Dengan senyum yang lembut dan bersahaja, Abubakar Abdullah melambaikan tangan kepada Paskibra yang berdiri tegak di halaman SMA Negeri 6 Halmahera Selatan, Rabu, 20 Mei 2026. Dok, Dikbud Malut.
Pagi di Pulau Obi datang perlahan seperti doa yang turun bersama angin laut. Dari kejauhan, ombak memecah sunyi bibir pantai, sementara langit yang masih menyisakan cahaya pucat menjadi saksi bagaimana semangat kebangsaan kembali ditegakkan di halaman SMA Negeri 6 Halmahera Selatan, Rabu, 20 Mei 2026. Di tanah kepulauan yang dipisahkan bentang air itu, Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118 hadir bukan hanya sebagai agenda tahunan, melainkan nyala ingatan tentang cita-cita yang terus dijaga.
Sejak matahari mulai meninggi, halaman sekolah perlahan berubah menjadi hamparan wajah-wajah penuh harapan. Ratusan pelajar, guru, dan unsur pemerintah berdiri dalam barisan yang tertata rapi, menyerupai anyaman tekad yang dirajut dari kesetiaan pada negeri. Seragam putih abu-abu, pakaian dinas, sekelompok pasukan pengibar bendera, serta langkah-langkah yang berderap pelan menghadirkan suasana khidmat yang terasa mengendap hingga ke dada.
Di tengah lapangan itu, Sang Merah Putih menjulang seperti penanda arah di tengah samudera luas. Kainnya berkibar perlahan diterpa angin pesisir, seolah membawa pesan bahwa negeri ini dibangun bukan hanya dari gedung-gedung tinggi di kota besar, tetapi juga dari sekolah-sekolah sederhana yang berdiri di tepian pulau.
Pada momentum tersebut, Kadikbud Malut, Abubakar Abdullah, dipercaya menjadi Inspektur Upacara. Kehadirannya di Pulau Obi menghadirkan kesan yang lebih dalam daripada agenda birokrasi biasa. Bagi banyak guru dan pelajar, kehadiran itu serupa tanda bahwa jarak yang dipisahkan lautan masih dapat dijangkau oleh perhatian dan pengabdian.
Upacara Harkitnas turut dihadiri unsur Muspika Kecamatan Obi, mulai dari Camat Obi, Danramil Pulau Obi Nursahid, hingga Wadanki Kompi 3 Batalyon C Pelopor, Ipda Safrudin La Hadi. Hadir pula para kepala sekolah SMA, SMK, SLB, sejumlah kepsekk SMP, dan para pelajar dari berbagai sekolah di Pulau Obi yang pagi itu berdiri dalam satu barisan semangat yang sama.
Di bawah langit Obi yang teduh, para pelajar yang bertugas dalam upacara menjalankan tugas mereka dengan tenang dan disiplin. Langkah mereka teratur, suara komando menggema mantap, sementara setiap gerakan terasa seperti potongan kecil dari harapan panjang tentang masa depan daerah.
Bagi masyarakat kepulauan, pendidikan selalu menyerupai pelita kecil yang dijaga agar tidak padam diterpa angin zaman. Karena itu, kehadiran Pemprov Malut melalui Kadikbud Malut di tengah masyarakat Obi menghadirkan rasa dekat yang sulit diterjemahkan dengan angka ataupun laporan resmi pemerintahan.
Di sekolah yang berdiri tidak jauh dari garis pantai itu, Harkitnas akhirnya menjelma seperti cermin yang memantulkan wajah Malut hari ini: wilayah kepulauan yang terus bergerak menjemput masa depan degan segala keterbatasannya. Dari ruang-ruang kelas sederhana, dari guru-guru yang tetap mengajar dalam sunyi pengabdian, hingga dari pelajar-pelajar yang menatap langit dengan mimpi besar, harapan tentang Malut yang lebih kuat terus tumbuh perlahan, sebagaimana ombak yang tak pernah lelah kembali ke pantai.
Kehadiran Aka, sapaan akrab Abubakar Abdullah yang juga mantan Penjabat Sekda Malut, di Pulau Obi terasa seperti hujan pertama setelah musim panjang yang melelahkan. Di wilayah kepulauan yang selama ini lebih akrab dengan jarak dan keterbatasan, kedatangannya membawa rasa bahwa perhatian pemerintah masih menemukan jalannya hingga ke sekolah-sekolah yang berdiri jauh di tepian laut.
