
WARTASOFIFI.ID – Aspirasi masyarakat Malut untuk mendorong pemekaran Daerah Otonomi Baru (DOB) Sofifi semakin menguat. Selasa (22/7) ratusan warga dari berbagai daerah di Malut kembali menggelar aksi damai di depan kantor Gubernur Malut, Sofifi. Sekitar pukul 11.30 WIT, massa mulai memadati area depan kantor pemerintahan tersebut sambil membawa berbagai atribut dan pamflet, salah satunya mencuri perhatian yaitu sebuah pamflet yang bertuliskan “Janda Barumadoe Dukung DOB Sofifi” Warnai Aksi di Kantor Gubernur yang dibentangkan oleh seorang ibu mengenakan topi putih.
Aksi yang diikuti kurang lebih 100 orang tersebut berlangsung di bawah terik matahari, namun semangat para peserta tidak surut. Mereka berorasi, menyuarakan harapan, dan menuntut agar Gubernur Malut, Sherly Tjoanda, memberi perhatian serius terhadap perjuangan pemekaran wilayah Sofifi menjadi daerah otonom baru.
Salah satu orator aksi, Baim, dengan suara lantang menyampaikan keresahan masyarakat yang merasa diabaikan selama bertahun-tahun.
“Kami mohon dengan sangat, Gubernur Malut agar melihat dan mendengar jeritan orang-orang kecil ini, agar melihat tangisan anak-anak kami,” seru Baim.
Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa aspirasi yang terus disuarakan tidak boleh dianggap angin lalu. Harapan masyarakat Malut terhadap pemerintah provinsi sangat besar, terutama dalam mewujudkan pemerataan pembangunan melalui pemekaran wilayah.
“Kami mohon dengan sangat agar Gubernur Malut jangan mengecewakan jutaan aspirasi masyarakat Malut,” tegasnya.
“Jangan menghianati Pasal 91 Ayat 1 dan Pasal 20 Ayat 2, yang memerintahkan bahwa Ibu Kota Provinsi Malut yang berkedudukan di Sofifi selambat-lambatnya difungsikan 5 tahun, tapi ini sudah 25 tahun,” sambungnya.
Baim juga menegaskan bahwa aksi ini bukan sekadar unjuk rasa biasa, melainkan suara dari hati yang telah lama menahan ketidakpastian.
“Untuk itu, di bawah terik matahari ini kami sampaikan kegelisahan kami. Kami suarakan kegundahan kami. Tidak ada kata lain, tidak ada tawar-menawar,” serunya.
Orator lainnya juga menyampaikan, bahwa perjuangan ini merupakan gerakan bersama masyarakat Oba dan didukung penuh oleh warga dari berbagai wilayah.
“Perjuangan DOB Sofifi ini berada di belakang Gubernur. Kami orang Oba yang mendukung penuh pemekaran ini,” ucapnya.
Sementara itu, Wahyu, peserta aksi asal Halut, turut menyuarakan pandangannya. Ia mengaku datang jauh-jauh tanpa biaya dari siapapun, hanya demi menyampaikan dukungannya terhadap perjuangan DOB Sofifi.
“Percuma Gubernur bicara di pusat tapi tanpa dukungan masyarakat, pasti tidak bisa. Percuma Gubernur bicara di hadapan Presiden tapi kita tidak mendukung. Untuk itu kita semua harus mendukung DOB Sofifi ini,” tegas Wahyu.
Wahyu menambahkan bahwa keterlibatan seluruh elemen masyarakat sangat penting untuk mendorong pemerintah pusat agar segera merealisasikan pemekaran.
“Saya dari Halut datang dari jauh untuk menyampaikan pendapat saya, tanpa ada yang biayai. Kami sebagai putra daerah wajib mendukung DOB Sofifi,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan keyakinannya terhadap kepemimpinan Gubernur Sherly Tjoanda yang dinilai cerdas dan mampu menangkap aspirasi masyarakat.
“Buat Gubernur Malut, biar tidak ada di sini, namun dengan kecerdasan Ibu Gubernur, kami yakin beliau mampu melihat dan mendengar hati nurani kami yang menginginkan DOB Sofifi dimekarkan,” tutup Wahyu.
Aksi tersebut berlangsung tertib, dan para peserta menyatakan akan terus mengawal aspirasi mereka hingga ada kejelasan dari pemerintah provinsi dan pusat terkait status DOB Sofifi. Dukungan dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk yang datang dari luar Sofifi, menjadi bukti bahwa perjuangan ini bukan hanya lokal, tetapi telah menjadi aspirasi kolektif warga Malut. (red)




