belajar yang intensif.
“Ada lagi pemeriksaan jiwa. Jadi jiwa juga diperiksa. Di sini juga kita screening mereka punya kejiwaan,” ungkap Rosmini.
Selain kejiwaan, tim medis juga memeriksa fungsi organ dalam, termasuk jantung dan paru-paru, serta penyakit genetik seperti talasemia yang umum terjadi di sejumlah wilayah.
“Talasemia itu penyakit kelainan darah. Jangan sampai anak-anak mudah pusing, lemah, dan butuh donor darah dan lain-lain. Itu juga ada pemeriksaannya di sini hari ini,” jelas Rosmini.
Meski demikian, pemeriksaan menyeluruh terhadap talasemia masih terbatas karena alat khusus untuk deteksi belum tiba di Malut. Tim medis sementara hanya bisa melakukan deteksi awal dan menunggu alat dari kementerian.
“Biasanya kita screening saja. Kalau dicurigai baru dirujuk ke rumah sakit. Tapi sampai saat ini pihak kementerian itu sudah menyiapkan alat dan belum didistribusi sampai ke Malut. Mungkin sehari dua sudah tiba,” katanya.
Sementara itu, sebagian pemeriksaan belum dapat dilakukan karena keterbatasan lokasi yang masih digunakan untuk kegiatan lain. Salah satunya adalah pemeriksaan kesehatan olahraga yang memerlukan ruang terbuka.
“Kesehatan olahraga belum bisa kita laksanakan hari ini karena lokasi utama untuk olahraga masih dipakai untuk kegiatan. Jadi besok baru bisa,” jelas Rosmini.
Meski tertunda, tim medis tetap akan melanjutkan pemeriksaan jantung dan paru-paru saat siswa melakukan aktivitas fisik sebagai bagian dari deteksi awal kebugaran dan daya tahan tubuh mereka.
“Kita juga cek paru-parunya, kekuatannya sampai di mana pada saat olahraga. Di situ bisa tahu massa ototnya dia, jantungnya kuat atau tidak pada saat olahraga,” jelasnya.
Untuk menunjang seluruh rangkaian pemeriksaan ini, tim dari Puskesmas Galala menurunkan tenaga kesehatan yang berkompeten, termasuk dokter spesialis dan perawat terlatih secara khusus sesuai kebutuhan medis anak-anak.
“Kita turunkan dua dokter, satu dokter umum dan satu dokter gigi. Kemudian yang lainnya ada perawat, namun perawat yang dengan jurusan tertentu, misalnya yang sudah dilatih khusus matang,” tutup Rosmini. (red)