Bagi para guru dan pelajar, kehadiran Kadikbud Malut di tengah mereka bukan hanya kunjungan kerja biasa. Ada harapan yang tumbuh perlahan di balik pertemuan itu, seperti pelita kecil yang kembali dinyalakan setelah lama redup diterpa angin. Sebab, di daerah kepulauan, perhatian sering kali memiliki arti yang lebih dalam daripada kata-kata.
Di sekolah-sekolah yang menghadap laut, para guru selama bertahun-tahun menjaga pendidikan seperti menjaga api di tengah malam. Mereka mengajar dalam keterbatasan, melewati perjalanan yang tidak ringan, dan tetap bertahan demi memastikan anak-anak di pulau-pulau kecil tidak kehilangan jalan menuju masa depan.
Karena itu, kehadiran Abubakar Abdullah di Pulau Obi dipandang banyak orang seperti jembatan yang menghubungkan jarak antara pusat pemerintahan dan masyarakat kepulauan. Kehadirannya membawa pesan bahwa sekolah-sekolah di daerah terpencil tetap menjadi bagian penting dari arah pembangunan Malut.
Camat Obi pun menyampaikan apresiasi atas kesediaan Kadikbud Malut hadir langsung pada momentum Hari Kebangkitan Nasional di Pulau Obi. Menurutnya, kehadiran tersebut memberi semangat baru bagi dunia pendidikan di wilayah kepulauan.
“Ini luar biasa. Di sela kunjungan kerja, beliau masih menyempatkan diri menjadi inspektur upacara Harkitnas. Semoga ini menjadi penyemangat bagi kemajuan pendidikan di Pulau Obi,” ujar Camat Obi.
Menurutnya, kehadiran pimpinan Organisasi Perangkat Daerah di daerah terpencil memiliki makna besar bagi para guru dan pelajar. Perhatian dari Pemprov Malut, kata dia, sering menjadi tenaga tambahan bagi masyarakat untuk terus bergerak di tengah berbagai keterbatasan.
Di Pulau Obi, laut bukan hanya bentang alam, melainkan ruang panjang yang menguji keteguhan masyarakatnya. Namun di tengah jarak dan keterisolasian itu, pendidikan tetap tumbuh seperti cahaya kecil yang dijaga agar tidak padam. Dari ruang-ruang kelas sederhana, dari suara guru yang terus mengajar, hingga dari langkah pelajar yang menatap masa depan dengan harapan, semangat membangun Malut terus hidup perlahan, setenang ombak yang tak pernah berhenti menyentuh pantai.
Di atas Pulau Obi yang diselimuti langit berwarna teduh, pendidikan di wilayah kepulauan tidak cukup berdiri di atas bangunan yang kokoh atau deretan fasilitas yang lengkap. Ia menuntut sesuatu yang lebih halus namun lebih menentukan, yakni kehadiran batin kebijakan yang hidup, penguatan semangat para pendidik, serta arah pembangunan yang tidak mudah pudar oleh jarak dan waktu.
Di Pulau Obi, tempat laut seolah menjadi dinding sekaligus jalan kehidupan, sekolah-sekolah tumbuh seperti nyala kecil yang dipelihara dari hembusan angin yang tak pernah berhenti. Para guru menjalankan tugasnya seperti merawat bara di tengah malam panjang, sementara para pelajar melangkah di antara keterbatasan menuju horizon yang selalu mereka bayangkan lebih luas dari tempat mereka berpijak.
Karena itu, perhatian yang datang dari Pemprov Malut kerap dirasakan bukan semata sebagai urusan pemerintahan, melainkan sebagai kehadiran yang menyentuh ruang-ruang harapan paling dalam. Ia seperti cahaya yang menyelinap di celah awan, jatuh perlahan ke tanah-tanah kepulauan yang selama ini terus menunggu sentuhan pembangunan yang merata.
Apresiasi serupa juga disampaikan unsur aparat keamanan. Wadanki Kompi 3 Batalyon C Pelopor, Ipda Safrudin La Hadi, memandang kehadiran Kadikbud Malut dalam upacara Harkitnas sebagai wujud nyata kepedulian Pemprov Malut terhadap penguatan persatuan dan pembentukan karakter generasi muda di wilayah kepulauan.
