
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Malut, Abubakar Abdullah, memastikan seluruh persiapan pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) bagi siswa SMA, SMK, dan sederajat di wilayahnya telah rampung. Ujian tersebut akan dimulai pada Senin, 3 November hingga 9 November 2025, dan menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan Malut untuk menilai capaian akademik generasi muda di tingkat akhir pendidikan menengah.
Dalam rilis resminya, Minggu (2/11), Abubakar menyebut bahwa pelaksanaan TKA ini merupakan langkah nasional yang serentak dan strategis untuk memetakan kemampuan siswa di seluruh Indonesia.
“Sebanyak 17.717 siswa SMA, SMK, dan sederajat di Provinsi Maluku Utara akan mengikuti Tes Kemampuan Akademik yang dijadwalkan berlangsung mulai Senin, 3 November hingga 9 November 2025,” ujarnya.
Abubakar menjelaskan, seluruh kegiatan ujian akan dilaksanakan di satuan pendidikan masing-masing dengan metode Computer Based Test (CBT), yang menandai penerapan teknologi digital dalam sistem evaluasi pendidikan.
“Ujian ini akan digelar secara serentak di masing-masing satuan pendidikan dengan sistem berbasis komputer (CBT),” kata Abubakar.
Jumlah peserta TKA yang mencapai puluhan ribu orang mencerminkan luasnya jangkauan kebijakan pendidikan di Malut. Dari SMA hingga PKBM, setiap lembaga menjadi bagian penting dari upaya pemerintah daerah dalam menghadirkan sistem evaluasi yang menyeluruh dan berkeadilan. Angka ini bukan sekadar data statistik, melainkan potret komitmen bersama untuk memastikan bahwa setiap anak didik, baik di sekolah formal maupun jalur kesetaraan, mendapatkan kesempatan yang sama untuk diukur dan berkembang sesuai potensinya.
Lebih dari sekadar ujian, penyelenggaraan TKA di berbagai satuan pendidikan menandakan langkah konkret menuju pemerataan kualitas pendidikan. Pemprov Malut melalui Dikbud berupaya memastikan agar tidak ada siswa yang tertinggal, sekaligus mendorong integrasi antarjenjang pendidikan dalam satu sistem pemetaan kemampuan yang seragam. Dengan cakupan peserta yang begitu besar, TKA menjadi momentum strategis untuk menilai efektivitas pembelajaran dan kesiapan generasi muda menghadapi tantangan akademik maupun dunia kerja ke depan.
“Peserta ujian tersebut terdiri atas siswa dari 222 SMA, 150 SMK, 19 SLB, serta 112 PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) yang menyelenggarakan program kesetaraan Paket C,” tuturnya.
Abubakar menjelaskan, TKA kali ini merupakan program nasional perdana yang digagas langsung oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah di bawah kepemimpinan Mukti Ali. Program ini, kata dia, memiliki dasar hukum yang jelas sebagaimana tertuang dalam keputusan menteri.
“TKA kali ini merupakan program nasional perdana yang digagas oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah di bawah kepemimpinan Prof. Mukti Ali, sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 95/M/2025 tentang Pedoman Penyelenggaraan Tes Kemampuan Akademik bagi Peserta Didik Tingkat Akhir,” ungkapnya.
Dia menegaskan, pelaksanaan TKA bukan semata-mata tentang ujian, melainkan sebuah pemetaan menyeluruh terhadap kemampuan akademik siswa, terutama dalam hal literasi, numerasi, serta kompetensi yang relevan dengan masa depan.
“Tes ini bertujuan untuk memetakan kemampuan akademik siswa, khususnya dalam literasi, numerasi, dan kompetensi pilihan yang relevan dengan minat studi lanjutan atau dunia kerja,” jelas Abubakar.
Pelaksanaan TKA tahun ini dirancang sebagai instrumen evaluasi yang komprehensif. Fokus pengujian mencakup tiga mata pelajaran wajib, yaitu Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris, yang dianggap mewakili kemampuan dasar setiap peserta didik. Di samping itu, dua mata pelajaran pilihan disesuaikan dengan jurusan masing-masing siswa, sehingga hasil ujian dapat menggambarkan potensi akademik secara lebih utuh dan relevan.
Abubakar juga bilang, pendekatan ini mencerminkan upaya serius pemerintah dalam memastikan bahwa penilaian tidak sekadar mengukur hafalan, melainkan juga pemahaman dan penerapan konsep. Setiap siswa diuji berdasarkan konteks keilmuannya, yang diharapkan mampu memberikan gambaran nyata tentang kesiapan mereka menapaki jenjang pendidikan berikutnya atau memasuki dunia kerja.
Tidak hanya menjadi proses evaluasi, TKA hadir sebagai instrumen strategis untuk menata arah pendidikan nasional. Dengan sistem yang menyesuaikan jurusan dan minat siswa, pelaksanaan ini membuka peluang bagi lahirnya kebijakan pendidikan yang lebih berbasis data, terukur, dan berorientasi pada penguatan kompetensi nyata generasi muda.
