Di Weda, Kita Belajar Kembali Apa Arti Kata “Bersama”

674
Momen penyambutan Kadikbud Malut, Abubakar Abdullah dan rombongan, oleh Bupati dan Wakil Bupati Halteng sesaat setelah tiba di kantor bupati untuk agenda koordinasi bidang pendidikan, Selasa, 1 Juli 2025 (Foto: Istimewa)

WARTASOFIFI.ID – Langkah baru sedang dirintis di Malut. Gubernur Sherly Tjoanda tidak sekadar membangun jalan, jembatan, bangunan fisik, tetapi juga tengah menyusun jembatan kerja sama antarkewenangan, demi menciptakan masa depan pendidikan yang lebih berdaya dan merata.

Salah satu babak penting dari ikhtiar ini ditandai dengan kunjungan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadikbud) Malut, Abubakar Abdullah, ke Kantor Bupati Halteng, Weda, pada Selasa, 1 Juli 2025.

Kunjungan tersebut bukan sekadar acara resmi. Ia merupakan implementasi langsung dari arahan Gubernur Sherly Tjoanda, yang dikenal dengan pendekatannya yang kolaboratif dan berbasis lapangan untuk memperkuat kerja sama antara Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota, terutama dalam hal pengelolaan pendidikan menengah dan sekolah luar biasa yang menjadi kewenangan provinsi.

“Sekalipun kewenangan SLB, SMA, dan SMK ada di provinsi, namun para guru dan sekolah berada di wilayah kabupaten/kota. Maka sudah menjadi kewajiban kami untuk menyampaikan kondisi riil kepada kepala daerah setempat,” ujar Abubakar Abdullah dalam pernyataan tertulisnya, Rabu (2/7).

Menurut data yang disampaikan Kadikbud Abubakar, di Kabupaten Halteng terdapat 233 guru yang mengabdi di 23 sekolah, baik negeri maupun swasta, yang tersebar di tingkat SLB, SMA, dan SMK.

Data ini bukan sekadar angka statistik, melainkan representasi dari wajah pendidikan di daerah yang memiliki potensi luar biasa namun kerap terabaikan dalam prioritas pembangunan.

“Kondisi sebagian fasilitas pendidikan masih jauh dari ideal,” jelas Abubakar.

Mulai dari kekurangan ruang kelas, laboratorium yang belum memadai, hingga minimnya fasilitas pendukung pembelajaran seperti ruang guru dan akses digital yang merata.

Hal ini sejalan dengan evaluasi Pemprov Malut melalui program prioritas “Pendidikan Bermutu untuk Semua” yang digagas langsung oleh Gubernur Sherly.

Program ini menekankan tiga komponen utama, yakni revitalisasi sarana dan prasarana, peningkatan kompetensi tenaga pendidik, serta pemerataan kesejahteraan guru hingga ke pelosok.

Audiensi ini juga menjadi ruang strategis untuk membahas rencana kerja sama formal berupa nota kesepahaman (MoU) antara Pemprov Malut dan Pemkab Halteng dalam bidang pendidikan.

Kerja sama tersebut dirancang untuk menjembatani kendala koordinasi yang selama ini kerap muncul di wilayah abu-abu kewenangan, terutama dalam penanganan masalah pendidikan menengah dan kebutuhan logistik pendidikan yang bersifat lintas struktural.

“Sinergitas adalah kunci. Kita ingin memastikan bahwa guru-guru di daerah, termasuk di Halteng, mendapatkan perhatian dan dukungan penuh dalam menjalankan tugasnya,” tegas Abubakar.

Dengan kerja sama yang sedang dirintis ini, diharapkan terjadi percepatan alokasi sumber daya untuk perbaikan sekolah, pemenuhan fasilitas dasar belajar mengajar, serta perlindungan dan insentif bagi para guru, khususnya yang bertugas di wilayah terpencil dan sulit dijangkau.

Audiensi ini juga tidak berjalan satu arah. Bupati Halteng, Ikram Sangaji, didampingi Wakil Bupati, Ahlan Djumadil, menyatakan dukungan penuh terhadap visi pendidikan yang tengah dibawa Pemprov di bawah kepemimpinan Gubernur Sherly.

“Kami siap mendukung program Gubernur, terutama dalam hal penyediaan fasilitas penunjang pendidikan dan peningkatan kesejahteraan para guru,” ujar Bupati Ikram.

Penjelasan ini bukan sekadar basa-basi politik, tetapi mengandung muatan strategis yang berpotensi mengubah lanskap tata kelola pendidikan di Halteng dan bisa menjadi preseden baik bagi kabupaten lain di Malut.

Tahapan ini menjadi bagian dari peta besar reformasi birokrasi pembangunan SDM di Malut. Gubernur Sherly Tjoanda menjadikan pendidikan sebagai poros utama pembangunan daerah yang menghindari ketimpangan pembangunan antarwilayah.

Artinya, pembangunan tidak hanya terpusat di kota atau wilayah ibukota provinsi, tetapi juga menyentuh daerah-daerah pinggiran yang selama ini luput dari perhatian pusat kekuasaan.

Program “Pendidikan Bermutu untuk Semua” merupakan terjemahan dari visi besar Gubernur Sherly yang percaya bahwa investasi paling berharga bagi masa depan Malut bukan hanya tambang atau infrastruktur lain, tetapi sumber daya manusia yang tercerahkan dan terdidik.

Audiensi di Weda bukan tujuan akhir, melainkan awal dari rangkaian panjang perubahan besar dunia pendidikan yang lebih terstruktur dan menyeluruh.

Melalui pendekatan yang terbuka dan kolaborasi antara provinsi dan kabupaten, Malut kini mulai menapaki fase baru dalam tata kelola pendidikan yang lebih kolaboratif dan berbasis kebutuhan nyata di lapangan.

Gubernur Sherly, melalui kebijakan dan arahannya, menempatkan pendidikan bukan semata sebagai urusan teknis belaka, tetapi sebagai titik temu antara kebijakan makro dan realitas mikro.

Dan di sanalah pentingnya komunikasi dua arah antara provinsi dan kabupaten, bukan hanya melalui dokumen, tetapi juga melalui kehadiran nyata, sebagaimana yang dilakukan Kadikbud Abubakar Abdullah di Weda.

Apa yang terjadi di Weda bisa jadi tak diliput luas secara nasional. Tapi di balik pertemuan itu, ada upaya menyusun ulang cara pandang dan praktik pembangunan pendidikan di Malut.

Bukan dari atas ke bawah, tetapi dari bawah ke atas, yaitu dengan mendengar suara hati para guru, melihat sekolah, dan berbicara langsung dengan para kepala daerah di kabupaten/kota.

Sinergi antara Gubernur Sherly Tjoanda dan Bupati Ikram Sangaji yang diwujudkan oleh Kadikbud Abubakar Abdullah, menjadi simbol harapan baru bahwa urusan pendidikan bukan lagi agenda yang tercecer di antara tumpukan program, tetapi telah menjadi panglima dalam arah pembangunan daerah. Dan di tengah semangat itu, 233 guru di Halteng kini punya harapan lebih, bahwa mereka tidak lagi bekerja sendirian. (red)