“Momentum seperti ini penting untuk menumbuhkan semangat persatuan, terutama bagi generasi muda di daerah kepulauan. Kehadiran pemerintah secara langsung menjadi energi positif bagi masyarakat,” ungkapnya.
Ia melihat generasi muda di wilayah kepulauan sebagai tunas yang tumbuh di sela karang, rapuh namun menyimpan daya hidup yang kuat. Mereka membutuhkan ruang tumbuh yang tidak hanya memberi ilmu, tetapi juga keyakinan bahwa masa depan mereka tidak berada di pinggir peta, melainkan di pusat perhatian pembangunan.
Di bawah cakrawala Pulau Obi yang berbalut teduhnya langit, peringatan Hari Kebangkitan Nasional pagi itu bergerak melampaui batas sebuah upacara. Ia menjelma menjadi pengalaman kolektif tentang kebangsaan, tempat sekolah, pemerintah, dan masyarakat bertemu dalam satu kesadaran bahwa pendidikan adalah perjalanan panjang yang menjaga Malut tetap bergerak menuju masa depan yang lebih utuh.
Ia mengatakan, semangat Kebangkitan Nasional tidak semestinya mengendap sebagai rutinitas tahunan yang datang dan berlalu seperti angin musim, melainkan harus menjelma menjadi kesadaran yang hidup di dada bangsa. Kesadaran bahwa pembangunan tidak boleh berhenti di garis pusat, tetapi harus merambat hingga ke pulau-pulau yang jauh, ke tepian negeri yang sering hanya disebut pelan dalam peta.
Di lapangan upacara itu, para pelajar yang mendapat amanah sebagai petugas tampil seperti bait-bait harapan yang disusun di bawah cahaya pagi. Gerak mereka tertata, langkah mereka terukur, seakan setiap ayunan tangan adalah doa yang tidak diucapkan, tetapi sampai kepada langit kebangsaan. Dari pengibaran Sang Merah Putih hingga lantunan Pancasila dan UUD 1945, semuanya mengalir perlahan seperti sungai yang tidak pernah ragu menuju muara sejarah.
Barisan peserta yang rapi dan kekompakan para petugas upacara menghadirkan Pulau Obi dalam wajah yang lain, wajah yang tidak hanya dibingkai oleh jarak dan keterbatasan, tetapi juga oleh keteguhan generasi mudanya. Di antara hembusan angin laut yang melintas di halaman sekolah, mereka berdiri seperti penanda bahwa nasionalisme tidak pernah benar-benar pergi dari pulau-pulau kecil, ia hanya tumbuh dalam bentuk yang lebih senyap, lebih tabah, dan lebih dalam.
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 6 Halmahera Selatan, Murdin, menyampaikan rasa syukur yang pelan namun penuh makna karena sekolah yang dipimpinnya dipercaya menjadi pusat pelaksanaan Harkitnas tingkat Pulau Obi. Dalam pandangannya, momen tersebut seperti membuka satu halaman penting dalam catatan perjalanan pendidikan di tanah kepulauan.
Ia juga menuturkan bahwa peristiwa itu terasa semakin mengendap dalam ingatan karena untuk pertama kalinya Bos Dikbud Malut itu hadir langsung di Pulau Obi. “Kami sangat terharu dan berterima kasih. Ini pertama kalinya Kadikbud datang langsung ke Obi. Bahkan beliau mengunjungi tiga wilayah besar, yakni Madopolo, Anggai, dan Laiwui. Semua guru dan kepala sekolah merasa bahagia bisa bertemu langsung dengan Pak Kadis,” ungkap Murdin.
Dan di sela kalimat itu, Pulau Obi seolah sedang menulis ulang dirinya sendiri, bukan lagi sebagai titik jauh di peta, melainkan sebagai ruang tempat harapan, perhatian, dan pendidikan saling berpelukan dalam diam yang paling jujur.
Ia menuturkan, kedatangan itu menghadirkan desir harapan baru bagi para tenaga pendidik yang selama bertahu-tahun menambatkan pengabdiannya di wilayah kepulauan. Di tempat-tempat yang dipisahkan laut dan perjalanan panjang, para guru menjalani hari-hari mereka seperti perawat cahaya di ujung malam, tetap bertahan menyalakan harapan meski angin keterbatasan berkali-kali datang menggoyangkan nyalanya.
