
WARTASOFIFI.ID – Kepedulian seorang wakil rakyat tidak selalu diukur dari banyaknya janji atau program yang disuarakan, tetapi dari tindakan nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Hal inilah yang ditunjukkan oleh Aksandri Kitong, anggota DPRD Malut dari Dapil Halut-Morotai. Saat sebagian jalan di wilayahnya dibiarkan rusak selama bertahun-tahun, Aksandri memilih langkah berbeda, yaitu memperbaiki jalan utama di Kecamatan Loloda Utara dengan dana pribadinya sendiri.
Tindakan itu mencerminkan kepedulian seorang wakil rakyat yang tidak sekadar menunggu kebijakan, tetapi bertindak atas dasar nurani. Di tengah lemahnya respons birokrasi, minimnya anggaran, dan lambannya realisasi pembangunan, inisiatif memperbaiki jalan dengan dana pribadi menjadi simbol bahwa kepemimpinan sejati berangkat dari empati terhadap penderitaan rakyat. Kerusakan infrastruktur yang menahun bukan sekadar persoalan teknis, melainkan cerminan dari abainya negara terhadap hak dasar masyarakat untuk menikmati akses dan keselamatan di tanahnya sendiri.
“Anggaran yang digunakan murni dana pribadi, karena dalam APBD belum ada alokasi untuk jalan ini. Padahal kondisinya sudah sangat urgen, sebab ini satu-satunya akses masyarakat menuju ibu kota kecamatan dan ibu kota kabupaten,” ujar Aksandri dalam keterangan yang dirilis baru-baru ini.
Menurut Aksandri, masyarakat Loloda Utara sudah terlalu lama menunggu perbaikan jalan tersebut. Banyak kendaraan warga yang rusak setiap kali melewati jalur itu, bahkan tak jarang terjadi kecelakaan ketika mobil tergelincir ke sisi jurang karena kondisi jalan yang berlumpur dan bergelombang. Situasi ini tidak hanya menghambat aktivitas ekonomi warga, tetapi juga mengancam keselamatan jiwa.
Politisi muda Partai Demokrat ini menjelaskan bahwa pekerjaan perbaikan jalan sepanjang delapan kilometer ini ditargetkan rampung dalam waktu 30 hari. Jalur tersebut melintasi 18 desa, termasuk Desa Dorume, ibu kota Kecamatan Loloda Utara, yang menjadi pusat kegiatan warga di wilayah itu.
“Selain di daerah pegunungan, jalan ini juga berada di pesisir pantai. Masyarakat Loloda selama ini menderita karena kondisi jalan yang sangat membahayakan. Banyak kendaraan tergelincir, bahkan ada yang jatuh ke jurang,” ungkapnya.
Kondisi geografis Loloda Utara memang kompleks. Sebagian wilayahnya berada di lereng bukit dan sebagian lain menghadap langsung ke laut. Saat musim hujan tiba, tanah longsor dan genangan lumpur menjadi pemandangan sehari-hari di jalur penghubung antardesa. Kerusakan paling parah ditemukan di empat titik utama yang kini menjadi fokus pekerjaan perbaikan.
Aksandri menjelaskan bahwa titik-titik terparah dimulai dari Desa Posi-Posi, melewati belakang Desa Galao, hingga mencapai Desa Dorume. Di titik-titik inilah, masyarakat setiap hari mempertaruhkan keselamatan saat hendak membawa hasil pertanian, bahan bangunan, maupun barang kebutuhan pokok. Pekerjaan perbaikan sudah dimulai, melibatkan warga setempat dengan sistem gotong royong agar pekerjaan berjalan cepat dan biaya bisa ditekan.
“Titik parah mulainya dari Desa Posi-Posi, belakang Desa Galao, sampai Desa Dorume Kecamatan Loloda Utara. Semuanya sudah mulai dikerjakan hari ini,” katanya.
Bagi Aksandri, menjadi wakil rakyat bukan sekadar duduk di kursi dewan dan menunggu laporan dari bawah, melainkan hadir langsung di tengah masyarakat dan memahami penderitaan mereka secara nyata. Ia percaya bahwa mata kepala sendiri adalah alat ukur paling jujur dalam menilai persoalan rakyat.
“Prinsip saya, wakil rakyat harus melihat dengan mata kepala sendiri. Kalau kita menunggu program, masyarakat keburu menderita. Karena itu, saya berinisiatif memperbaikinya agar aktivitas mereka bisa kembali lancar,” tegasnya.
Bukan hanya persoalan infrastruktur, jalan ini juga menjadi urat nadi ekonomi masyarakat. Sebagian besar warga Loloda Utara menggantungkan hidup dari hasil laut dan hasil bumi seperti kopra, cengkeh, dan pisang.
Jalan yang rusak membuat biaya angkut meningkat, harga jual menurun, dan arus distribusi barang menjadi lambat. Dengan adanya perbaikan ini, roda ekonomi diharapkan kembali berputar lebih cepat.
“Masyarakat Loloda banyak yang berprofesi sebagai nelayan dan petani. Kalau jalan sudah baik, mereka bisa menjual hasil laut dan hasil kebun tanpa rasa takut. Ini juga bagian dari mendukung program ketahanan pangan nasional,” jelasnya.
Lebih dari itu, Aksandri memandang bahwa upaya memperbaiki jalan dengan dana pribadi bukan semata bentuk bantuan sosial, melainkan simbol tanggung jawab moral seorang wakil rakyat yang tidak menutup mata terhadap kesulitan warganya.
Ia berharap langkah kecil ini menjadi inspirasi bagi pejabat lainnya, terutama dalam memperjuangkan aspirasi yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat kecil.
“Semoga masyarakat benar-benar bisa menikmati rasa nyaman berkendara setelah jalan ini selesai dikerjakan,” tutup Aksandri penuh harap. (red)




