Headline Sherly Tjoanda: Mereka Ingin Melihat Dunia Sekali Lagi

Sherly Tjoanda: Mereka Ingin Melihat Dunia Sekali Lagi

19
Sherly Tjoanda tampak memperhatikan kondisi mata seorang anak pasca operasi katarak. Di momen itu, ada harapan agar sang anak dapat kembali melihat dunia dengan lebih jelas. (Foto: Facebook/Sherly Tjoanda)

Sebanyak 277 mata mendapat penanganan melalui bakti sosial operasi katarak gratis yang menjadi bagian dari rangkaian HUT ke-27 Malut dan menghadirkan cerita tentang harapan, kemandirian, serta kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan dengan penglihatan yang lebih jelas di RSUD Chasan Boesoirie, Ternate, Sabtu, 24 Oktober 2026.

Makna kemanusiaan di balik kegiatan tersebut turut disampaikan melalui unggahan di Instagram. Penglihatan yang kerap dianggap biasa dapat menjadi kesempatan berharga bagi mereka yang mengalami gangguan penglihatan, terutama untuk kembali mengenali wajah keluarga, bekerja, belajar, dan menjalani aktivitas sehari-hari.

“Bagi kita, melihat itu biasa. Bagi mereka, bisa melihat jelas kembali adalah kesempatan kedua,” tulis Gubernur Malut Sherly Tjoanda, dilansir WARTASOFIFI.ID pada Minggu, 25 Oktober 2026.

Kalimat itu menghadirkan perbedaan sudut pandang tentang sesuatu yang kerap dianggap biasa. Melihat wajah anggota keluarga, mengenali lingkungan sekitar, membaca, belajar, hingga menjalankan pekerjaan sehari-hari merupakan bagian dari aktivitas yang mudah diterima begitu saja.

Bagi orang yang mengalami gangguan penglihatan akibat katarak, kesempatan untuk kembali melihat dengan jelas memiliki arti yang berbeda.

Sherly turut menggambarkan harapan seorang anak berusia 11 tahun yang berpeluang menjalani aktivitas belajar dengan penglihatan lebih baik.

Pada usia ketika rasa ingin tahu dan cita-cita mulai tumbuh, kemampuan melihat menjadi salah satu bagian penting dalam mengenali dunia dan mengikuti proses pendidikan.

“Bayangkan anak berusia 11 tahun yang kini punya harapan melihat dunia lebih jelas, belajar, dan mengejar mimpinya,” tulis Sherly.

Di antara pasien yang mendapat manfaat dari kegiatan tersebut, terdapat pula orang-orang lanjut usia yang merindukan kesempatan melihat wajah cucu mereka dengan lebih jelas. Ada pula orang tua yang ingin kembali bekerja, mencari nafkah, dan menjalankan tanggung jawab keluarga tanpa terus bergantung pada bantuan orang lain.

“Kemarin, ada 277 mata yang kembali melihat dengan terang. Oma dan opa yang bisa kembali melihat wajah cucunya. Bapak dan ibu yang bisa kembali bekerja, mencari nafkah, dan tidak terus bergantung pada keluarga,” ungkapnya.

Penggambaran itu memperlihatkan bahwa persoalan penglihatan tidak berhenti pada kemampuan mata menangkap objek. Gangguan penglihatan dapat bersinggungan dengan aktivitas keluarga, pekerjaan, pendidikan, serta ruang gerak seseorang dalam menjalani keseharian. Pemulihan penglihatan membuka peluang bagi pasien untuk kembali melakukan berbagai aktivitas yang sebelumnya terkendala.

“Ini bukan sekadar operasi mata. Ini tentang mengembalikan kemandirian, kesempatan, dan kualitas hidup seseorang,” tulis Sherly.

Pernyataan tersebut menjadi inti pesan yang disampaikan Sherly. Operasi katarak merupakan tindakan medis, sedangkan arti yang dirasakan pasien dapat melampaui ruang perawatan. Ada harapan untuk kembali mengenali wajah orang terdekat, menjalankan pekerjaan, serta mengambil bagian dalam kehidupan sosial dengan lebih leluasa.

Pelaksanaan bakti sosial itu diinisiasi Kejaksaan Tinggi Maluku Utara dalam rangka HUT ke-27 Malut. Sherly menyampaikan penghargaan kepada pihak kejaksaan, para dokter dari Himpunan Bersatu Teguh, tenaga kesehatan, RSUD Chasan Boesoirie, serta para donatur dan pihak lain yang mendukung kegiatan tersebut.

“Terima kasih kepada Kejaksaan Tinggi Maluku Utara yang menginisiasi bakti sosial operasi katarak gratis dalam rangka HUT ke-27 Provinsi Maluku Utara,” tulisnya.

Dukungan berbagai pihak juga menjadi bagian dari pelaksanaan kegiatan tersebut. Sherly secara khusus menyebut Artha Graha Oeduki dan Temas bersama para tenaga medis, tenaga kesehatan, serta pihak lain yang menyumbangkan keahlian, waktu, dan sumber daya.

“Apresiasi kepada para dokter dari Himpunan Bersatu Teguh, tenaga kesehatan, RSUD Chasan Boesoirie, donatur Artha Graha Oeduki dan Temas, serta seluruh pihak yang telah menyumbangkan keahlian, waktu, dan sumber daya,” lanjutnya.

Peringatan HUT ke-27 Malut memang telah berlangsung pada 12 Oktober 2026. Rangkaian kegiatannya masih berlanjut melalui agenda yang membawa beragam bentuk keterlibatan, termasuk bakti sosial di bidang kesehatan. Dalam kegiatan operasi katarak gratis ini, perhatian tertuju pada pasien yang berharap dapat kembali menjalani keseharian dengan lebih baik.

“Semoga seluruh pasien pulih dengan baik dan bisa kembali menjalani aktivitas yang mereka rindukan,” tulis Sherly lagi.

Harapan tersebut mengarah pada tahap setelah operasi, ketika pasien menjalani pemulihan dan berupaya kembali ke rutinitas masing-masing.

Hasil pemulihan setiap pasien tentu perlu dilihat berdasarkan kondisi medisnya, sementara harapan untuk memperoleh kualitas hidup yang lebih baik menjadi bagian penting dari tujuan pelayanan kesehatan.

Arti sebuah kegiatan kemanusiaan tidak hanya terletak pada jumlah penerima manfaat atau tindakan medis yang terlaksana. Pengalaman setiap pasien, perubahan yang mereka rasakan, serta kesempatan yang terbuka setelah perawatan menjadi bagian lain yang layak mendapat perhatian.

“Sebab, dampak terbesar bukan berapa banyak mata yang dioperasi, melainkan berapa banyak kehidupan yang berubah setelahnya,” tutup Sherly.

Sumber: Instagram/S_tjo

WARTASOFIFI.ID memandang berita sebagai amanah, ditulis dengan ketelitian, dijaga dengan integritas, dan disampaikan dengan netralitas kepada masyarakat.