Sherly Tjoanda Sanjung Muslimat NU Jaga Seni dan Dakwah Melalui Qasidah

729
Gubernur Sherly Tjoanda saat memberikan sambutan pada Festival Qasidah di Alun-Alun Sofifi, Kamis 27 November 2025. WARTASOFIFI.ID/Rais Dero
Gubernur Malut Sherly Tjoanda membuka Festival Qasidah Rebana Tahun 2025 yang digelar Muslimat NU. Dalam sambutannya, Sherly menegaskan bahwa kegiatan berskala besar seperti ini menjadi bagian penting dari upaya menghidupkan kembali Sofifi sebagai ibu kota provinsi yang aktif, produktif, dan menjadi pusat kegiatan keagamaan maupun kebudayaan, di Sofifi, Kamis (27/11).
“Saya mengapresiasi, terima kasih kepada NU Muslimat. Sofifi sebagai ibu kota menjadi tuan rumah kegiatan lomba kasidah karena ini bagian dari proses mengembalikan Sofifi sebagai ibu kota lewat iven,” ujar Sherly.
Dia menekankan bahwa Festival Qasidah bukan hanya panggung kompetisi, melainkan ruang pencarian bakat, pemberdayaan perempuan, serta stimulus untuk menggerakkan UMKM lokal. Menurutnya, ratusan peserta yang hadir telah memberikan energi positif dan meningkatkan perputaran ekonomi di Sofifi.
“Kita berharap ada multiplay dari kegiatan ini. Kita mencari talenta-talenta tersembunyi dari ibu-ibu lewat qasidah rebana. Juga diharapkan dapat menumbuhkan UMKM di sini, dan membuat Sofifi ramai,” kata Sherly.

Gubernur juga menyoroti pentingnya peningkatan fasilitas penunjang setiap tahun. Ia menyebut bahwa pelaksanaan kegiatan berskala besar di Sofifi mengungkap kebutuhan terhadap penginapan, tenda, dan sarana tambahan lainnya.
“Kegiatan seperti ini membuat kita bercermin bahwa begitu banyak fasilitas yang harus kita penuhi sehingga dari tahun ke tahun kita semakin baik lagi,” ungkapnya.

Sherly kemudian memberikan apresiasi khusus kepada Ketua Panitia, Ketua Muslimat NU, serta seluruh panitia yang selama dua bulan menyiapkan kegiatan tersebut. Antusias peserta yang mencapai hampir 4.000 orang, menurutnya, menunjukkan bahwa festival ini memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat Malut.
“Yang hadir sekitar 300 orang ditambah undangan lainnya menjadi sekitar 500 orang. Terima kasih atas partisipasinya,” ujarnya.

Untuk memberikan dukungan maksimal bagi performa para peserta, Sherly memastikan bahwa pemerintah menyediakan tambahan anggaran khusus untuk perbaikan tata suara. Upaya tersebut dilakukan agar seluruh rangkaian penampilan yang telah dipersiapkan dengan latihan berbulan-bulan dapat tersampaikan dengan lebih kuat dan jelas.
Sherly menilai bahwa kualitas sound system yang baik sangat menentukan pengalaman penonton, terutama ketika acara berlangsung pada malam hari, sehingga penampilan para peserta dapat terdengar lebih bergetar dan memukau.
“Sore ini panas, tapi malam nanti pasti indah dengan cahaya dan suaranya. Saya memberikan budget ekstra untuk suara supaya ibu-ibu yang sudah latihan berbulan-bulan suaranya lebih bergetar dengan sound system yang bagus,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa keberadaan juri nasional harus ditunjang fasilitas teknis terbaik agar penilaian berlangsung maksimal. Sistem tata suara paling baik yang dimiliki Malut pun disiapkan untuk acara ini.
Sherly menegaskan komitmennya agar festival ini menjadi agenda tahunan dengan penyelenggaraan yang semakin baik. Ia telah memesan tenda besar ber-AC untuk digunakan pada kegiatan serupa di tahun mendatang, termasuk rencana penambahan penginapan baru di Sofifi.
“Kita akan membuat ini menjadi kegiatan tahunan yang semakin bagus,” katanya.

Sherly juga mengingatkan bahwa Malut berhasil meraih juara satu pada lomba Bintang Vokalis tingkat nasional, dan prestasi itu menunjukkan pentingnya menyediakan panggung yang memfasilitasi bakat masyarakat.
“Kenapa qasidah? Karena saya senang melihat ibu-ibu punya panggung untuk mengekspresikan kemampuan mereka,” ucapnya.

Menurut Sherly, seni religius seperti qasidah memiliki peran penting sebagai ruang dakwah yang menenangkan dan membangkitkan kebaikan. Ia menilai bahwa perempuan di Muslimat NU selama ini berperan menjaga nilai-nilai adat, keagamaan, dan silaturahmi sosial.
“Di tengah dunia yang cepat bergerak, kita membutuhkan seni yang menenangkan, yang mengingatkan kita tentang adat, kesyukuran, dan kebaikan,” lanjutnya.

Ia menegaskan bahwa Pemprov Malut  tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga pada penguatan nilai-nilai sosial dalam masyarakat, termasuk menjaga silaturahmi, saling menghormati, dan memperkuat ruang-ruang kebaikan yang selama ini turut dijaga oleh Muslimat NU.
“Pemprov Malut selalu menjaga silaturahmi, saling menghormati, saling bakusayang. Muslimat NU menjaga ruang-ruang kebaikan itu,” tutur Sherly.

Dalam bagian penutup sambutannya, Sherly memberikan pesan moral dan motivasi kepada seluruh peserta. Ia menegaskan bahwa festival qasidah adalah ajang silaturahmi sekaligus dakwah melalui seni. Setiap lantunan syair, katanya, membawa nilai kebaikan yang dapat menyentuh siapa pun yang mendengarkan.
“Sebagai ajang silaturahmi, seni qasidah ini adalah dakwah. Setiap yang mendengar akan memperluas kebaikan dalam diri mereka. Siapa pun yang menang, kalian semua sudah menjadi pemenang,” tegasnya.

Sherly menyampaikan bahwa kemenangan dalam kompetisi hanyalah bagian kecil dari nilai besar yang dibawa kegiatan ini. Peserta yang tampil telah memberikan yang terbaik, sementara mereka yang meraih juara satu, dua, hingga tiga diingatkan agar tidak berpuas diri dan terus meningkatkan kemampuan untuk tampil di tingkat nasional.
“Yang sudah menjadi juara jangan berbesar diri. Tingkatkan terus kesiapan untuk lanjut ke panggung nasional,” katanya.

Di akhir sambutannya, Gubernur Malut itu secara resmi membuka Festival Qasidah Rebana Tahun 2025 dan berharap setiap lantunan syair menjadi doa bagi kemajuan daerah.
“Saya resmi membuka Festival Qasidah Rebana Tahun 2025. Setiap lantunan menjadi doa, dan setiap doa membawa keberkahan untuk Maluku Utara tercinta,” tutup Sherly. (red)