Gaji ASN Pemprov Malut Dibayar Duluan, Bos! Ini Bukan Tipuan, Kok Bisa Gubernur Sherly Tjoanda Jadi ‘Mama Superhero’?

367
Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda (Foto: Rifaldi Muhammad Taher)

WARTASOFIFI.ID Di negeri seribu pulau yang dilingkari oleh laut dan kerinduan, sebuah keputusan kecil bisa menjadi gema besar yang menyentuh banyak hati. Menjelang Idul Adha 1446 Hijriyah, tepatnya 28 Mei 2025, sebuah peristiwa sederhana tetapi luar biasa terjadi. Gubernur Malut, Sherly Tjoanda, memerintahkan agar gaji Aparatur Sipil Negara (ASN) dibayarkan lebih cepat dari biasanya.

Secara administratif, mungkin ini hanya soal mempercepat pembayaran gaji. Tapi bagi ribuan ASN yang selama ini harus menunggu hingga tanggal 1, bahkan kadang hingga tanggal 10, keputusan itu adalah bentuk nyata kepedulian yang tak bisa diukur dengan angka. Lebih dari sekadar hak, itu adalah pelukan dalam bentuk kebijakan seorang Ibu atau Mama.

Gaji yang seharusnya turun pada awal Juni, tiba-tiba sudah berada di rekening ASN pada 28 Mei. Lebaran tinggal seminggu. Hati yang semula resah kini sedikit lebih tenang. Meja makan yang semula khawatir akan kosong, kini bisa dibayangkan terisi. Anak-anak bisa dibelikan baju baru. Dan istri, suami, atau orang tua, tidak lagi harus mendengar jawaban, “Nanti, tunggu gaji keluar.”

Selama saya jadi ASN, baru kali ini saya terima gaji sebelum tanggal satu, dan itu sangat berarti.Pengakuan itu datang dari Rachmat Djabir, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Malut, seorang abdi negara selama lebih dari tiga dekade, kepada Wartasofifi.id, di Sofifi, Kamis (5/6).

Suaranya pelan, namun penuh rasa haru. “Ibu Gubernur pikir torang ASN ini mau hadapi lebaran, dan itu bikin kita merasa dihargai,” ungkapnya.

Rachmat juga menyampaikan bahwa selama kepemimpinan Gubernur Sherly, sejumlah kebijakan yang sebelumnya menjadi keluhan ASN kini mulai tertata. Salah satunya adalah pembayaran Tunjangan Perbaikan Penghasilan (TPP) yang kini rutin dibayarkan setiap bulan.

“Gaji 13 sudah, TPP juga sudah lancar. Ini menunjukkan komitmen pimpinan daerah dalam meningkatkan kesejahteraan ASN,” tambahnya.

Kalimat itu tidak berdiri sendiri. Ia bersambut dengan suara lain yang tak kalah tulus. Om Hama, pegawai senior di Biro Administrasi Pimpinan (Adpim), turut membenarkan.

Ini sejarah. Selama puluhan tahun saya jadi ASN, belum pernah gaji dibayar sebelum tanggal 1. Biasanya malah bisa lewat dari tanggal 5. Tapi kali ini, kebijakan Ibu Gubernur datang lebih dulu dari yang kami sangka,” katanya.

Begitu pula Eko dari Biro Umum dan Perlengkapan, yang menyebut bahwa Maluku Utara di bawah kepemimpinan Sherly-Sarbin mencetak rekor baru.

Ini bukan hal biasa. Ini bentuk kasih sayang. Gaji datang sebelum hari pertama bulan, sebelum lebaran. Seumur hidup baru kali ini,” tutur Eko, langsung berpamitan pulang kampung ke Subaim.

Sebelumnya, pada saat berbincang-bincang dengan Wali Kota Tidore Kepulauan, Muhammad Sinen, di kediamannya di Sofifi. Baginya, tindakan Sherly Tjoanda dalam rangka mensejahterakan masyarakat Maluku Utara bukan hanya teladan dari keberanian dalam mengambil keputusan, tetapi juga teladan dari jiwa keibuan yang kuat dan lembut sekaligus.

“Saya pernah katakan, Gubernur Maluku Utara ini bukan sekadar kepala daerah. Ia adalah Ibu bagi masyarakat. Ia memiliki hati yang mengerti sebelum orang lain bicara,” ucapnya.

Ia menambahkan, sosok perempuan pertama yang menduduki kursi gubernur di provinsi kepulauan ini membawa kepekaan dan empati yang tidak selalu ditemukan dalam kepemimpinan birokratis biasa.

“Sebagai seorang ibu, tentu ia memiliki naluri untuk melindungi dan mensejahterakan anak-anaknya. Dalam hal ini, ASN dan rakyat Maluku Utara adalah anak-anak yang terus diperhatikannya,” lanjutnya.

Tentu, bagi mereka yang terbiasa dengan birokrasi, kebijakan ini bisa dianggap tidak lazim. Sekda Malut, Samsuddin Abdul Kadir, mengakui bahwa pembayaran gaji lebih awal adalah hal yang jarang dilakukan.

“Biasanya ini hanya terjadi pada momen tertentu, seperti menjelang hari raya. Tapi yang jelas, tidak ada kerugian negara. Justru ini bentuk kecermatan dan perhatian,” jelasnya.

Perhatian. Itulah kata kunci dari semua ini. Bukan sekadar prestasi administratif, melainkan kepedulian yang dipraktikkan dalam bentuk paling konkret dan paling berdampak.

Dan yang lebih penting, kepedulian itu datang dari seorang pemimpin perempuan pertama di Maluku Utara, yang tak sekadar memimpin, tetapi merangkul. Yang tidak sekadar memerintah, tapi hadir seperti Mama bagi banyak orang yang jarang mendapat pelukan dari kekuasaan.

Tidak semua orang tahu bagaimana rasanya menjadi ASN dengan anak yang menunggu baju lebaran. Tidak semua tahu bagaimana resahnya seorang istri ASN yang menghitung hari dengan cemas, berharap gaji masuk sebelum tanggal tua menghantam. Tapi Sherly Tjoanda tahu.

Ia tahu, karena ia tidak memerintah dari kursi tinggi. Ia memerintah dari tempat yang lebih tinggi, yaitu dengan hati seorang Mama.

Dan seperti Mama sejati, ia tidak menunggu rakyatnya meminta. Ia hadir, dengan kepekaan yang lembut, dengan kasih yang tak diumumkan, dan dengan tindakan yang diam-diam membuat banyak keluarga bisa merayakan lebaran dengan lebih tenang, lebih lengkap, dan lebih bahagia.

Karena kadang, gaji dan tunjangan bukan sekadar soal uang. Tapi soal siapa yang peduli sebelum kita bicara. Dan kali ini, ‘Mama’ Sherly Tjoanda yang datang lebih dulu. (red)