Headline Sherly Tjoanda: Talent Is the Seed, Opportunity Is the Soil

Sherly Tjoanda: Talent Is the Seed, Opportunity Is the Soil

41
Gubernur Malut Sherly Tjoanda tampil percaya diri sebagai pembicara WCCE 2026 di Jakarta. Mengenakan setelan putih yang elegan, Sherly menyampaikan gagasan tentang ekonomi kreatif menggunakan bahasa Inggris di hadapan delegasi lebih dari 80 negara. (Foto: Tangkapan layar | Instagram/S_tjo)

Gubernur Malut Sherly Tjoanda tampil sebagai pembicara dalam 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 yang digelar di Jakarta pada 15-17 Oktober 2026.

Dalam forum tersebut, Sherly menyampaikan gagasan mengenai kesetaraan kesempatan bagi anak muda di wilayah kepulauan, terutama terkait akses terhadap keterampilan, teknologi, modal, dan pasar. Berbicara menggunakan bahasa Inggris di hadapan delegasi dari lebih dari 80 negara.

Penampilan Sherly menjadi perhatian dalam forum tersebut. Tampil elegan dan menawan saat menyampaikan pandangannya dalam bahasa Inggris. Kehadirannya membawa perspektif Malut ke dalam pembahasan ekonomi kreatif yang melibatkan perwakilan berbagai negara.

Melalui akun Instagram pribadinya, Sherly mengangkat tema “Same Talent. Different Opportunity” atau talenta yang sama, tetapi kesempatan yang berbeda. Dalam unggahan yang dirujuk WARTASOFIFI.ID pada Jumat, 23 Oktober 2026, mengemukakan persoalan kesenjangan akses yang dihadapi anak muda di wilayah kepulauan.

“Talenta tidak mengenal geografi. Kesempatan masih mengenal batas,” tulis Sherly dalam unggahan tersebut.

Dalam forum WCCE 2026 di Jakarta pada 15-17 Oktober 2026, Sherly menyampaikan perspektif Malut bersama Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Muhamad Iqbal dan Wagub Jatim Emil Dardak. Diskusi tersebut dipandu Mulya Amri dan dihadiri delegasi dari lebih dari 80 negara.

Sherly juga menyampaikan apresiasi kepada Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya beserta istri serta Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar.

Gagasan yang dibawa Sherly bertumpu pada persoalan kesempatan. Anak muda di pulau-pulau kecil memiliki potensi untuk menghasilkan karya kreatif, tetapi pengembangan potensi tersebut membutuhkan dukungan akses terhadap keterampilan, teknologi, modal, dan pasar.

“Talent is the seed. Opportunity is the soil,” tulis Sherly.

Kalimat tersebut menggambarkan talenta sebagai benih dan kesempatan sebagai tanah tempat benih itu tumbuh. Dalam konteks ekonomi kreatif, potensi individu membutuhkan lingkungan yang mendukung agar dapat berkembang menjadi karya bernilai ekonomi.

Sherly menegaskan, tugas pemerintah tidak berhenti pada pembangunan pusat kreativitas atau penyelenggaraan festival. Dukungan pemerintah perlu diarahkan pada pembukaan akses pasar, penguatan keterampilan dan infrastruktur, serta perlindungan hak atas karya.

“Tugas pemerintah bukan hanya membangun creative hub atau mengadakan festival, tetapi membuka pasar, memperkuat keterampilan dan infrastruktur, serta melindungi hak atas karya,” tulis Sherly dalam pernyataannya.

Pandangan tersebut menekankan pentingnya hasil nyata dari pengembangan ekonomi kreatif. Banyaknya kegiatan tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa pelaku kreatif telah memperoleh manfaat ekonomi.

Peluang menjual karya, mendapatkan penghasilan, dan menciptakan lapangan kerja menjadi bagian penting dalam menilai hasil pengembangan sektor tersebut.

“Karena keberhasilan ekonomi kreatif bukan diukur dari banyaknya kegiatan, tetapi dari berapa banyak kreativitas menjadi penghasilan dan menciptakan lapangan kerja,” lanjut Sherly.

Untuk Malut yang memiliki karakter geografis kepulauan, pemerataan kesempatan ekonomi kreatif berkaitan dengan keterjangkauan infrastruktur, akses teknologi, peningkatan keterampilan, dan hubungan pelaku kreatif dengan pasar.

Berbagai aspek tersebut menjadi tantangan yang perlu diperhitungkan agar potensi anak muda dapat berkembang tanpa terhambat oleh jarak dan keterbatasan akses.

Walaupun gagasan tersebut disampaikan dalam forum internasional di Jakarta pada 15-17 Oktober 2026, penerapannya di daerah membutuhkan dukungan kebijakan dan program yang terukur.

Pembukaan pasar, penguatan kapasitas sumber daya manusia, perlindungan kekayaan intelektual, serta perluasan akses pembiayaan merupakan sejumlah aspek yang dapat menjadi perhatian dalam pengembangan ekonomi kreatif di Malut.

“Geography should shape our identity, not limit our opportunity. Masa depan anak muda tidak boleh dibatasi oleh pulau tempat mereka dilahirkan,” tulis Sherly sebagai penutup unggahannya.

Sumber: Instagram/S_tjo

WARTASOFIFI.ID memandang berita sebagai amanah, ditulis dengan ketelitian, dijaga dengan integritas, dan disampaikan dengan netralitas kepada masyarakat.