Empat Puluh Lima Tahun Prof Visser Merawat Budaya Sahu

96
Prof. Liontine E. Visser menyerahkan buku kepada Ketua Prodi Ilmu Sejarah FIB Unkhair Ternate, Jainul Yusup, sebagai simbol pertukaran pengetahuan dan kerja sama akademik. (Ist)
Kehadiran Prof Liontine E. Visser di Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Khairun Ternate menjadi peristiwa akademik yang memiliki makna lebih luas daripada sekadar agenda kuliah umum biasa. Di tengah masih terbatasnya perhatian terhadap riset kebudayaan lokal, kehadiran seorang Guru Besar Emeritus dari Wageningen University Belanda justru menegaskan bahwa Malut memiliki posisi strategis dalam peta kajian ilmiah internasional, khususnya dalam bidang kebudayaan dan sejarah masyarakat pedesaan.
Kuliah umum yang berlangsung pada Selasa (27/1) tersebut digelar di Aula Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun Ternate dan dihadiri oleh mahasiswa Ilmu Sejarah serta masyarakat umum yang memiliki ketertarikan terhadap isu kebudayaan Malut. Dengan mengangkat tema “Pengabdian untuk Penelitian Sahu dan Maluku Utara”, Prof Visser menghadirkan catatan panjang tentang arti pengabdian akademik yang dijalani secara konsisten, mendalam, dan berkelanjutan.
Sebagai Guru Besar Emeritus Wageningen University, Prof Liontine E. Visser tidak hanya dikenal sebagai akademisi internasional, tetapi juga sebagai figur yang menempatkan Malut, khususnya masyarakat Sahu, sebagai pusat risetnya selama lebih dari empat dekade. Pilihan akademik ini menunjukkan keberpihakan yang jarang ditemui, di mana riset tidak berhenti pada kepentingan publikasi semata, melainkan juga pada keberlanjutan pengetahuan dan hubungan sosial dengan komunitas yang diteliti.
Prof Visser bahkan kerap disebut sebagai legenda hidup dalam penelitian kebudayaan Sahu. Sejak pertama kali melakukan penelitian lapangan sekitar 45 tahun lalu, ia terus kembali, mencatat, mendokumentasikan, dan memahami perubahan sosial yang terjadi di tengah masyarakat Sahu, menjadikan risetnya sebagai salah satu dokumentasi paling komprehensif tentang komunitas tersebut di Malut.
Dalam pemaparannya, Prof Visser menegaskan bahwa Sahu merupakan “surga penelitian” yang menyimpan kekayaan budaya luar biasa. Ia melihat kehidupan masyarakat Sahu sebagai ruang belajar yang hidup, di mana praktik pertanian, bahasa, sistem kekerabatan, nilai adat, serta tradisi lisan saling terhubung dan membentuk identitas kolektif yang khas dan bernilai tinggi secara akademik.
Ketertarikan Prof Visser terhadap Sahu berakar dari minatnya pada budaya pertanian. Sebagai seorang anak perkotaan, ia justru menemukan daya tarik yang kuat pada kehidupan agraris dan sistem pertanian tradisional, yang kemudian membawanya pada penelitian mendalam mengenai sistem padi ladang serta pola hidup subsisten masyarakat pedesaan di Malut.
Selama puluhan tahun, Prof Visser tercatat telah melakukan perjalanan bolak-balik dari Belanda ke Malut dalam jumlah yang tidak terhitung. Perjalanan panjang ini bukan sekadar mobilitas akademik, melainkan bagian dari komitmennya untuk terus memperbarui data lapangan, menjaga kedekatan emosional dengan masyarakat setempat, serta memahami secara langsung dinamika sosial dan budaya yang terus berkembang.
Namun, seiring bertambahnya usia, Prof Visser mengakui bahwa ia tidak lagi mampu menjalani rutinitas perjalanan tahunan ke Malut. Meski demikian, keterbatasan fisik tersebut tidak menghentikan kontribusi intelektualnya, karena karya-karyanya terus hidup dan menjadi rujukan penting bagi mahasiswa, peneliti, dan akademisi yang menaruh perhatian pada kajian kebudayaan dan sejarah kawasan timur Indonesia.
Sebagai lulusan Leiden University, Prof Visser telah menghasilkan sejumlah karya kebudayaan yang menjadi fondasi penting dalam kajian masyarakat pedesaan yang tengah mengalami transisi dari tradisionalitas menuju modernisasi. Karya-karya tersebut kini dipandang sebagai monumen ilmu pengetahuan dalam bidang kebudayaan, sejarah, dan humaniora, khususnya dalam konteks Malut.
