Festival Malam Ela-Ela Perdana di Sofifi, Tradisi Islam Moloku Kie Raha Dilestarikan

406
Panitia Festival Malam Ela-Ela bersilaturahmi dengan Wali Kota Tidore, Muhammad Senen, membahas dukungan Pemkot untuk acara pada 27 Maret 2025 di Sofifi (Foto: Ist)

WARTASOFIFI.ID – Pemerintah Provinsi Maluku Utara melalui panitia Festival Malam Ela-Ela terus melakukan berbagai persiapan menjelang pelaksanaan kegiatan yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Maret 2025 di Kecamatan Oba Utara, Kota Tidore Kepulauan. Sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya Islam Moloku Kie Raha, festival ini menjadi momen penting dalam memperkuat tradisi lokal yang telah diwariskan turun-temurun.

Ketua panitia Festival Malam Ela-Ela, Ismad Daud, dalam pertemuan dengan Wali Kota Tidore Kepulauan, menyampaikan maksud dan tujuan pelaksanaan festival ini serta meminta dukungan moril dari pemerintah kota.

Menurutnya, festival ini memiliki nilai historis dan budaya yang tinggi, terutama dalam menjaga identitas keislaman masyarakat Maluku Utara yang telah terjalin selama berabad-abad.

“Kami dari panitia bersilaturahmi dengan Wali Kota Tidore Kepulauan untuk melaporkan serta meminta dukungan moril terkait kegiatan Festival Malam Ela-Ela. Kami berharap Pemkot Tidore Kepulauan dapat mengeluarkan surat edaran agar masyarakat di 13 desa dan kelurahan yang berada di wilayah Kecamatan Oba Utara dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini,” ujar Ismad Daud, di Sofifi, Selasa (25/3).

Festival ini merupakan inisiatif Pemprov Malut yang digagas langsung oleh Gubernur Sherly Tjoanda Laos. Sebagai program perdana, diharapkan acara ini dapat menjadi agenda tahunan yang tidak hanya mempertahankan nilai budaya, tetapi juga meningkatkan daya tarik wisata religius di Maluku Utara.

Untuk memeriahkan festival, panitia telah menyiapkan dua kategori lomba utama, yakni:

1. Lomba Pawai Obor

• Pawai obor merupakan simbol kebersamaan dan penerangan dalam kehidupan masyarakat Muslim.

• Peserta yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat akan membawa obor dan berkeliling di rute yang telah ditentukan.

• Lomba ini tidak hanya mempererat tali persaudaraan, tetapi juga menghidupkan kembali tradisi penerangan di malam Lailatul Qadar.

2. Lomba Desa dan Kelurahan

• Lomba ini melibatkan seluruh desa dan kelurahan di Kecamatan Oba Utara.

• Tim penilai akan turun langsung ke masing-masing desa dan kelurahan untuk melakukan penilaian.

• Aspek yang dinilai meliputi partisipasi warga, kreativitas dalam menghidupkan tradisi Islam, serta semangat gotong royong dalam mendukung festival.

Menurut Ismad Daud, penyelenggaraan Festival Malam Ela-Ela memiliki tujuan yang lebih besar, yakni memelihara dan merawat kearifan lokal, tradisi, serta budaya Islam Moloku Kie Raha di malam Lailatul Qadar.

Festival ini menjadi bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur sekaligus memperkuat identitas keislaman masyarakat Maluku Utara.

Selain sebagai ajang pelestarian budaya, festival ini juga diharapkan dapat berkembang menjadi salah satu event unggulan yang mampu menarik wisatawan, baik dari dalam maupun luar daerah.

Dengan demikian, Festival Malam Ela-Ela tidak hanya menjadi simbol keberlanjutan tradisi, tetapi juga berpotensi meningkatkan sektor ekonomi dan pariwisata berbasis budaya Islam.

“Harapan kami, ke depan festival ini bisa terus berkembang menjadi event yang lebih besar sehingga dapat menjadi daya tarik wisata religius di Maluku Utara. Ini juga sebagai langkah awal bagi kita semua untuk menjadikan Maluku Utara sebagai salah satu destinasi wisata budaya Islam di Indonesia,” pungkas Ismad Daud.

Dengan persiapan yang terus dimatangkan, panitia berharap Festival Malam Ela-Ela tahun ini dapat berjalan dengan lancar dan meriah serta menjadi titik awal bagi pelestarian budaya Islam Moloku Kie Raha yang lebih luas di masa mendatang. (red)