Julys Giscard Kroons Optimis Serap Anggaran 100 Persen

114
Plt Kepala Dinas Kesehatan Malut, Julys Giscard Kroons. Foto: Warta Sofifi

WARTASOFIFI.ID – Plt Kepala Dinas Kesehatan Malut, Julys Giscard Kroons, menegaskan keyakinannya bahwa seluruh anggaran Dinas Kesehatan Malut untuk tahun 2025 akan terserap penuh, bahkan diproyeksikan mencapai 100 persen pada akhir Desember mendatang. Pernyataan ini ia sampaikan kepada wartawan usai mengikuti rapat dengan Komisi IV DPRD Malut yang membidangi sektor kesehatan, Kamis (4/9), di kantor DPRD Sofifi.

Rapat tersebut membahas APBD Perubahan dan pelaksanaan program-program prioritas di Dinas Kesehatan Malut. Selain Dinas Kesehatan, rapat juga dihadiri Dinas Pendidikan dan Kesra, menunjukkan sinergi lintas OPD dalam memastikan program berjalan optimal.

“Kami menghadiri undangan dari Komisi IV yang membidangi kesehatan, jadi yang diundang dinas kesehatan, pendidikan, dan Kesra,” ujar Julys Giscard Kroons.

Menurut Julys, sejumlah program prioritas, terutama Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), menghadapi keterbatasan anggaran. Namun, kekurangan dana tersebut telah diakomodir melalui APBD Perubahan, sehingga keberlanjutan program tetap terjamin.

“Jadi, pembahasan ini ada beberapa program kita yang memang anggarannya tidak mencukupi, contohnya itu terkait dengan program prioritas JKN. Anggaran yang tidak mencukupi itu di APBD Perubahan, kita bersyukur sudah diakomodir,” katanya.

Julys menekankan bahwa program yang berkelanjutan sangat penting agar manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat, khususnya peserta JKN yang membutuhkan layanan kesehatan.

“Jadi, ini memastikan bahwa program ini akan berkesenambungan, dan tentunya program ini juga sangat bermanfaat bagi masyarakat atau peserta JKN dalam mengakses pelayanan kesehatan,” imbuhnya.

Hingga saat ini, penyerapan anggaran Dinas Kesehatan tercatat sebesar 67 persen untuk APBD, sementara penyerapan DAK fisik baru mencapai 15 persen. Dengan data ini, Julys optimis seluruh anggaran dapat terserap maksimal pada Desember mendatang.

“Jadi, penyerapan anggaran kita sudah 67 persen; penyerapan anggaran kita sudah 67 persen untuk APBD, sementara untuk DAK fisiknya sudah 15 persen,” ujarnya.

Julys menegaskan bahwa tidak ada adendum dalam pelaksanaan program karena sebagian besar anggaran difokuskan pada pengadaan obat yang bersumber dari DAK non-fisik, sebagian besar obat sudah tersedia di gudang.

“Tidak ada adendum, karena kita tidak ada pekerjaan fisik dan ini hanya pengadaan obat serta bersumber dari DAK non fisik. Sementara sebagian obat juga sudah dikirim dan sudah ada di gudang,” tambahnya.

Ia menambahkan, setelah dokumen administrasi dan pemeriksaan lengkap, permintaan pembayaran akan segera diajukan untuk memastikan kelancaran program.

“Mungkin setelah dilakukan pemeriksaan dan lengkap, kita akan melakukan permintaan; permintaan untuk pembayaran,” tutur Julys.

Fokus utama Dinas Kesehatan saat ini adalah Rumah Sakit Chasan Boesoerie, yang ditetapkan sebagai KJSU utama, pusat penanganan kanser, jantung, stroke, dan urologi, sekaligus menjadi rujukan bagi rumah sakit kabupaten/kota yang belum mampu menangani kasus kompleks.

“Jadi, untuk Rumah Sakit Chasan Boesoerie memang itu ditetapkan kemarin sebagai KJSU utama, jadi menjadi pusat penanganan kanser, jantung, stroke, dan urologi dengan status utama,” ungkapnya.

