Bunda Sherly Sehari Bersama Anak Pramuka di Halbar, Ini 5 Potret Gubernur Malut Gunakan Seragam Pramuka

1719
Gubernur Sherly Tjoanda, tampil gagah mengenakan seragam Pramuka saat berjabat tangan dengan Ketua Kwarda Pramuka Malut, Muhammad Abusama, saat pelantikan jajaran Pengurus MABIDA dan LPK Gerakan Pramuka Malut masa bakti 2024-2029. (Foto: Biro Adpim Malut)

WARTASOFIFI.ID – Di tengah riuhnya arus zaman yang menggilas batas nilai dan identitas saat ini, sebuah momentum sederhana di Bella Hotel Ternate pada Rabu, 25 Juni 2025 lalu, menjelma menjadi titik balik nilai. Saat Gubernur Malut Sherly Tjoanda, dalam balutan seragam Pramuka, berdiri tegap menyaksikan pelantikan Pengurus Majelis Pembimbing Daerah (MABIDA) dan Lembaga Pemeriksa Keuangan (LPK) Kwarda Gerakan Pramuka Malut. Sherly hadir tidak untuk menggugurkan kewajiban, tetapi membawa pesan yang hidup dan menyentuh substansi.

Ini bukan hanya tentang pelantikan struktur organisasi. Ini tentang upaya menghidupkan kembali karakter kebangsaan. Dan Sherly melakukannya dengan cara yang tak banyak pemimpin daerah lain berani lakukan, ia hadir menyatu, ia berbicara jujur, dan ia bertindak nyata.

Kata sebagian orang, dalam sebuah era ketika simbol mudah diciptakan tapi makna kerap ditinggalkan, namun berbeda dengan Bunda Sherly, sapaan karib di kalangan pramuka, ia menunjukkan bahwa kepemimpinan tak harus berteriak keras untuk didengar, tetapi cukup dengan sikap tegap, kehadiran nyata, dan komitmen tanpa jeda.

Pelantikan tersebut bukan momen basa-basi. Sherly berdiri tegap, memperhatikan secara saksama proses penandatanganan berita acara pelantikan pengurus MABIDA dan LPK. Tak ada senyum berlebihan atau gerakan mencari kamera. Yang tampak adalah keteguhan, konsentrasi, dan ketulusan.

Sikap tubuh itu berbicara banyak, bahwa seorang pemimpin yang hadir di tengah organisasi sebesar Pramuka tidak hanya datang sebagai undangan, tetapi sebagai penjamin arah.

Postur tegap itu adalah pesan bahwa Pramuka harus kembali tegak di tengah rapuhnya moralitas generasi. Bahwa setiap janji pelantikan harus punya bobot dan arah.

Dalam balutan seragam Pramuka lengkap, Sherly memancarkan pesan yang tak tersurat tapi terasa kuat, bahwa Pramuka hidup kembali sebagai gerakan nilai, bukan sekadar organisasi seragam.

Melalui lima potret yang terabadikan selama acara pelantikan dan perannya sebagai penggerak Pesta Siaga, Sherly menunjukkan bagaimana seorang pemimpin dapat merangkul organisasi, anak-anak muda, dan akar budaya daerahnya. Kelima potret ini adalah refleksi nilai, bukan sekadar dokumentasi acara.

Inilah 5 potret Sherly Tjoanda dalam seragam Pramuka yang patut dicermati sebagai cerita kepemimpinan yang membumi:

Bukan Pidato Kosong, Tapi Penegasan Nilai yang Mulai Tergerus Zaman

Gubernur Sherly Tjoanda pada saat memberikan sambutan pada acara pelantikan MAPIDA dan LKP (Foto: Biro Adpim Malut)

Dalam sambutannya, Sherly tidak hanya menyambut Ketua Kwartir Nasional Komjen Pol (Purn) Drs. Budi Waseso yang hadir memimpin pelantikan, tetapi juga menyampaikan kegelisahan tentang lunturnya nilai-nilai kebangsaan di kalangan generasi muda.

“Saya sempat bertemu dengan Ibu Menteri P3A. Kalau ditanya, anak-anak sekarang siapa idolanya, yang muncul itu nama Korea dan nama Jepang semua. Diminta menyanyikan lagu kebangsaan saja sudah bingung. Cerita rakyat dan tokoh nasional pun sudah mulai dilupakan,” ungkapnya dengan nada prihatin.

