
WARTASOFIFI.ID – Saat takbir mulai menggema, menggetarkan hati jutaan umat Muslim yang bersiap menyambut hari kemenangan, ada sekelompok orang yang masih bergulat dengan kesedihan dan ketidakpastian. Mereka adalah para petugas kebersihan dan keamanan di Kantor DPRD Malut, pekerja yang selama ini menjaga kebersihan, keamanan, dan ketertiban kantor legislatif, tetapi kini justru terabaikan hak-haknya.
Di tengah hiruk-pikuk persiapan Idulfitri 1446 Hijriah, mereka harus menghadapi kenyataan pahit, gaji yang seharusnya menjadi sandaran hidup belum sepenuhnya mereka terima. Hingga kini, mereka baru mendapatkan gaji untuk bulan Januari 2025, sementara upah bulan Februari masih tertunggak tanpa kepastian kapan akan dibayarkan.
Seorang petugas mengungkapkan keluhannya dengan nada lirih. “Torang pe gaji dari kantor baru bayar bulan Januari, bulan Februari bolong bayar,” ujarnya, Sabtu (30/3).
Bukan hanya gaji yang tertunda, tunjangan hari raya (THR) yang diharapkan bisa menjadi penopang di hari suci juga jauh dari bayangan. Alih-alih uang atau bahan pokok, mereka hanya menerima tiga lusin minuman ringan, satu lusin Fanta, satu lusin Sprite, dan satu lusin Coca-Cola.
“THR ini cuma dapa minuman,” tambahnya, seolah tak percaya bahwa jerih payah mereka hanya dihargai dengan beberapa botol minuman manis.
Kekecewaan yang kian menumpuk akhirnya memuncak dalam aksi mogok kerja. Para petugas kebersihan sempat menghentikan pekerjaan mereka selama lebih dari dua minggu, sebagai bentuk protes terhadap ketidakadilan yang mereka alami. Namun, bahkan aksi itu pun belum mampu menggoyahkan hati mereka yang seharusnya bertanggung jawab atas hak-hak para pekerja ini.
Seorang pejabat di lingkup Sekretariat DPRD Malut menyebutkan bahwa tahun ini, sistem pengelolaan petugas kebersihan dan keamanan mengalami perubahan. Jika sebelumnya anggaran mereka dikelola secara swakelola oleh pihak sekretariat, kini pengelolaannya diserahkan kepada pihak ketiga. Sayangnya, hingga kini proses administrasi masih berlangsung tanpa kepastian kapan pembayaran akan dilakukan.
Plh Sekretaris Dewan (Sekwan) DPRD Malut, Isman Abbas, yang telah dikonfirmasi sejak Jumat (28/3), hingga berita ini diterbitkan belum memberikan penjelasan resmi.
Sementara di sisi lain, para petugas hanya bisa menunggu. Menunggu gaji yang belum dibayar. Menunggu kejelasan yang tak kunjung datang. Menunggu kepedulian dari mereka yang punya kuasa untuk mengubah nasib mereka.
Bagi sebagian orang, Idulfitri adalah momen kebahagiaan. Baju baru dibeli, hidangan terbaik tersaji di meja, dan amplop-amplop berisi uang diberikan kepada anak-anak dengan senyum merekah.
Namun, bagi para petugas kebersihan dan keamanan DPRD Malut, lebaran kali ini hanyalah deretan hari penuh kekosongan. Tidak ada kepastian apakah mereka bisa membawa sesuatu untuk keluarga mereka di hari kemenangan ini. Tidak ada jaminan bahwa mereka bisa melihat senyum bahagia di wajah anak-anak mereka saat meminta uang Lebaran. Yang ada hanyalah kebingungan, kesedihan, dan harapan yang mulai memudar.
Mereka tidak meminta lebih. Mereka tidak meminta belas kasihan. Yang mereka minta hanyalah hak mereka, gaji yang seharusnya sudah menjadi milik mereka, THR yang seharusnya bisa sedikit meringankan beban mereka.
Di tengah gemerlap perayaan, di antara suara takbir yang menggetarkan jiwa, ada jeritan sunyi yang nyaris tak terdengar.
Mereka hanya berharap, di hari yang penuh berkah ini, ada hati yang tergerak untuk segera menunaikan kewajiban terhadap mereka. Agar Idulfitri benar-benar menjadi hari kemenangan bagi semua—bukan hanya bagi mereka yang berlimpah, tetapi juga bagi mereka yang telah bekerja keras tanpa pamrih. (red)




