Harga Beras Melonjak, Disperindag Malut Pantau Ketat Pasar

125
Beras disalah satu toko dengan berbagai harga yang variasi (Foto: Istimewa)

WartaSofifi.id – Harga beras di beberapa daerah di Provinsi Maluku Utara terus mengalami kenaikan yang signifikan.

Fenomena ini tak hanya terjadi di Maluku Utara, melainkan juga di banyak daerah lainnya di Indonesia.

Hal ini menjadi perhatian serius bagi masyarakat yang semakin terbebani oleh kenaikan harga bahan pokok.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Maluku Utara, Yudhitya Wahab, mengakui bahwa kenaikan harga beras memang menjadi fenomena nasional.

Saat dikonfirmasi pada Minggu, 15 September 2024, ia menyebut pihaknya terus melakukan pemantauan dan pengawasan harga beras di lapangan.

“Kenaikan harga beras ini memang terjadi secara nasional. Kami dari Disperindag terus melakukan tugas pemantauan dan pengawasan di lapangan untuk memastikan ketersediaan stok dan pergerakan harga,” jelas Yudhitya.

Namun, ia juga menegaskan bahwa menekan kenaikan harga beras bukanlah hal yang mudah. Salah satu penyebab utama kenaikan ini adalah harga yang diterima pedagang lokal dari pemasok di luar Maluku Utara.

“Pedagang lokal kita menyesuaikan harga sesuai dengan kondisi ekonomi saat ini. Jika mereka mendapatkan harga tinggi dari luar daerah, otomatis mereka juga akan menjual dengan harga yang lebih tinggi,” ungkapnya.

Selain itu, Yudhitya juga menambahkan bahwa faktor logistik dan distribusi turut menjadi kendala dalam menjaga stabilitas harga.

Dalam beberapa kesempatan pemantauan, Disperindag menemukan bahwa harga beras di lapangan dipengaruhi oleh biaya distribusi yang semakin tinggi, terutama bagi pedagang yang harus mendatangkan beras dari luar Maluku Utara.

Hasil pantauan lapangan yang dilakukan oleh wartasofifi.id di sejumlah toko distributor di Sofifi mengungkapkan bahwa kenaikan harga beras semakin memprihatinkan.

Di beberapa toko distributor tersebut, harga beras terus melonjak dan sulit dikendalikan. Bahkan, pantauan di Pasar Galala memperlihatkan situasi yang lebih parah, di mana harga beras untuk ukuran 25 kilogram tembus hingga Rp 400 ribu.

Angka ini jauh di atas harga normal, yang menambah beban ekonomi bagi masyarakat.

Fenomena kenaikan harga yang ekstrem ini menjadi salah satu bukti nyata bahwa intervensi pasar yang dilakukan pemerintah perlu diperkuat, terutama untuk mengendalikan inflasi bahan pokok, termasuk beras.

Namun, Yudhitya Wahab mengakui bahwa menekan harga ke titik normal merupakan tantangan besar mengingat sebagian besar beras di Maluku Utara dipasok dari luar daerah.

Meski demikian, Yudhitya berharap harga beras bisa tetap stabil pada posisinya saat ini.

Namun, ia tidak menampik kemungkinan terjadinya kenaikan harga dalam beberapa waktu ke depan, mengingat permintaan terhadap bahan pokok, termasuk beras, akan meningkat tajam.

“Tidak menutup kemungkinan harga beras akan naik lagi karena permintaan untuk semua barang pokok biasanya meningkat signifikan. Konsumsi masyarakat cenderung lebih tinggi,” jelasnya. (red)