
Gubernur Malut Sherly Tjoanda kembali menjadi sorotan publik nasional setelah namanya masuk dalam Simulasi Semi Terbuka 25 Nama Calon Presiden yang dirilis Indikator Politik Indonesia. Sherly mengaku baru mengetahui hasil survei tersebut setelah diberi tahu wartawan usai upacara, dan ia menegaskan bahwa dirinya tidak mengikuti perkembangan survei itu. Pada peringatan Hari Guru Nasional (HGN) yang berlangsung di halaman kantor Dikbud Malut di Sofifi, Selasa 25 November 2025, Sherly hadir mengenakan kebaya putih dan menjadi pusat perhatian peserta upacara. Sejumlah guru dan tamu undangan terlihat antusias meminta foto bersama sesudah rangkaian kegiatan.
“Bahkan saya nggak tahu. Tanya yang survei. Yang kedua, saya mengapresiasi hasil survei apa pun hasilnya,” ujar Sherly.
Pernyataan tersebut menjadi respons pertama Sherly setelah pemberitaan Wartasofifi.id pada 21 November 2025 berjudul “Sherly Tjoanda Masuk Daftar 25 Capres Versi Indikator” yang mengulas pencapaian elektoralnya pada survei nasional Indikator Politik Indonesia.
Rilis survei Indikator yang dipublikasikan pada 8 November 2025 memunculkan dinamika baru dalam peta politik nasional. Dalam simulasi semi terbuka 25 calon presiden, Sherly mencatat elektabilitas 1,1 persen. Angka yang tampak kecil itu justru dianggap signifikan karena menempatkannya sebagai satu-satunya kepala daerah dari kawasan timur Indonesia yang menembus dukungan di atas 1 persen.

Survei dilakukan melalui wawancara tatap muka pada 20 sampai 27 Oktober 2025 sebagai bagian dari Survei Nasional Evaluasi Publik atas Kinerja Satu Tahun Pemerintahan Prabowo Gibran.
Di puncak elektabilitas, Presiden Prabowo Subianto meraih 46,7 persen yang menunjukkan konsolidasi dukungan yang masih sangat kuat setahun setelah menjabat. Kejutan justru muncul di posisi kedua, di mana Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melesat dengan dukungan 18,4 persen. Kenaikan ini menandai penetrasi kuat figur daerah ke gelanggang nasional.

Di bawahnya, dukungan publik terbagi ke beberapa nama seperti Anies Baswedan dengan 9,0 persen, Gibran Rakabuming Raka dengan 4,8 persen, Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY dengan 3,9 persen, Ganjar Pranowo dengan 3,7 persen serta ekonom Purbaya Yudhi Sadewa yang meraih 1,5 persen.
Sherly Tjoanda berada dalam kelompok berikutnya bersama sejumlah menteri, pimpinan partai, tokoh militer dan kepala daerah lainnya. Elektabilitas 1,1 persen menandai peningkatan pengenalan publik terhadap kiprahnya sebagai gubernur Malut.

Masuknya Sherly dalam daftar simulasi capres nasional dipandang sebagai fenomena penting. Selama ini, survei elektoral nasional cenderung didominasi tokoh-tokoh dari wilayah dengan jumlah pemilih besar seperti Jawa Barat, Jawa Timur atau DKI Jakarta.
Sherly menjadi pengecualian karena hadir dari satu provinsi dengan jumlah pemilih yang relatif kecil namun mampu menembus daftar elektabilitas nasional.

Pengamat menilai hal ini tak lepas dari berbagai sorotan media terhadap konsolidasi pemerintahannya, program pembangunan yang agresif dan langkah-langkah politiknya dalam setahun terakhir. Meningkatnya eksposur itu turut mendorong naiknya tingkat pengenalan publik yang kemudian tercermin dalam survei nasional.
Situasi ini juga menunjukkan bahwa ruang bagi figur luar Jawa semakin terbuka terutama ketika publik mulai mencari alternatif kepemimpinan nasional dari berbagai latar dan wilayah.

Meski demikian, Sherly tetap merespons dengan rendah hati. Ia tidak banyak berspekulasi dan menyebut bahwa hasil survei sepenuhnya menjadi domain pihak Indikator Politik Indonesia. Perhatian publik nasional diperkirakan masih akan terus mengarah kepada kiprahnya terutama jika tren elektabilitasnya menunjukkan peningkatan dalam survei-survei berikutnya. (red)