Koordinasi antar rumah sakit menjadi prioritas agar pasien dari rumah sakit Madya yang tidak mampu menangani kasus tertentu dapat dirujuk ke fasilitas yang lebih lengkap.

“Jadi, nanti rumah-rumah sakit Kabupaten/Kota yang statusnya Madya, pada saat tidak bisa menangani, akan dirujuk ke Chasan Boesoerie,” jelas Julys.

Proyek pembangunan Cath Lab menjadi prioritas utama untuk meningkatkan layanan kardiologi, dan Julys berharap pekerjaan fisik dan persiapan peralatan rampung akhir tahun ini agar fasilitas dapat beroperasi pada 2026.

“Nah, terkait ini sudah mulai dilakukan pemenuhan, jadi kita berharap di akhir tahun ini pekerjaan Cath Lab bisa selesai, tuntas, dan dapat beroperasi di tahun depan, 2026,” imbuhnya.

Pekerjaan fisik di Rumah Sakit Jiwa juga menjadi fokus, berupa rehabilitasi yang bersumber dari DAK, diharapkan selesai bersamaan dengan upaya akreditasi rumah sakit.

“Terus, untuk Rumah Sakit Jiwa juga sama; tahun ini ada pekerjaan fisik melakukan rehabilitasi bersumber dari dana DAK. Ini kami harapkan juga di bulan Desember ini bisa tuntas, dan kita akan dorong untuk akreditasi Rumah Sakit Jiwa,” ujarnya.

Setelah akreditasi selesai, Julys berharap dapat menjalin kerja sama dengan BPJS Kesehatan, sehingga masyarakat dapat mengakses layanan kesehatan tanpa terbebani biaya.

“Setelah akreditasi, kita berharap bisa ada kerja sama dengan BPJS Kesehatan. Kalau sudah kerja sama, ya berarti ini memudahkan bagi masyarakat untuk mengakses pelayanan kesehatan. Jadi, tidak perlu memikirkan biaya karena ditanggung, maksudnya sudah gratis oleh BPJS,” tambahnya.

Program bantuan rujukan juga telah berjalan efektif, terutama bagi pasien yang memerlukan perawatan di luar daerah karena kondisi medis tidak dapat ditangani di fasilitas lokal.

“Jadi, kalau yang dirujuk kemarin, kami sudah sekitar 19 pasien. Ini program bantuan rujukan untuk pasien-pasien yang memang tidak bisa ditangani di Chasan Boesoerie dan perlu dirujuk ke luar,” jelas Julys.

Kerja sama dengan pihak ketiga, termasuk Wasana Bahagia, menanggung biaya pasien dari desil 1 hingga 4, sementara pasien desil 5 menjadi tanggungan Dinas Kesehatan Malut, sehingga akses layanan kesehatan tetap terjamin.

“Ini kita bekerjasama dengan tiga pihak, jadi Wasana Bahagia menanggung pasien-pasien yang masuk dalam desil 1 hingga 4. Terus, kalau di luar (daerah, red) itu sampai desil 5, ini menjadi tanggungan Dinas Kesehatan,” katanya.

Kolaborasi antar-institusi antara Dinas Kesehatan, Wasana Bahagia, dan Dinas Sosial berjalan lancar, memastikan program rujukan dan layanan pasien tetap optimal.

“Dan alhamdulillah, selama ini kerja sama kita atau kolaborasi dengan Wasana, terus Dinas Sosial, berjalan dengan lancar. Jadi, belum ada hambatan yang berarti,” ujarnya.

Selain itu, koordinasi juga mencakup pemantauan pasien yang dirujuk ke luar daerah, termasuk pengaturan pemulangan jenazah pasien yang meninggal.

Julys menekankan bahwa pemulangan jenazah dilakukan dengan penuh perhatian, hingga sampai ke domisili keluarga. Contohnya, termasuk salah pasien yang meninggal di Makassar baru-baru ini.

“Ini saya kurang hafal, tapi kemarin saya lihat ada satu yang meninggal. Dan ini juga kita berikan bantuan untuk pemulangan jenazahnya hingga sampai ke tempat domisilinya, yang di Makassar,” jelasnya. (red)