Gimik? Tidak. Ini Tentang Seorang Sherly Tjoanda yang Tak Tega Melihat Anak-anak Pramuka Kepanasan

378
Sherly Tjoanda

WARTASOFIFI.ID – Di tengah panas yang menyengat di Lapangan Sasadu Jailolo, Minggu 20 Juli 2025, sebuah pemandangan yang tak biasa terekam mata dan hati. Bukan karena protokol mewah atau parade jabatan, melainkan karena sikap seorang pemimpin yang memilih mendekat, bukan menjauh.

Pada momen itu, Gubernur Malut Sherly Tjoanda, yang akrab disapa Bunda Sherly oleh anak-anak pramuka, menanggalkan kenyamanan simbolis seorang pejabat tinggi dan menukar tempatnya di atas panggung kehormatan dengan barisan bocah-bocah berseragam pramuka yang berdiri di bawah terik matahari.

Pukul 11.38 WIT, tanpa menunggu aba-aba protokoler, Bunda Sherly melangkah turun dari podium, bukan untuk meninggalkan panggung, tetapi untuk mendekat pada nurani.

Ia berdiri di tengah anak-anak, menyatu dalam kerumunan, membiarkan tubuhnya terpanggang di bawah matahari yang sama, dalam semangat yang sama.

Selama sekitar 15 menit, ia tak memilih tempat terhormat di atas panggung, melainkan memilih berdiri sejajar dengan bocah-bocah berseragam pramuka yang menatapnya dengan mata penuh harapan. Di sana, kepemimpinan tidak menjulang, tapi merunduk rendah pada kemanusiaan.

Bunda Sherly tidak hanya datang sebagai seorang gubernur yang membawa otoritas, tetapi juga dengan naluri keibuan yang kuat. Dalam suasana yang bersahaja.

Ia menyampaikan pesan-pesan yang lahir dari empati, bukan sekadar formalitas melainkan respons tulus terhadap kondisi anak-anak yang berdiri di bawah terik matahari.

“Bahwa adik-adik, anak-anak Maluku Utara, semuanya pintar dan semuanya punya potensi yang luar biasa, punya masa depan yang luar biasa,” ujarnya.

Tidak tampak sekat antara pemimpin dan rakyatnya. Yang terlihat hanyalah kebersamaan yang hangat dan semangat yang menyatu dalam suasana penuh ketulusan.

Di tengah barisan anak-anak pramuka yang berdiri di bawah panas matahari, Bunda Sherly memilih menyatu, bukan menjauh. Ia tidak memerintah dari atas, melainkan hadir di tengah.

Langkahnya mencerminkan pesan yang kuat: kepemimpinan bukan hanya tentang instruksi, tapi tentang partisipasi. Ia tak datang dengan gaya birokrat yang kaku, melainkan dengan wajah seorang ibu yang peduli dan sadar bahwa kehadiran adalah bahasa paling kuat dari sebuah perhatian.

“Kami yang ada di sini semua bekerja keras untuk memastikan masa depan adik-adik semua,” tambahnya.

Bunda Sherly tak hanya datang membawa pujian. Ia menyampaikan penghargaan atas semangat anak-anak, tetapi juga tak menutup mata pada kenyataan yang harus dihadapi bersama. Kepemimpinan baginya bukan sebatas memberi semangat, tapi juga mengakui tantangan secara jujur.

Di hadapan ratusan anak-anak pramuka yang berdiri berpanas-panasan, ia memilih bersikap terbuka. Tidak ada kalimat manis yang dibuat-buat, justru ia membuka ruang untuk kejujuran dan evaluasi bersama.

“Tapi saya juga tahu, masih banyak PR. Harus perbaiki sekolah,” ujarnya kembali.

Setelah menyampaikan isi hatinya dengan tulus, Sherly Tjoanda tak berhenti pada sekadar penyampaian sambutan. Ia mengajak anak-anak terlibat dalam dialog terbuka. Gaya kepemimpinannya bukan sekadar memberi instruksi, melainkan menciptakan ruang percakapan yang aktif dan mendengarkan.

Dengan sikap yang hangat namun bermakna, ia melontarkan pertanyaan sederhana, pertanyaan yang justru menyentuh inti persoalan, menggugah anak-anak untuk menilai sendiri kondisi fasilitas pendidikan yang mereka alami setiap hari.

“Siapa yang sekolahnya sudah bagus? Siapa yang sekolahnya masih jelek?” tanyanya.

Ia tidak berbicara panjang tentang proyek-proyek besar, tapi langsung menyentuh hal-hal paling mendasar yang dibutuhkan anak-anak untuk belajar dan berkembang. Di titik ini, kritik dan empati menyatu dalam satu tarikan napas.

Sherly Tjoanda tidak menjanjikan bulan dan bintang. Ia berbicara tentang buku, perpustakaan, dan taman bermain. Karena hal-hal sederhana yang selama ini justru sering diabaikan dalam diskusi besar tentang pendidikan.

“Bunda juga tahu bahwa perpustakaannya masih kurang buku. Nanti ditambahkan. Masih kurang tempat main? Nanti ditambahkan. Jangan baku dorong,” ucapnya, menasihati anak-anak agar tetap rukun.

Percakapan itu tidak berhenti pada basa-basi. Dialog antara pemimpin dan generasi penerus berlangsung akrab dan menyenangkan. Dengan nada bersahabat, Bunda Sherly mengajukan pertanyaan yang membangkitkan semangat dan memantik harapan anak-anak.

