Sisi Lain Sherly Tjoanda yang Paling Disorot Muslimat NU

5457
Sherly Tjoanda menuju podium utama dengan langkah mantap untuk membuka secara resmi Festival Qasidah di Sofifi. WARTASOFIFI.ID/Rais Dero

Ketua Muslimat NU Malut Rosita Alting menegaskan bahwa penyelenggaraan Festival Qasidah Rebana dan Bintang Vokalis 2025 merupakan bukti nyata konsistensi organisasi dalam merawat tradisi keislaman, sebuah agenda yang tidak lahir secara tiba-tiba tetapi dirawat dengan komitmen panjang dan tak lepas dari dukungan penuh Sherly Tjoanda sejak awal hingga kini menjabat sebagai Gubernur Malut, menjadikan momentum ini tetap memiliki jejak historis yang kuat dan berkesinambungan bagi seluruh peserta dari berbagai kabupaten dan kota.

“Pelaksanaan festival qasidah rebana dan bintang vokalis yang dilaksanakan Muslimat Nahdatul Ulama merupakan pelaksanaan yang kali ini sudah ketiga kalinya,” kata Rosita pada saat memberikan sambutan pada acara pembukaan Festival Qasidah di Sofifi pada Kamis 27 November 2025.

Setelah menguraikan kesinambungan penyelenggaraan festival, Rosita menggambarkan bahwa pelaksanaan tahun ini membawa suasana yang lebih hidup dan energi yang semakin kuat dibandingkan gelaran sebelumnya, sebuah dinamika yang lahir dari fondasi dukungan yang telah tertanam sejak awal dan terus menguat berkat peran penting Sherly Tjoanda serta almarhum suaminya, Benny Laos, yang sejak awal memberi dorongan penuh bagi keberlangsungan tradisi keislaman ini.

“Dan tahun ini sangat berbeda dengan tahun sebelumnya,” tegasnya.

Ia kemudian menjelaskan lebih rinci dukungan yang diberikan pada dua tahun awal pelaksanaan festival. Pada masa itu, kegiatan ini mendapat sokongan penuh dari sosok Sherly Tjoanda sebelum menjabat gubernur, serta almarhum suaminya, Benny Laos. Keduanya, menurut Rosita, menjadi penggerak utama yang memastikan festival dapat berlangsung secara konsisten.

“Kalau pelaksanaan pada tahun-tahun sebelumnya kita disuport penuh oleh Ibu Gubernur Sherly Tjoanda yang saat itu belum jadi gubernur,” jelas Rosita.

Untuk menunjukkan betapa besar peran pasangan Sherly-Benny, Rosita mengingat kembali bagaimana dukungan tersebut hadir tidak hanya untuk satu kali kegiatan, tetapi secara beruntun selama dua tahun berturut-turut. Baginya, kesinambungan itu menjadi catatan sejarah tersendiri bagi Muslimat NU di Malut.

“Dan beliau bersama suaminya almarhum Bapak Benny Laos selama dua tahun berturut-turut,” lanjutnya.

Rosita lalu mempertegas bahwa dukungan mereka tidak hanya berupa kontribusi teknis atau finansial, tetapi juga menjadi penyemangat besar bagi kader-kader Muslimat NU. Dukungan tersebut menghidupkan kembali semangat seni religi di tengah masyarakat dan menumbuhkan kembali kecintaan pada tradisi qasidah.

“Ini merupakan sejarah bagi Muslimat Nahdatul Ulama membangkitkan semangat di bidang qasidah,” ungkap Rosita.

Dalam sambutannya tersebut, Rosita menegaskan bahwa keberlanjutan festival ini tidak dapat dilepaskan dari dasar dukungan yang sejak awal dibangun oleh Sherly Tjoanda dan almarhum Benny Laos, sebuah kontribusi yang memberi ruang bagi Muslimat NU Malut untuk menjaga tradisi qasidah tetap hidup, berkembang, dan memiliki pijakan kuat hingga hari ini.

“Tonggak utamanya pada saat itu almarhum Pak Benny Laos dan Ibu Gubernur mensuport kita semua,” katanya.

Rosita kemudian menyampaikan bahwa pelaksanaan festival tahun 2025 ini merupakan wujud dari jasa dan dasar yang telah ditanamkan dua tokoh pasangan suami istri tersebut. Menurutnya, apa yang dinikmati oleh Muslimat NU hari ini adalah lanjutan dari upaya dan perhatian yang telah Benny dan Sherly berikan sejak awal.

“Dan hari ini merupakan apa yang menjadi jasa beliau selama ini,” tuturnya.

Ia juga menyoroti bahwa meskipun kini Sherly menjabat sebagai Gubernur Malut, perhatian terhadap qasidah tidak surut. Bahkan Rosita menilai bahwa perhatian tersebut semakin besar karena kini didukung oleh mekanisme anggaran resmi Pemprov Malut.

“Alhamdulillah sekarang ini Ibu Gubernur sudah menjadi gubernur, tapi tetap memberikan perhatian yang luar biasa kepada para pencinta qasidah,” ujar Rosita.

Menurutnya, kepercayaan yang diberikan para pencinta qasidah kepada Muslimat NU tidak terlepas dari perhatian pemerintah daerah. Dukungan anggaran dari Pemprov Malut menjadi bukti bahwa seni religi memiliki tempat penting dalam pembangunan sosial dan budaya di daerah tersebut.

“Masih memberikan kepercayaan ke Muslimat Nahdatul Ulama dengan melalui perhatian dari anggaran Pemerintah Provinsi Maluku Utara,” jelasnya.

Menutup sambutannya, Rosita menegaskan bahwa perhatian pemerintah tidak hanya menghidupkan kegiatan qasidah, tetapi juga memperkuat arah pembinaan kaum perempuan yang mencintai seni islami. Ia berharap bahwa dukungan ini akan terus berlanjut agar tradisi qasidah tetap tumbuh dan menjadi bagian penting dari identitas budaya religi masyarakat Malut. (red)