
WARTASOFIFI.ID – Gubernur Malut, Sherly Tjoanda, kembali menunjukkan bagaimana seorang kepala daerah bisa memanfaatkan media sosial sebagai alat diplomasi kultural yang efektif. Melalui unggahan akun TikTok pribadinya @sherlytjoanda, ia tidak hanya membagikan pengalaman pribadi, tetapi juga mengangkat wajah pariwisata yang jarang tersorot.
Kali ini, ia memperkenalkan Air Tawa, sebuah fenomena geotermal langka di pesisir Bacan Timur, Halsel, yakni air panas alami yang muncul tepat di bibir laut.
Promosi seperti ini bukan hanya soal destinasi, tetapi juga strategi membangun kesadaran publik tentang kekayaan tersembunyi di wilayah timur Indonesia.
Dalam video singkat yang ia unggah, Sherly Tjoanda tidak hanya menampilkan dirinya berendam di laut, tetapi juga menghadirkan satu narasi visual yang kuat tentang potensi alam Malut yang belum banyak diketahui publik.
Uap hangat yang mengepul dari dasar laut itu bukan hasil rekayasa, melainkan bagian dari keajaiban geotermal yang nyata dan alami.
Kawasan Tawa pun tampil sebagai salah satu dari sedikit tempat di Indonesia yang menyajikan pengalaman spa alam terbuka, langsung di tepi laut.
“Pernah ngerasain sensasi berendam di air panas… tapi di LAUT? Bukan mimpi, ini nyata di Air Tawa – Halmahera Selatan!” ujarnya, dikutip dari akun TikTok @sherlytjoanda, Minggi (6/7).
Ungkapan polos ini bukan sekadar ajakan, tetapi juga bentuk promosi yang cerdas dan dekat dengan keseharian publik, diucapkan oleh pemimpin yang ingin daerahnya dikenal bukan karena angkanya, tetapi karena keasliannya.
Gaya komunikasi Sherly Tjoanda di media sosial bukan sekadar informatif, tetapi juga imajinatif. Ia tidak hanya menyebut nama tempat atau menyampaikan fakta, melainkan membawa publik ikut membayangkan dan merasakan pengalaman langsung.
Lewat bahasa yang luwes dan mudah dicerna, ia menjangkau khalayak digital secara efektif, terutama mereka yang haus akan nuansa alami dan apa adanya dalam berwisata.
“Satu spot tersembunyi yang jadi bukti, Indonesia itu se-epik itu. Nature therapy,” tambahnya.
Ungkapan yang tampak santai ini menyimpan makna yang lebih luas, yakni memperkenalkan potensi daerah dengan cara yang jujur, segar, dan terasa dekat bagi publik yang lebih terhubung lewat bahasa visual dan pengalaman batin.
Gubernur Malut, Sherly Tjoanda, kembali menunjukkan bahwa promosi daerah tidak harus selalu dibingkai dalam bahasa formal atau program seremonial.
Dalam kunjungannya ke Air Tawa, yang terletak di Bacan Timur, yang ia dokumentasikan lewat unggahan media sosial, Sherly menyulap momen personal menjadi pesan kolektif yang menggugah perhatian publik secara luas.
“Begitu kaki nyentuh air, hangatnya langsung terasa. Lautnya tenang, uapnya naik pelan, dan vibes-nya?” terangnya.
Ungkapan tersebut bukan hanya menggambarkan keindahan lokasi, tetapi juga menampilkan Air Tawa sebagai “permata tersembunyi” yang belum banyak dikenal publik.
Pilihan kata “nature therapy” mempertegas bahwa kawasan ini bukan sekadar pantai, tetapi ruang relaksasi alami yang menawarkan pengalaman menyatu dengan alam dalam nuansa yang utuh dan menenangkan.
Tak hanya menampilkan gambar bergerak. Sherly turut membagikan pengalaman fisik dan menggugah hati saat pertama kali menyentuh air laut yang hangat, lengkap dengan suasana tenang dan uap tipis yang muncul dari dasar laut.
“Healing banget. Kita nggak cuma datang, tapi juga nyemplung! Rasanya kayak spa alami di tengah alam bebas,” sambungnya.