“Siapa yang mau jadi dokter?” tanyanya.

Serentak, suara anak-anak membahana dengan antusias.

“Sayaaa!” jawab mereka lantang.

Ia pun melanjutkan dengan menyebut satu per satu profesi lainnya, seperti polisi, tentara, arsitek, pengacara, hingga gubernur. Respon anak-anak tetap sama, yaitu polos, tapi penuh harapan.

“Sayaaa!” sahut mereka beramai-ramai.

Lalu ia menguji semangat itu dengan satu pertanyaan menantang.

“Siapa yang mau jadi gubernur? Bisa ka tarada?” tanyanya.

Dan lagi-lagi, jawaban penuh percaya diri menyambutnya.

“Sayaaa!” seru mereka tanpa ragu.

Tak hanya memberi motivasi, Bunda Sherly juga membuka ruang dialog dua arah. Ia memberi kesempatan kepada anak-anak untuk menyampaikan harapan maupun pertanyaan secara langsung.

“Ada yang mau bilang sesuatu ke Bunda, atau ada yang mau tanya sesuatu ke Bunda?” ujarnya.

Salah satu anak dari SD GMIH Tedeng pun mengangkat tangan. Ia meminta agar Bunda Sherly mengunjungi sekolah mereka.

“Jauh ka tarada dari sini?” tanya Bunda Sherly, lalu menambahkan, “Oke, Ibu akan hadir ke sana,” jelasnya.

Dua anak lain dari SD Inpres 15 Halbar turut mengacungkan tangan. Mereka tidak hanya antusias menjadi peserta, tapi juga berharap sekolah mereka mendapatkan kunjungan langsung dari orang nomor satu di Malut. Meski suasana riuh, suara mereka tetap terdengar jelas, membawa harapan yang sederhana namun tulus.

Mendengar permintaan itu, Bunda Sherly tersenyum. Tanpa ragu, ia langsung memberikan jawaban yang meyakinkan, seakan tak ingin mengecewakan mereka.

“Oke, nanti Ibu datang ke sekolah karena diundang oleh adik Tias,” ujarnya.

Respons tersebut disambut sorak sorai dari anak-anak. Bagi mereka, kedatangan seorang gubernur ke sekolah bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk penghargaan atas eksistensi mereka sebagai generasi penerus.

Tak berhenti pada janji kunjungan, Sherly Tjoanda melanjutkan dengan komitmen yang lebih konkret. Ia menyadari bahwa kebutuhan pendidikan anak-anak bukan hanya soal kehadiran, tapi juga dukungan nyata dalam bentuk fasilitas dasar.

Dengan nada yang tegas namun hangat, ia menyampaikan janjinya kepada seluruh peserta.

“Nanti saya kirim buku tulis agar dibagikan kepada semua yang ada di sini,” ucapnya tegas.

Beberapa guru dan pembina pramuka yang menyaksikan pun tampak mengangguk pelan, memberi apresiasi atas kepedulian tersebut.

Janji itu menjadi tanda bahwa perhatian pemimpin tidak hanya hadir saat pesta, tapi juga menyentuh kebutuhan paling mendasar dalam dunia pendidikan.

Kemudian tibalah saat yang dinantikan, yakni pembukaan resmi kegiatan Pesta Siaga. Namun, momen itu tidak dikemas dengan kaku. Sebaliknya, Sherly mengubahnya menjadi perayaan kecil yang akrab dan penuh semangat.

Ia berdiri tegap, memandang seluruh peserta yang sudah berkumpul, lalu membuka dengan suara lantang namun bersahabat.

“Selamat berlomba. Dengan ini, saya Sherly Laos, Gubernur Maluku Utara, menyatakan pembukaan Pesta Siaga. Diharapkan adik-adik mengikuti lomba ini dengan sportivitas dan semangat!” ujarnya.

Sorak-sorai anak-anak menggema di lapangan. Dengan tepuk tangan khas pramuka yang ia pandu sendiri, suasana kian semarak, memunculkan semangat yang tulus dan menyala dari seluruh penjuru.

“Tepuk Pramuka, mulai!” serunya lantang.

“Tepuk Pramuka!” ulangnya.

“Tepuk Pramuka!” katanya lagi untuk ketiga kalinya, yang disambut kompak oleh anak-anak dengan antusias yang tak dibuat-buat.

Sebelum beranjak menuju panggung utama, ia melambaikan tangan ke arah anak-anak dengan senyum ramah yang tak dibuat-buat.

“Oke, da da semuanya. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh,” ucapnya, mengakhiri sesi obrolan itu.

Namun, kisah tentang kepedulian itu tak berhenti di situ. Pada pukul 12.04 WIT, Gubernur Malut melanjutkan agendanya dengan mengunjungi RSUD Jailolo, menjenguk pasien pascaoperasi katarak.

Lalu, pada pukul 13.18 WIT, ketika ditanya wartawan mengenai semangatnya berdiri di bawah terik matahari bersama anak-anak, jawabannya mengandung muatan moral yang jauh melampaui basa-basi politis.

“Saya sangat semangat, karena anak-anak saja semangat. Bagaimana dengan kita sebagai orang dewasa?” ucapnya lugas, sekaligus mengajak untuk merenung.

Baginya, Pramuka bukan sekadar barisan seragam atau hafalan yel-yel, melainkan medium pembentukan karakter bangsa sejak dini.

“Karena Pramuka ini baik untuk membentuk karakter anak Indonesia,” jelasnya tegas. (red)