Di sekolah-sekolah yang berdiri menghadap laut, pendidikan tumbuh perlahan seperti tunas yang menembus tanah karang. Para guru menjaga ruang-ruang belajar dengan kesabaran yang nyaris menyerupai doa panjang, sementara anak-anak datang membawa mimpi yang kadang lebih besar daripada pulau tempat mereka dilahirkan. Karena itu, kehadiran pejabat Pemprov Malut di tengah mereka terasa seperti hujan pertama setelah musim yang panjang, menghadirkan keyakinan bahwa perjuangan mereka tidak berjalan sendiri.
Bagi para pendidik di Obi, perhatian yang datang secara langsung memiliki arti yang jauh melampaui kunjungan pemerintahan biasa. Ia menjadi semacam pelukan moral bagi orang-orang yang selama ini menjaga masa depan daerah dari ruang-ruang kelas sederhana, dari papan tulis yang mulai pudar, dan dari langkah-langkah kecil murid yang setiap pagi berjalan menyusuri jalan pesisir demi tiba di sekolah.
Dalam amanat upacara, Abubakar Abdullah membacakan pidato Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia sebagai amanat nasional Hari Kebangkitan Nasional ke-118 Tahun 2026. Kalimat demi kalimat mengalun pelan di udara pagi Pulau Obi, menyatu dengan desir angin laut, kibaran Sang Merah Putih, dan wajah-wajah muda yang menatap penuh khidmat ke arah tiang bendera.
Pidato itu membawa pesan tentang pentingnya menjaga persatuan, memperkuat daya saing bangsa, serta merawat optimisme di tengah dunia yang terus bergerak dengan perubahan yang tak selalu mudah ditebak. Di balik kata-kata yang dibacakan, tersimpan ajakan agar generasi muda tetap menjadi akar yang mencengkeram tanahnya sendiri, tidak tercerabut oleh arus zaman, dan tetap teguh meski gelombang dunia terus bergulung silih berganti.
Pagi itu, di Pulau Obi yang dipeluk laut dari segala penjuru, upacara Harkitnas seakan berubah menjadi ruang tempat harapan-harapan lama dikumpulkan kembali. Di antara suara komando, langkah barisan, dan hembusan angin pesisir, pendidikan tampak bukan hanya sebagai jalan menuju pengetahuan, melainkan cahaya panjang yang menuntun anak-anak kepulauan menembus batas cakrawala nasib mereka.
Di atas tanah Pulau Obi yang kaya akan cengkeh, tempat aroma rempah pernah mengarungi lautan dan membawa nama negeri-negeri timur ke pelabuhan dunia, semangat Kebangkitan Nasional kembali ditegaskan sebagai suluh zaman yang tak boleh redup oleh perubahan musim dunia. Ia bukan hanya titah sejarah yang dikenang dari tahun ke tahun, melainkan bara yang harus terus dijaga agar tetap menyala di dada generasi penerus bangsa. Sebab dari pendidikanlah martabat sebuah negeri ditinggikan, dan dari SDM yang tangguh sebuah peradaban menemukan jalannya menuju kemuliaan.
Di hadapan para peserta upacara yang berdiri khidmat di halaman sekolah itu, Abubakar Abdullah menyerukan agar semangat belajar tetap dirawat seperti menjaga nyala pelita di dalam istana yang dikepung gelap malam. Ia mengajak seluruh insan pendidikan meneguhkan watak kebangsaan dan merawat persaudaraan sosial di lingkungan sekolah, agar anak-anak Malut tumbuh bukan hanya dengan keluasan ilmu, tetapi juga keluhuran budi.
Suara amanat itu mengalun perlahan di bawah langit Pulau Obi, menyusuri barisan pelajar, melewati kibaran Sang Merah Putih, lalu larut bersama desir angin laut yang datang dari kejauhan. Seolah pagi itu, alam turut mendengarkan pesan tentang masa depan yang sedang ditanam di tanah kepulauan.
Baginya, pendidikan adalah tiang agung yang menyangga harkat sebuah bangsa. Ia bukan hanya jalan untuk melahirkan manusia yang pandai membaca angka dan kata, tetapi juga ruang menempa nurani, menajamkan kepedulian, serta menumbuhkan cinta kepada tanah air yang diwariskan leluhur.