Pilihan kata-kata seperti “healing” dan “spa alami” bukan tanpa tujuan. Di situ tampak kepekaan Sherly terhadap bahasa digital yang lekat dengan netizen masa kini, bahasa yang sederhana, relevan, dan mudah terhubung dengan khalayak luas.
Ungkapan-ungkapan yang disampaikan Sherly Tjoanda tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi perjalanan, tetapi membentuk gambaran makna yang lebih dalam bahwa seorang pemimpin tak seharusnya berdiri dalam peran seremonial belaka, melainkan hadir langsung dalam denyut kehidupan wilayah yang dipimpinnya.
Dalam kunjungannya ke Air Tawa, Sherly tidak hanya menyapa dari tepi pantai atau mengabadikan momen untuk konsumsi publik, tetapi benar-benar menyelami, menikmati, dan memaknai interaksinya dengan alam sebagai bagian dari perkenalan yang jujur terhadap identitas daerah.
Sikap semacam ini jarang ditemukan dalam protokol birokrasi, namun justru menjadi kekuatan dalam membangun kedekatan yang tulus dan menyatu antara pemimpin, tempat, dan masyarakatnya.
“Sambil duduk di pinggiran batu, ngeliat laut biru di depan mata dan ngerasa hangat dari bawah, nggak ada yang lebih epic dari momen itu. No filter needed!” tandasnya.
Di bagian akhir unggahannya, Sherly Tjoanda menegaskan satu hal penting bahwa kekuatan keindahan alam tidak selalu bergantung pada rekayasa visual atau estetika digital. Air Tawa tidak membutuhkan filter, karena lanskapnya telah berbicara dengan sendirinya.
Alam Malut tampil apa adanya, dan justru di sanalah letak daya pikatnya. Pesan ini menjadi pengingat yang tersirat bahwa promosi wisata Malut tidak harus dibungkus gemerlap buatan, cukup ditampilkan dengan jujur dan setia pada kenyataan.
Respons publik terhadap unggahan Gubernur Sherly Tjoanda soal potensi wisata geotermal di Air Tawa tidak hanya menunjukkan daya tarik visual tempat tersebut, tetapi juga menyingkap persoalan lama yang masih menjadi ganjalan pariwisata di daerah kepulauan, bahwa mahalnya akses transportasi udara.
Ratusan komentar netizen membanjiri unggahan itu, sebagian besar memuji keindahan alam Malut, namun tak sedikit pula yang menyuarakan keluhan mengenai harga tiket pesawat yang dinilai tidak ramah kantong.
Salah satunya dari akun @TWICE4LIFE yang menulis, “Bu, buat kebijakan utk liburan ke Malut lebih murah biar kami bs berwisata ke sana..” mencerminkan aspirasi yang nyata dari publik.
Di balik kalimat sederhana itu tersimpan dorongan kuat agar akses menuju Malut tidak hanya menjadi mimpi mahal bagi banyak warga.
Semangat untuk menjelajahi kekayaan alam provinsi ini tampak tinggi, namun masih terhambat oleh realitas ongkos perjalanan yang belum berpihak pada pelancong domestik.
Nada serupa juga muncul dari akun @kamumautau “Semoga tiket domestik bisa lebih super duper terjangkau buat WNI aslii, soalnya Indonesia tuh alamnya sumpah bagus-bagus bangetttte” menyiratkan lebih dari sekadar keluhan.
Gaya bahasanya yang santai menyimpan pesan serius bahwa pesona alam Indonesia seharusnya menjadi hak bersama, bukan kemewahan yang hanya bisa diakses oleh segelintir.
Ucapan ini menyodorkan pengingat yang jelas akan pentingnya pemerataan akses wisata dalam negeri melalui kebijakan transportasi yang lebih terjangkau dan merata.
Dalam komentar lain, akun @mey.ns83 yang menulis “Andai tiket pesawat ke sana 300 ribu…” tampak singkat dan sederhana, namun sesungguhnya memuat harapan besar yang sangat relevan.
Ungkapan itu mencerminkan keinginan agar wisata dalam negeri dapat diakses oleh lebih banyak orang, bukan hanya menjadi ruang liburan bagi mereka yang mampu.
Di balik keluguan kalimat tersebut, tersimpan aspirasi untuk menjadikan pariwisata domestik lebih adil, merata, dan menjangkau semua lapisan masyarakat.