Sherly berdiri tegap saat menyampaikan pidato tersebut, dengan gestur tubuh yang menunjukkan bahwa ia berbicara bukan sebagai pejabat, tetapi sebagai seorang ibu bangsa yang menyimpan kecemasan atas generasi penerus.

Berdiri di Antara Tanda Tangan, Tapi Menjaga Sebuah Janji Besar

Tegas dan berwibawa, Gubernur Sherly Tjoanda menyaksikan momen penting penandatanganan berita acara pelantikan MAPIDA dan LPK Gerakan Pramuka Malut. (Foto: Biro Adpim Malut)

Ketika berita acara pelantikan ditandatangani, Sherly tidak sekadar berdiri sebagai simbol. Ia menyaksikan dengan tatapan serius dan tubuh yang tegak, seolah mengatakan bahwa ia bertanggung jawab atas komitmen yang sedang disahkan.

“Saya dan Pak Wakil berkomitmen untuk mengembalikan nilai-nilai Pramuka menjadi bagian dari kehidupan di Maluku Utara, anak-anak terutama mulai dari level SD, SMP, dan SMA,” tegas Sherly.

Potret ini memperlihatkan keteladanan pemimpin yang tidak memberi instruksi dari jauh, tapi hadir dan mengawal langsung nilai yang ia perjuangkan.

Menjadi Bagian dari Barisan, Bukan Sekadar Pemegang Komando

Gubernur Sherly Tjoanda berdiri tegap dalam balutan seragam Pramuka, didampingi para pejabat teras Pemprov Malut pada momen pelantikan MAPIDA dan LPK Gerakan Pramuka Malut masa bakti 2024–2029. (Foto: Biro Adpim Malut)

Sherly berdiri tegap di depan, didampingi oleh Wakil Gubernur Sarbin Sehe dan pejabat teras Pemprov Malut di belakangnya. Formasi itu bukan hanya untuk foto, melainkan simbol bahwa gerakan ini adalah konsensus kolektif, bukan proyek personal.

“Pemerintah Provinsi Maluku Utara telah menyiapkan anggaran khusus untuk Pramuka di tahun 2025, dan kami berkomitmen bahwa ketua DPRD juga mendukung dan akan selalu ada anggaran untuk Pramuka lima tahun ke depan,” katanya.

Di Balik Setiap Kata Ikrar, Tersimpan Janji Kepemimpinan yang Tak Ringan

Gubernur Sherly Tjoanda saat membacakan naskah pelantikan di hadapan Ketua Kwarnas Budi Waseso dan seluruh peserta pelantikan MABIDA-LPK (Foto: Biro Adpim Malut)

Alih-alih menyerahkan kepada staf, Sherly sendiri yang membacakan naskah pelantikan. Dengan suara tenang namun tegas, ia mengikat janji organisasi kepada nilai-nilai Pancasila, dan menyuarakan arah kebijakan ke depan.

“Saya titipkan pesan kepada semuanya nanti pembahasan di Raker untuk memperkuat pembinaan berjenjang dari Gugus Depan hingga Kwarda, dengan program yang nyata, terukur, dan bisa dirasakan manfaatnya,” pesannya.

Potret ini menunjukkan sikap pemimpin yang tidak hanya hadir untuk difoto, tetapi menyuarakan ikatan moral di hadapan semua kader.

Simbol Awal yang Mengikat Komitmen, Bukan Hanya Tradisi Bisu

Gubernur Malut, Sherly Tjoanda, memukul gong sebagai tanda resmi dimulainya Rapat Kerja Daerah dan pelantikan pengurus MABIDA serta LPK Kwarda Gerakan Pramuka Malut masa bakti 2024–2029, di Ballroom Bella Hotel Ternate, Rabu (25/6). (Foto: Biro Adpim Malut)

Ketika Sherly memukul gong sebagai tanda dimulainya Rapat Kerja Daerah, sorotan kamera menangkap figur pemimpin yang tidak hanya meresmikan acara, tapi memulai sebuah babak baru.

“Mari kita mulai perjalanan lima tahun ke depan dengan semangat kolaborasi, bangun sinergi yang kuat, kembangkan inovasi kegiatan, lestarikan nilai-nilai luhur Pancasila dalam setiap langkah kita membangun generasi muda,” pungkasnya.