Beberapa karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, di antaranya Sejarah dan Kebudayaan Sahu serta Kain Adat Sahu yang diterbitkan dalam format bilingual Indonesia-Inggris.
Selain itu, karya Pantun Tradisional Ternate saat ini masih dalam proses pengerjaan dan diharapkan dapat segera melengkapi khazanah literatur kebudayaan Malut yang masih relatif terbatas.
Di luar karya berbahasa Indonesia, Prof Visser juga menulis dalam bahasa Inggris dan Belanda dengan cakupan wilayah penelitian yang lebih luas, termasuk kawasan Indonesia Timur seperti Papua.
Salah satu karyanya, Kenang-Kenangan Pangreh Praja Papua, diterbitkan oleh Gramedia dan menunjukkan konsistensinya dalam menelusuri sejarah serta dinamika sosial budaya masyarakat lokal.
Kontribusi Prof Visser terhadap pelestarian budaya juga tercermin dari perintisannya dalam penyusunan kamus bahasa daerah pertama di Malut melalui Kamus Sahu-Inggris. Upaya ini menegaskan pandangannya bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan pilar utama dalam menjaga identitas budaya serta keberlanjutan pengetahuan lokal dari generasi ke generasi.
Selain karya tulis, dokumentasi visual yang dihasilkan Prof Visser memiliki nilai historis yang tidak kalah penting. Foto-foto Malut periode 1970-1980-an yang ia abadikan merekam dinamika sosial dan budaya pada masa tersebut, dan pada 2024 serta 2025 dipamerkan kepada publik di Benteng Orange, Ternate, sebagai arsip visual yang bernilai tinggi.
Dalam bidang audio-visual, Prof Visser juga menjadi salah satu perintis film dokumenter Pesta Panen Adat Sahu bersama Sinta Jowersma. Film yang diproduksi di Leiden pada 1987 ini merekam secara detail praktik pertanian tradisional yang dahulu menjadi mata pencaharian utama masyarakat pedesaan Malut, khususnya dalam sistem padi ladang.
Melalui film dokumenter tersebut, masyarakat masa kini memperoleh pembanding audio-visual yang autentik mengenai sistem pertanian subsisten di masa lalu. Dokumenter ini kini dapat diakses secara luas dan gratis melalui kanal YouTube Wereldmuseum Leiden, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran sejarah dan kebudayaan lintas generasi.
Dalam kuliah umumnya, Prof Visser menyampaikan seluruh pengalaman riset dan refleksinya dengan bahasa Indonesia yang lancar, lugas, dan komunikatif. Hal ini memungkinkan mahasiswa Ilmu Sejarah serta masyarakat umum untuk memahami secara langsung kompleksitas kebudayaan Sahu dan Malut tanpa jarak bahasa maupun akademik.
Di akhir kuliah, Prof Visser menekankan bahwa keberlanjutan warisan budaya daerah sangat bergantung pada kesadaran dan keterlibatan aktif generasi muda, khususnya dalam upaya menjaga, merawat, serta mendokumentasikan nilai-nilai budaya yang masih tersisa, agar identitas masyarakat Malut tidak tergerus oleh perubahan zaman dan tetap hidup dalam ingatan kolektif generasi mendatang.
“Jika bukan kalian masyarakat Malut yang menjaganya, lalu siapa lagi yang merawat budaya ini,” ungkap Prof Liontine E. Visser di hadapan mahasiswa.
Sementara itu, Ketua Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun, Jainul Yusup, menjelaskan bahwa penyelenggaraan kuliah umum semacam ini merupakan agenda rutin yang dilaksanakan pada awal setiap semester sebagai bagian dari upaya akademik untuk memperluas wawasan, memperdalam pengalaman riset, serta memperkenalkan mahasiswa pada praktik penelitian yang dijalani secara serius dan berkelanjutan.
Jainul juga menekankan bahwa kehadiran Prof Visser, dengan rekam jejak penelitian selama lebih dari empat dekade di Sahu dan Malut, diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi bagi mahasiswa Ilmu Sejarah, tidak hanya dalam memperkaya pengetahuan, tetapi juga dalam menumbuhkan semangat ketekunan, kepekaan terhadap budaya lokal, serta tanggung jawab akademik dalam mengembangkan kajian sejarah dan kebudayaan daerah.
“Siapa sih tidak kenal dengan Prof Visser, guru besar Belanda itu sudah 45 tahun meneliti untuk Sahu dan Malut, semoga mahasiswa Ilmu Sejarah terinspirasi dengan pengalaman dan ilmu yang dibagikan,” tandas Jainul. (enal)