Di tengah kritik dan aspirasi soal aksesibilitas wisata, sejumlah komentar justru muncul dalam balutan kelakar dan pujian terhadap sosok Gubernur Sherly Tjoanda. Akun @sendydf menulis, “Wisata di Tawa seperti namanya, Ibu buat orang bisa tertawa yaaa… Ibu terbaik sih, ibuu.” Sebuah komentar ringan yang memperlihatkan kedekatan emosional netizen terhadap figur pemimpin mereka.
Sementara itu, akun @Mom’s Daulasi menyampaikan sanjungan bernuansa personal, “Maluku Utara memang sungguh indah… ditambah lagi pemimpin yang cantik… pintar, cerdas… sungguh tidak ada yang bisa bantah lagi… sehat selalu Ibu Gub Sherly Laos…”
Pujian semacam ini menegaskan bahwa di ruang digital, sosok pemimpin tidak hanya dinilai lewat kebijakan, tetapi juga lewat kehadiran personal yang menyentuh sisi kemanusiaan.
Beragam respons atas unggahan Gubernur Sherly Tjoanda membuktikan bahwa kehadiran pejabat publik di ruang digital tak lagi sekadar strategi pencitraan.
Ketika disampaikan dengan pendekatan personal dan visual yang otentik, media sosial justru bertransformasi menjadi jembatan komunikasi yang hidup antara pemimpin dan rakyat.
Komentar-komentar yang bermunculan, dari pujian hingga kritik, menggambarkan dinamika keterlibatan publik yang aktif. Inilah wajah baru relasi kekuasaan di era digital yang lebih terbuka, dua arah, dan bersentuhan langsung dengan denyut aspirasi masyarakat.
Gubernur Malut, Sherly Tjoanda, telah membuktikan bahwa kepemimpinan di era digital menuntut lebih dari sekadar seruan formal atau aktivitas protokoler.
Lewat pemanfaatan media sosial, khususnya akun TikTok pribadinya, Sherly hadir sebagai figur publik yang tidak hanya menyampaikan kebijakan, tetapi juga membangun komunikasi dua arah dengan masyarakat secara langsung tanpa perantara birokrasi.
Strategi komunikasi semacam ini tidak bisa dianggap remeh. Di tangan Sherly, media sosial menjadi alat promosi daerah yang luwes, personal, dan berdampak.
Video-video eksploratif seperti kunjungannya ke Air Tawa bukan sekadar konten hiburan, melainkan kampanye visual yang efektif untuk membangkitkan rasa ingin tahu publik terhadap kekayaan alam Malut.
Dengan gaya penyampaian yang santai namun informatif, Sherly menawarkan wajah lain dari promosi wisata yang lebih hidup dan jauh dari kesan kaku yang kerap melekat pada iklan konvensional.
Ironisnya, promosi yang sukses justru membuka celah ketimpangan. Ketika destinasi yang dipromosikan viral namun tidak mudah dijangkau, muncul jurang antara citra dan realitas. Publik tidak hanya ingin tahu mereka ingin pergi dan untuk itu mereka menuntut solusi konkret.
Kunjungan Sherly ke Air Tawa pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar aktivitas promosi. Ia memperlihatkan bahwa Malut tidak kekurangan potensi wisata yang menjadi tantangan sesungguhnya adalah aksesibilitas dan konektivitas.
Keindahan yang terekam dalam video hanyalah satu bagian dari cerita sisanya adalah kerja panjang membenahi kebijakan transportasi, infrastruktur, dan dukungan antar-lembaga.
Bila momentum digital ini mampu diimbangi dengan langkah konkret di darat maka Tawa dan destinasi serupa punya peluang besar untuk tidak sekadar tampil di layar tetapi hadir di peta wisata nasional secara nyata.
Di era media sosial, viralitas bisa menjadi awal dari transformasi. Tapi hanya kepemimpinan yang berpihak pada solusi yang bisa mengubah popularitas menjadi pemerataan manfaat.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari Gubernur Sherly Tjoanda maupun instansi terkait di Pemprov Malut mengenai tanggapan atas sejumlah keluhan publik terkait mahalnya harga tiket pesawat ke wilayah tersebut. (red)




