Penurunan Stunting Maluku Utara Capai 2,4 Persen

294
Kepala Bappeda Malut, Muhammad Sarmin S. Adam (Foto: Istimewa)

WARTASOFIFI.ID Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Maluku Utara, Muhammad Sarmin S. Adam, memaparkan kondisi terkini prevalensi stunting di wilayah Maluku Utara. Beberapa kabupaten/kota tercatat mengalami kenaikan signifikan, di antaranya Pulau Taliabu (6,9 persen), Kota Ternate (3,4 persen), Halmahera Barat (2,2 persen), dan Kota Tidore Kepulauan (2,2 persen).

Dalam sambutannya pada kegiatan penilaian kinerja delapan aksi konvergensi penurunan stunting di Bela Hotel, Ternate, Selasa (11/6/2024), Sarmin menegaskan pentingnya kerja keras pemerintah daerah dalam menekan angka stunting. “Diharapkan kabupaten/kota bekerja keras untuk mengendalikan angka prevalensi stunting melalui intervensi gizi spesifik dan sensitif,” ujar Sarmin.

Stunting, yang merupakan gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, ditandai dengan tinggi badan anak yang berada di bawah standar kesehatan. Sarmin menekankan bahwa penanganan masalah ini memerlukan koordinasi lintas sektor, baik dari sisi perencanaan, penganggaran, maupun pengendalian.

“Pj. Gubernur sebagai wakil pemerintah pusat melaksanakan penilaian kinerja pemerintah kabupaten/kota, dan hasilnya akan diumumkan secara nasional oleh Kementerian Dalam Negeri,” jelasnya.

Sarmin juga mengapresiasi kabupaten/kota yang berhasil menurunkan prevalensi stunting secara signifikan. Berdasarkan data Survey Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022-2023, prevalensi stunting di Maluku Utara turun sebesar 2,4 persen, dari 26,15 persen pada 2022 menjadi 23,7 persen pada 2023.

Kabupaten Pulau Morotai, Halmahera Timur, dan Kepulauan Sula mencatat penurunan terbesar, masing-masing sebesar 19,5 persen, 13,3 persen, dan 9,7 persen. “Apresiasi tinggi diberikan kepada kabupaten/kota yang berhasil menurunkan prevalensi stunting,” tambahnya.

Secara nasional, tren penurunan prevalensi stunting juga terlihat. Pada 2023, angka stunting nasional turun menjadi 21,5 persen dari 21,6 persen pada tahun sebelumnya. Sarmin menegaskan bahwa target nasional dan provinsi untuk tahun 2024 adalah menurunkan angka prevalensi menjadi 14 persen.

Namun, masih ada tantangan, seperti yang dihadapi Halmahera Timur, yang baru menyelesaikan 93 persen laporan aksi konvergensi stunting akibat belum menyelesaikan penginputan pada beberapa indikator.

“Kami berharap seluruh kabupaten/kota dapat meningkatkan sinergi dalam mengatasi stunting, karena ini adalah langkah penting untuk memastikan masa depan generasi penerus yang sehat dan produktif,” pungkas Sarmin. (red)