Ia menegaskan, keterbatasan yang membingkai wilayah kepulauan tidak boleh menjelma menjadi pagar yang mengurung cita-cita. Sebaliknya, dari laut yang luas dan jarak yang panjang itulah harus lahir keteguhan hati, daya tahan, serta keberanian untuk melampaui nasib yang kerap dianggap sempit oleh keadaan.
Di Pulau Obi, tempat ombak bersahutan dengan angin dan langit terbentang seperti hamparan permadani biru, pendidikan tumbuh laksana pohon tua yang akarnya mencengkeram karang. Ia diterpa musim dan badai, namun tetap tegak menadahkan daun-daunnya kepada cahaya, seakan percaya bahwa masa depan selalu berpihak kepada mereka yang tidak berhenti memelihara harapan.
Momentum Harkitnas pagi itu pun menjelma lebih dari sekumpulan prosesi kenegaraan. Ia menyerupai perjamuan batin antara harapan rakyat, pengabdian guru, dan perhatian pemerintah yang bertemu dalam satu ruang kebangsaan. Dari halaman sekolah yang sederhana itu, tersiar keyakinan bahwa anak-anak kepulauan pun berhak menatap cakrawala yang sama luasnya dengan anak-anak di pusat negeri.
Di penghujung kegiatan, Abubakar Abdullah memberikan apresiasi kepada seluruh peserta dan petugas upacara yang telah menjalankan amanah dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab. Baginya, disiplin para pelajar pagi itu adalah alamat bahwa bara kebangsaan masih hidup di dada generasi muda Malut.
“Semangat kebangsaan yang ditunjukkan para pelajar hari ini menjadi pertanda bahwa masa depan pendidikan Maluku Utara akan terus tumbuh dan berkembang. Saya berharap semangat ini terus dijaga,” harap Aka.
Dan ketika upacara usai perlahan, kata-kata itu masih terasa bergelayut di langit Obi, bersama kibaran Sang Merah Putih dan hembusan angin laut yang bergerak tenang. Seolah pagi itu, Pulau Obi tidak hanya sedang memperingati Hari Kebangkitan Nasional, tetapi juga sedang menulis sajak panjang tentang harapan, tentang pendidikan, dan tentang masa depan Malut yang perlahan bangkit dari ufuk kepulauan.
Di atas tanah Pulau Obi yang harum oleh cengkeh dan jejak rempah, tempat angin laut pernah membawa kabar tentang kejayaan timur ke pelabuhan-pelabuhan jauh, nama almarhum Benny Laos dan Sherly Tjoanda pernah singgah dalam ingatan masyarakat sebagai bagian dari riwayat panjang negeri kepulauan. Kini, ketika Sherly Tjoanda berdiri sebagai pemegang tampuk kuasa di tanah para raja, Malut perlahan menata masa depannya dengan keyakinan bahwa pendidikan adalah mahkota paling luhur bagi peradaban.
Di bawah kepemimpinan Sherly Tjoanda dan Wagub, Sarbin Sehe, pembangunan SDM ditempatkan laksana pilar utama yang menyangga kemuliaan masa depan Malut. Pendidikan tidak lagi dipandang hanya sebagai urusan angka dan bangunan, melainkan sebagaai lorong peradaban tempat martabat sebuah negeri ditempa dari generasi ke generasi.
Pada hamparan pengabdian itulah nama Abubakar Abdullah bergerak seperti nahkoda yang menuntun layar di tengah samudera kepulauan. Sebagai Kadikbud Malut, ia dipandang bukan hanya pelaksana titah pemerintahan, melainkan penyambung denyut harapan antara Pemprov Malut dan sekolah-Sekolah yang berdiri jauh di tepian negeri.
Di tangan pemerintahan Sherly-Sarbin, pendidikan diarahkan agar tidak tercerabut dari akar budayanya sendiri.
Anak-anak Malut diharapkan tumbuh bukan hanya dengan keluasan ilmu, tetapi juga dengan jiwa yang mengenali tanah leluhurnya, menghormati adatnya, dan mencintai negerinya sebagaimana pelaut mencintai arah pulang.
