Perjalanan, Kopi, dan Ikan Bakar: Teman Musafir di Bulan Puasa

147
Tangkapan layar/google

Bulan puasa bagi sebagian besar umat Muslim adalah waktu yang penuh berkah untuk beribadah, memperbanyak amalan baik, dan tentunya menjalankan kewajiban berpuasa. Namun, bagi beberapa orang yang sedang dalam perjalanan atau musafir, ketentuan puasa memiliki pengecualian.

Mereka dibolehkan untuk tidak berpuasa jika perjalanan mereka dianggap cukup jauh dan berat. Hal ini menjadi sebuah dilema tersendiri, terutama bagi para musafir yang sering berada dalam perjalanan panjang.

Pada suatu hari yang terik, dua musafir sedang berbincang di suatu tempat yang sepi. Percakapan mereka cukup menarik, menunjukkan bagaimana kedua orang tersebut menghadapinya dengan cara yang lebih santai dan penuh humor.

Musafir A memang sudah dikenal oleh banyak orang, terutama di kalangan teman-temannya, sebagai sosok yang jarang berpuasa di bulan Ramadhan.

Mungkin bagi sebagian orang, ini adalah hal yang aneh, namun bagi Musafir A, puasa bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan dalam segala keadaan. Selalu ada alasan, baik itu alasan perjalanan atau alasan lainnya yang membuatnya tidak selalu melaksanakan kewajiban puasa.

Musafir A: “Bro, ente puasa ka tarada?”

Musafir B: “Puasalah…”

Tiba-tiba, Musafir B memberi pengakuan mengejutkan, membuat percakapan mereka semakin menarik.

Musafir B: “Tadi malam kita buang-buang aer kong suak. Jadi, tadi singgah di rumah makan dekat pelabuhan itu, kita so makan ikan bakar.”

Musafir A: “Okelah kalau begitu,” sambil meminta ibu yang punya warung mini di salah satu kantor di Sofifi untuk membuatkan dua gelas kopi.

Musafir B: “So ada kopi ini baru sadap.”

Musafir A: “Iyo, karena torang dua ini musafir jadi tara bisa puasa.”

Musafir B: “Tapi kita p maitua tau kita puasa.”

Musafir A: “Sama sudah, kita juga bagitu.”

Musafir B: “Kalau begitu torang dua pulang di rumah bikin muka suak eee.”

Musafir A: “Oke, jang sampe ada yang tau bahwa torang dua tara puasa.”

Musafir B: “Tenaaang, kita so siapkan parfum ni.”

Musafir A: “Siap!”

Percakapan ini mengungkapkan keakraban dan kelucuan antara dua orang musafir yang saling memahami situasi.

Mereka tahu bahwa dalam perjalanan, ada pengecualian dalam hal berpuasa, namun cara mereka menghadapi hal tersebut dengan santai dan penuh tawa menunjukkan bahwa mereka lebih memilih untuk menikmati perjalanan dan tak membebani diri dengan hal-hal yang bisa mereka sesuaikan.

Beberapa waktu kemudian, keduanya bertemu lagi di tempat yang sama.

Musafir A: “Ente puasa?”

Musafir B: “Iyo, kita puasa. Cuma tadi malam maitua tara kase bangun sahur kong.”

Musafir A: “Berarti tong pasang kopi?”

Musafir B: “Boleh.”

Pada pertemuan kedua ini, suasana berubah sedikit lebih serius. Musafir A mulai membuka cerita lebih dalam mengenai kebiasaannya di bulan puasa.

Musafir A: “Kita tiap malam sahur, cuma kalu so keluar bagini tu kita tara mampo tahan kalu tara ba isap rokok deng minum kopi.”

Tanpa disadari, ternyata pernyataan Musafir A tersebut ada kesamaan dengan Musafir B. Mereka berdua ternyata memiliki kebiasaan yang hampir sama.

Musafir B: “Kita juga bagitu, jaga sahur cuma kalu so sampe pelabuhan spid Sofifi tu kita inga cuma ikan bakar.”

Musafir A: “Ikan bakar di pelabuhan tu sadap?”

Musafir B: “Sadap sekali, kalu ente mau torang dua turun kabawa supaya tong nongkrong di bawah sudah.”

Musafir A: “Iyo eee, kalu disini cuma ada kopi tarada makanan.”

Musafir B: “Percuma tong tara puasa baru tong tara makan tu.”

Musafir A: “Butul itu.”

Setelah percakapan yang cukup seru ini, Musafir A dan Musafir B pun bergegas keluar dari ruang yang sepi itu, dan mereka berdua menuju rumah makan ikan bakar di pelabuhan Sofifi seperti yang dimaksudkan oleh Musafir B.

Dengan mengendarai motor roda dua yang sudah tua, yang penuh dengan sejarah—termasuk pernah ditumpangi oleh salah satu Pj. Bupati di salah satu kabupaten di Provinsi Maluku Utara, mereka berdua pun melanjutkan perjalanan.

Setibanya di rumah makan yang dimaksud, Musafir A dan Musafir B tanpa ragu langsung memesan dua ikan bakar. Ikan bakar yang disajikan ternyata lezat, dengan bau yang menggoda para pengunjung, membuat siapa pun yang lewat ingin mencicipinya.

Musafir B: “Ikan bakar sadap to?”

Musafir A: “Iyo, sadap sekali. Mulai hari ini torang dua tampa makan disini sudah.”

Musafir B: “Oke, tapi disamping kalao itu boleh torang ngopi sambil lia-lia narasumber supaya tong dua wawancara.”

Ternyata, keduanya sedang menikmati masa-masa bersama di tempat yang mereka pilih, tanpa ada tekanan untuk berpuasa, meskipun sedang berada dalam bulan suci. Meskipun mereka tidak berpuasa, semangat untuk bekerja dan menjalani aktivitas tetap ada, dan mereka menikmati bulan puasa dengan cara mereka sendiri.

Namun, sebagai manusia, diyakini bahwa perubahan pasti akan terjadi. Tidak ada yang tetap dalam hidup ini, begitu juga dengan dua musafir ini.

Mereka berdua mulai merasakan perubahan dalam diri mereka seiring berjalannya waktu. Tahun 2025 membawa angin segar bagi mereka.

Di bulan Ramadhan tahun 2025, mereka berdua kembali bertemu. Kali ini, suasananya berbeda. Ada tekad yang lebih kuat dalam hati mereka.

Musafir A: “Bro, tahun ini kita harus berpuasa, meskipun tetap musafir. Kita sudah lama terlalu santai. Sekarang saatnya kita berubah.”

Musafir B: “Iyo, kita komitmen tahun ini untuk puasa. Meski kita masih musafir, kita sudah belajar banyak. Puasa itu bukan hanya soal menahan lapar, tapi juga soal pengendalian diri.”

Keduanya akhirnya sepakat untuk berpuasa meski tetap menjalani tugas sebagai musafir. Mereka tahu, bahwa perubahan dalam hidup adalah sesuatu yang wajar dan diperlukan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Puasa kini bukan lagi hanya kewajiban, tetapi juga sebuah langkah menuju kedewasaan dan keikhlasan dalam menjalani kehidupan.

Cerita ini mengajarkan kita bahwa, seperti halnya Musafir A dan Musafir B, setiap orang bisa berubah dan menemukan jalan yang lebih baik, meskipun perjalanan itu penuh tantangan.

Perubahan itu bukan hanya soal kebiasaan, tetapi juga tentang niat, komitmen, dan semangat untuk menjadi lebih baik, terutama di bulan yang penuh berkah ini.