“Dalam pelaksanaannya, TKA akan menguji tiga mata pelajaran wajib, yakni Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris, serta dua mata pelajaran pilihan yang disesuaikan dengan jurusan masing-masing siswa,” lanjut Abubakar.
Penyelenggaraan TKA di Malut, kata Abubakar, dirancang dengan sistem pengawasan yang ketat untuk menjaga kredibilitas dan transparansi. Kehadiran pengawas independen dari perguruan tinggi yang ditunjuk langsung oleh kementerian menjadi langkah penting guna memastikan seluruh proses berjalan objektif, bebas dari intervensi, dan sesuai standar nasional.
Selain aspek pengawasan, kesiapan teknis juga menjadi perhatian utama. Simulasi dan gladi pelaksanaan telah dilakukan secara menyeluruh, sementara sarana pendukung seperti perangkat komputer dan jaringan internet dipastikan dalam kondisi optimal di setiap sekolah. Pendekatan ini mencerminkan komitmen Pemprov Malut dalam menghadirkan sistem evaluasi pendidikan yang modern, akuntabel, dan sejalan dengan semangat digitalisasi pendidikan nasional.
“Pelaksanaan tes akan dipantau oleh pengawas dari perguruan tinggi yang ditunjuk oleh kementerian. Insyaallah, dari sisi teknis kami sudah siap. Simulasi dan gladi pelaksanaan telah dilakukan, perangkat komputer dan jaringan internet juga telah disiapkan di seluruh sekolah,” paparnya.
Abubakar menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor sebagai kunci keberhasilan pelaksanaan TKA. Upaya koordinasi yang melibatkan pemerintah kabupaten dan kota, lembaga pendidikan, hingga pihak penyedia layanan publik seperti PLN, menjadi langkah strategis untuk memastikan seluruh tahapan ujian berjalan tanpa hambatan.
Keterlibatan berbagai instansi dalam mendukung pelaksanaan TKA mencerminkan kesadaran bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama. Kelancaran proses ujian tidak hanya ditentukan oleh kesiapan teknis sekolah, tetapi juga oleh stabilitas infrastruktur dan dukungan dari seluruh elemen masyarakat.
Dengan manajemen yang terencana dan komunikasi antarlembaga yang solid, pelaksanaan TKA diharapkan menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi birokrasi dapat menghasilkan sistem pendidikan yang lebih tangguh, terkoordinasi, dan siap menghadapi tantangan era digital.
“Saya berharap pelaksanaan ujian berjalan lancar tanpa kendala teknis berarti. Kami telah berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota, pihak PLN, serta sekolah agar mendukung kelancaran kegiatan ini,” ujar Abubakar.
Ajakan kepada masyarakat dan orang tua untuk menciptakan suasana yang kondusif selama pelaksanaan ujian mencerminkan kesadaran akan pentingnya peran lingkungan dalam mendukung keberhasilan pendidikan. Ketika suasana di sekitar sekolah tertib, aman, dan bebas dari gangguan, para siswa memiliki ruang psikologis yang lebih tenang untuk fokus dan menunjukkan kemampuan terbaik mereka.
Keterlibatan masyarakat dalam menjaga ketenangan selama ujian juga menjadi bentuk tanggung jawab sosial terhadap masa depan generasi muda. Dukungan kecil seperti menjaga ketertiban lalu lintas, menghindari kebisingan, dan memberi semangat kepada peserta ujian dapat menjadi kontribusi nyata dalam membangun budaya pendidikan yang peduli, saling menopang, dan berorientasi pada keberhasilan bersama.
“Kami juga mengimbau orang tua dan masyarakat untuk menciptakan suasana yang kondusif di sekitar sekolah agar para siswa dapat berkonsentrasi penuh,” katanya.
Di penghujung keterangannya, Abubakar menegaskan bahwa kemajuan pendidikan di Malut tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada kesadaran kolektif masyarakat dalam menanamkan nilai-nilai disiplin, semangat belajar, dan kejujuran pada anak-anak. Dukungan moral dari orang tua, guru, dan lingkungan sekitar menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter generasi muda yang tangguh dan berdaya saing.
Dalam konteks ini, setiap langkah kecil menuju keberhasilan pendidikan bukan sekadar hasil ujian, melainkan wujud nyata dari kebersamaan dan tanggung jawab sosial untuk menyiapkan masa depan daerah yang lebih cerah. Ajakan untuk mendoakan dan mendukung para peserta ujian mencerminkan semangat kolektif dalam membangun masa depan pendidikan di Malut.
Sikap ini menegaskan bahwa keberhasilan generasi muda bukan hanya hasil kerja keras individu, tetapi juga buah dari dukungan moral, sosial, dan spiritual seluruh elemen masyarakat yang percaya bahwa investasi terbaik sebuah daerah terletak pada kualitas sumber daya manusianya.
“Saya mengajak semua pihak untuk turut mendoakan para peserta agar diberikan kemudahan dan memperoleh hasil terbaik. Mereka adalah generasi masa depan Maluku Utara. Mari kita dukung mereka menjemput prestasi,” pungkas Abubakar. (red)