Dalam berbagai perjalanan dinas dan ruang-ruang pertemuan pendidikan, Abubakar Abdullah dikenal tekun merawat jalinan komunikasi dengan kepala sekolah, guru, serta pemerintah kabupaten dan kota. Di negeri yang dipisahkan laut dan gugusan pulau, komunikasi menjadi seperti urat nadi yang menjaga kehidupan tetap mengalir di tubuh pendidikan Malut.
Malut adalah kepulauan yang dibentuk ombak dan jarak. Di sana, pendidikan sering kali harus berjalan menembus cuaca buruk, dermaga sunyi, dan perjalanan panjang yang memakan tenaga. Namun di tengah segala keterbatasan itu, para guru tetap menjaga sekolah-sekolah seperti para penjaga pelabuhan menjaga cahaya mercusuar agar kapal-kapal tidak kehilangan arah di tengah gelap malam.
Karena itu, kehadiran pemerintah di sekolah-sekolah terpencil menghadirkan makna yang lebih dalam daripada sekumpulan agenda resmi. Ia menyerupai embun pertama yang jatuh di tanah yang lama menahan kemarau, menghadirkan keyakinan bahwa pengabdian para guru tidak dibiarkan berjalan sendiri.
Pada masa pemerintahan Sherly Tjoanda dan Sarbin Sehe, pembangunan pendidikan tidak lagi berhenti pada pendirian gedung dan fasilitas belajar. Yang dibangun adalah jiwa generasi muda, watak kebangsaan, disiplin, serta keberanian untuk berdiri sejajar dengan dunia tanpa kehilangan jati dirinya sebagai anak negeri kepulauan.
Dalam bentangan ikhtiar itu, Abubakar Abdullah disebut memainkan peran penting sebagai penggerak layar birokrasi pendidikan. Ia menjaga agar arah pembangunan tetap berlayar menuju tujuan yang sama, meski ombak perubahan zaman terus bergulung dari berbagai penjuru.
Kunjungan-kunjungan kerja yang dilakukannya ke Obi, Bacan, Morotai, dan wilayah-wilayah terluar lainnya dipandang sebagai bagian dari wajah pemerintahan yang ingin hadir lebih dekat dengan rakyatnya. Dari sekolah-sekolah sederhana yang menghadap laut itu, lahir pesan bahwa negara tidak boleh lupa pada ruang-ruang kecil tempat masa depan bangsa sedang ditanam perlahan.
Bagi para tenaga pendidik di kepulauan, perhatian seperti itu memiliki arti yang tidak mudah diterjemahkan oleh angka dan laporan. Ia seperti cahaya fajar yang jatuh pelan di jendela kelas, menghangatkan keyakinan bahwa perjuangan mereka masih didengar oleh langit pemerintahan.
Tidak sedikit kepala sekolah yang memandang komunikasi langsung antara Kadikbud Malut dan guru di lapangan sebagai nyala baru bagi pendidikan kepulauan. Sebab di wilayah yang dipisahkan laut, keterlambatan perhatian sering kali dapat menjelma menjadi panjangnya keterisolasian.
Di tengah keterbatasan infrastruktur di sejumlah daerah, Abubakar Abdullah juga dinilai terus mendorong pemerataan akses pendidikan. Dari peningkatan kualitas guru, penguatan fasilitas belajar, hingga pembinaan sekolah-sekolah terpencil, semuanya diarahkan agar anak-anak Malut tetap memiliki hak yang sama untuk menatap masa depan.
Pemerintahan Sherly-Sarbin sendiri menempatkan pendidikan sebagai salah satu jalan utama untuk mengubah wajah sosial Malut. Sebab dari ruang kelas yang sederhana itulah, sejarah masa depan perlahan ditulis oleh tangan-tangan muda yang hari ini masih menggenggam buku di bawah atap sekolah kepulauan.
Dalam berbagai agenda resmi Pemprov Malut, Abubakar Abdullah juga kerap mengingatkan pentingnya melahirkan generasi yang bukan hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki integritas, daya saing, dan watak kebangsaan yang kokoh. Sebab ilmu yang tidak ditopang nurani hanya akan melahirkan kecerdasan yang kehilangan arah.
Perhatian terhadap Obi, Bacan, Morotai, Sula, Taliabu, dan wilayah-wilayah terluar lainnya pun menjadi bagian penting dari arah pembangunan pendidikan Malut. Di sana, sekolah-sekolah berdiri seperti rumah-rumah harapan yang dijaga agar tidak padam diterpa angin zaman.
