
SOFIFI – Tidak semua orang dipanggil dalam keadaan suci. Tidak semua diberi kehormatan mengembuskan napas terakhirnya di Tanah Haram, di tengah jutaan jamaah yang bertakbir dan bermunajat di bawah langit Makkah.
Tapi Amin Abdullah seorang muazin sederhana dari Kota Ternate, Maluku Utara, telah dipanggil pulang dalam keadaan berihram, di rumah Allah, dalam Ibadah Haji yang tak sempat rampung namun Insya Allah telah sempurna di mata Tuhan.
Berita duka itu datang dari Arab Saudi, disampaikan oleh Sri Haryanti Hatari, Asisten II Sekda Maluku Utara yang juga anggota Panitia Haji Daerah.
“Almarhum wafat Jumat pukul 18.05 waktu Arab Saudi, di Rumah Sakit National Hospital, Makkah,” tulisnya lewat pesan singkat, Sabtu (24/5).
Jenazahnya disalatkan di Masjidil Haram usai Subuh, lalu dimakamkan di kompleks pemakaman Soraya, Makkah. Nomor makam 242.
“Masya Allah… jannah,” tulis Sri, menyiratkan haru yang tak terucap.
Amin bukan siapa-siapa di mata dunia. Namun di Moya, Ternate, ia adalah suara yang membangunkan warga untuk sholat Subuh, suara yang mengajak menunaikan Dzuhur dan Ashar, dan suara yang senantiasa memanggil kepada Tuhan saat langit senja.
“Almarhum torang pe tetangga. Orang baik, sederhana. Setiap masuk waktu sholat, paitua yang azan,” kenang seorang tetangga dekatnya.
Dalam lima waktu sehari semalam, ia adalah penjaga waktu-waktu Tuhan. Ia tak pernah menolak tugasnya sebagai muazin, bahkan ketika tubuhnya mulai melemah oleh penyakit yang tak bisa disembuhkan, karena tumor paru stadium IV.
Meski vonis medis sudah jelas, semangatnya tidak padam. Amin tetap mendaftar berhaji. Ia dinyatakan layak berangkat, karena masih berada pada kategori fisik ECOG 1, yang masih mampu melakukan aktivitas ringan.
Dan ketika namanya tertera dalam daftar jamaah, ia tahu inilah panggilan tertinggi dalam hidupnya. Ia berangkat, membawa sakit dan harapan dalam satu napas.
Setibanya di Makkah, tubuhnya tak lagi kuat. Perjalanan panjang, suhu yang menyengat hingga 42°C, serta infeksi pneumonia yang datang mendadak, membuatnya melemah drastis.
“Beliau belum sempat kerjakan rukun. Baru tiba langsung dirujuk ke rumah sakit,” kata Sri Hatari.
Amin Abdullah wafat sebelum sempat wukuf di Arafah. Ia tak sempat melontar jumrah, tak sempat tawaf ifadah. Tapi Tuhan, barangkali, telah cukup melihat niatnya.
Karena dalam ibadah, niat adalah ruh dari amal. Dan ruh Amin Abdullah tetap hidup hingga akhir, menolak menyerah pada sakit, memilih menunaikan rukun kelima dengan langkah terakhirnya.
Berita wafatnya Amin Abdullah diterima dengan duka mendalam oleh Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Daerah (PPIHD) Maluku Utara. Ketua PPIHD, Kadri Laetje, menyampaikan duka yang mewakili ribuan warga Maluku Utara.
“Beliau wafat dalam keadaan mulia. Di Tanah Haram. Dalam ihram. Saat menunaikan panggilan suci. Kami sangat kehilangan,” ujar Kadri.
Duka ini bukan hanya milik keluarga Amin. Ini duka kolektif masyarakat Maluku Utara. Sosok sederhana yang pulang dalam kehormatan agung.
Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, telah menerima laporan resmi tentang wafatnya Amin. Pemerintah daerah menyampaikan belasungkawa, serta doa agar almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Allah.
Amin Abdullah tidak pulang ke rumahnya di Moya. Tapi ia sampai. Sampai ke tempat yang selama ini jadi arah sujudnya. Sampai ke titik paling suci yang bisa dicapai oleh manusia.
Ia pulang bukan ke kampung halaman, tapi ke kampung abadi, di tengah tanah tempat Nabi Muhammad SAW berpijak.
Ia tidak disambut keluarga, tapi disambut para malaikat. Ia tidak diiringi tabuhan tifa dan pelukan kerabat, tapi oleh doa jutaan manusia yang beribadah di Masjidil Haram saat jenazahnya dishalatkan.
Tidak semua kematian adalah akhir. Bagi Amin Abdullah, ini adalah awal yang baru, awal dari kehidupan tanpa rasa sakit, kehidupan yang kekal.
Suara azannya mungkin telah berhenti di masjid Moya, tapi panggilan suci itu kini bergaung di tempat yang lebih tinggi.
Di langit, mungkin, azannya masih menggema, di antara bintang dan di antara barisan doa. Karena bagi orang seperti Amin, akhir hidup bukan tragedi. Melainkan kemenangan.
Tim redaksi menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya Haji Amin Abdullah.
Kau tidak sempat menyelesaikan hajimu, tapi kau telah menuntaskan niat sucimu. Sebab dalam ibadah, niat adalah permulaan yang bernilai abadi. Dan di mata Tuhan, Insya Allah, niat yang tulus itu telah menjadi amal yang sempurna.
Perjalananmu terhenti di Tanah Suci, tempat yang menjadi dambaan setiap Muslim untuk menuntaskan rukun Islam kelima. Tapi mungkin, itulah sebaik-baiknya tempat perhentian. Di tanah penuh berkah, dalam keadaan berihram dan dalam langkah menuju Allah.
Selamat jalan, Haji Amin. Doa kami menyertaimu. Semoga Allah menerima seluruh amal ibadahmu dan menempatkanmu di sisi-Nya yang terbaik.
Amiiiiiiin.