Kepemimpinan Sherly tidak berhenti di ruangan ballroom. Beberapa pekan setelah pelantikan, Ketua Kwarda Gerakan Pramuka Malut, Muhammad Abusama, mengungkapkan bahwa direncanakan Sherly akan ikut seharian bersama anak-anak Pramuka Siaga dalam kegiatan Pesta Siaga yang akan digelar di Halbar pada 22 Juli 2025 nanti, dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional, 23 Juli 2025.

“Program Kwartir Daerah Pramuka untuk tahun 2025 sudah kita susun. Untuk tingkat siaga, kegiatan utamanya adalah Pesta Siaga. Karena ini khusus anak-anak siaga, maka disebut Pesta Siaga,” jelas Abusama kepada wartawan di Sofifi, Jumat (4/7).

Berbeda dengan kegiatan Raimuna atau Jambore yang melibatkan perkemahan, kegiatan ini hanya dilakukan dari pagi hingga sore hari, tanpa menginap.

“Anak-anak siaga tidak bisa mengikuti kegiatan menginap. Mereka hanya beraktivitas dari pukul 08.00 pagi hingga 17.00 sore. Mereka masih berada di bawah pengawasan dan tanggung jawab orang tua,” katanya.

Abusama juga menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari arahan Gubernur Sherly Tjoanda, yang juga dikenal sebagai “Bunda Sherly” oleh kalangan anak-anak dan Pramuka. Gubernur ingin agar kegiatan Pramuka diintegrasikan dengan pelestarian budaya lokal.

Lebih penting lagi, kegiatan ini merupakan wujud dari gagasan Sherly dalam menyisipkan permainan tradisional sebagai medium pendidikan karakter.

“Kegiatan ini juga merupakan implementasi dari arahan Ibu Gubernur saat pelantikan lalu. Beliau ingin menghidupkan kembali permainan-permainan tradisional sebagai bagian dari upaya memperkaya kearifan lokal,” ujar Abusama.

Menurutnya, pendekatan lewat permainan tradisional sangat sesuai untuk anak-anak di jenjang usia siaga, yakni sekitar 6 hingga 12 tahun. Karakter dan nilai kebangsaan, katanya, lebih efektif disampaikan dalam bentuk yang menyenangkan.

“Permainan ini sangat cocok dimasukkan ke dalam kegiatan Pramuka, terutama di golongan siaga. Karena pembinaan karakter di usia dini, sekitar 6 sampai 12 tahun itu lebih efektif jika dimulai dengan pendekatan yang menyenangkan, seperti permainan,” lanjutnya.

Kegiatan ini akan difokuskan untuk anak-anak siaga dari Halbar sebagai bentuk prinsip keadilan wilayah. “Karena lokasi kegiatan di Halbar, maka pesertanya pun dari Halbar. Kami tidak mengundang peserta dari kabupaten/kota lain. Ini bagian dari prinsip pemerataan dan keadilan geografis,” tambahnya.

Ia juga menegaskan bahwa pemerataan pelaksanaan kegiatan menjadi perhatian utama Kwarda. Sebelumnya, kegiatan serupa sudah digelar di sejumlah daerah, dan tahun ini Halbar menjadi tuan rumah.

“Selama kepemimpinan saya, kegiatan serupa sudah pernah kita laksanakan di Halsel, Halut, dan Kota Tidore Kepulauan. Tahun ini Halbar menjadi tuan rumah, dan ke depan, kita akan lanjutkan di kabupaten/kota yang belum mendapatkan giliran,” tutup Abusama.

Potret demi potret yang ditampilkan Gubernur Sherly Tjoanda, saat berdiri tegap, saat menyuarakan keprihatinan, saat memukul gong, dan saat berkomitmen di hadapan publik adalah narasi tentang pemimpin yang tidak bersembunyi di balik meja rapat.

Ia hadir. Ia menyatu. Ia bergerak. Dan ketika kelak ia bermain bersama anak-anak siaga di Halbar, itu bukan sekadar kunjungan kerja. Itu adalah pengabdian nilai, sebuah janji untuk membentuk kembali karakter generasi Malut, bukan lewat kata-kata, tapi lewat teladan.

“Pramuka bukan hanya tentang berkemah, tetapi menghasilkan pribadi-pribadi yang berdampak dan berguna bagi masyarakat.” Sherly Tjoanda.