Selain menjalankan tugas pemerintahan, Abubakar Abdullah juga dikenal membangun kedekatan emosional dengan para tenaga pendidik. Ia memahami bahwa guru di daerah kepulauan tidak hanya berhadapan dengan keterbatasan sarana, tetapi juga dengan kesunyian jarak yang kadang membuat mereka merasa jauh dari pusat perhatian.
Dalam pemerintahan Sherly Tjoanda dan Sarbin Sehe, pola kepemimpinan kolaboratif terus diperkuat.
Koordinasi antara Kadikbud Malut, pemerintah daerah, aparat keamanan, dan masyarakat menjadi semacam simpul yang mengikat pembangunan pendidikan agar tetap berjalan di tengah luasnya bentang kepulauan.
Banyak kalangan memandang, kehadiran Abubakar Abdullah dalam berbagai agenda pendidikan bukan hanya menjalankan tugas birokrasi. Ia dilihat sebagai wajah kehadiran Pemprov Malut di tengah masyarakat pendidikan yang selama ini menjaga harapan dari ruang-ruang kelas sederhana.
Di tengah dinamika pembangunan yang terus bergerak, pendidikan memang menjadi salah satu medan perjuangan terbesar pemerintahan Sherly-Sarbin. Namun dari sanalah masa depan Malut perlahan disemai, seperti benih yang ditanam di tanah rempah dengan harapan suatu hari tumbuh menjadi pohon yang menaungi generasi-generasi mendatang.
Komitmen terhadap pembangunan pendidikan di wilayah kepulauan akhirnya menjadi bagian dari ikhtiar besar Pemprov Malut untuk menyiapkan generasi yang mampu berdiri sejajar dengan dunia. Dan di dalam perjalanan panjang itu, Kadikbud Malut hadir sebagai jembatan yang menghubungkan cita-cita pemerintah dengan denyut kehidupan sekolah-sekolah di pulau-pulau jauh.
Maka ketika Abubakar Abdullah berdiri di Pulau Obi pada peringatan Harkitnas Tahun 2026, masyarakat tidak hanya melihat seorang pejabat yang menghadiri upacara. Mereka melihat sebentuk harapan yang datang bersama angin laut, membawa keyakinan bahwa di bawah kepemimpinan Sherly Tjoanda dan Sarbin Sehe, pendidikan akan tetap menjadi suluh yang menuntun Malut keluar dari gelap keterbatasan menuju cakrawala masa depan yang lebih agung dan bermartabat.
Di tanah Malut yang sejak berabad-abad dipayungi kemegahan empat mahkota tua, yakni Tidore, Ternate, Jailolo, dan Bacan, sejarah seolah belum selesai menatah kisahnya pada dinding zaman. Di puncak Gosale bertengger seorang ratu versi redaksi WARTASOFIFI.ID, Sherly Tjoanda, yang menggenggam haluan Malut di tengah desir angin kepulauan dan gemuruh ombak rempah.
Sementara Sarbin Sehe berdiri di sisinya bak penafsir musim yang pernah menapaki singgasana Kemenag Malut dan Sulut dengan jejak pengabdian yang panjang. Di lingkar pemerintahan itu, Samsuddin Abdul Kadir hadir seperti penjaga marwah birokrasi agar integritas ASN tetap terpelihara, sedangkan Abubakar Abdullah bergerak bagai pembawa suluh ilmu, menyusuri pulau-pulau dengan cahaya pendidikan yang perlahan menuntun generasi Malut menuju ufuk peradaban yang lebih luhur.
Dari meja kecil sebuah warung di Sofifi, berita ini ditulis di antara pahit kopi hitam, kepulan rokok kretek, dan cahaya senja yang rebah di balik Gunung Gamalama. Di bawah langit rempah tanah para raja, kami mengucapkan Selamat Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2026. Semoga bara persatuan terus berpendar di dada anak negeri, sementara Malut tetap berlayar sebagai gugusan kepulauan yang menjaga ilmu, martabat, dan harapan hingga ke cakrawala zaman. (red)
__________________________________________ Bagi WARTASOFIFI.ID, berita adalah amanah, ditulis dengan ketelitian, dijaga dengan integritas, dan disampaikan dengan keberimbangan kepada masyarakat.