Di Balik Ambisi SMK Ekspo 2026

106
Kabid SMK Dikbud Malut, Makmur. Foto: WARTASOFIFI.ID/RD
Dikbud Malut melalui Bidang SMK mulai mematangkan sejumlah agenda strategis pendidikan vokasi tahun 2026. Salah satu fokus utama yang kini dikonsolidasikan adalah pelaksanaan SMK Ekspo 2026 yang direncanakan tetap digelar di Sofifi, sekaligus menjadi ruang publikasi hasil karya dan potensi sekolah kejuruan di Malut.
Kabid SMK Dikbud Malut, Makmur, mengatakan persiapan SMK Ekspo 2026 mulai dimatangkan melalui koordinasi bersama seluruh SMK di Malut agar setiap sekolah dapat menyiapkan potensi, program unggulan, serta hasil pengembangannya sejak dini. Koordinasi tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh sekolah memiliki kesiapan dalam menampilkan karya dan capaian pendidikan vokasi yang nantinya akan dipublikasikan pada pelaksanaan ekspo di Sofifi.
“Di samping itu, ada beberapa agenda yang kami coba koordinasikan, termasuk persiapan Ekspo SMK 2026. Sehingga, ini juga perlu dikoordinasikan dengan semua SMK untuk melakukan persiapan terkait hasil apa yang mau dipublikasikan kemudian,” jelasnya kepada wartawan di Sofifi, Selasa 12 Mei 2026.
Makmur mengatakan identifikasi program dan potensi sekolah menjadi bagian penting dalam mendukung kesiapan pelaksanaan SMK Ekspo 2026. Karena itu, seluruh agenda dan kegiatan yang akan ditampilkan mulai dipetakan sejak awal agar pelaksanaan ekspo tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga mampu memperlihatkan arah pengembangan pendidikan vokasi, capaian sekolah, serta potensi unggulan SMK di Malut secara lebih terukur dan terorganisir.
“Beberapa kegiatan itu harus diidentifikasi dari awal sehingga nanti ini bisa menguatkan kesuksesan kegiatan Ekspo di tahun 2026 ini,” katanya.
Pelaksanaan SMK Ekspo 2026 di Sofifi nantinya tidak hanya menampilkan hasil kreativitas dan karya siswa, tetapi juga diarahkan menjadi wadah penguatan pendidikan vokasi berbasis potensi lokal di Malut. Melalui program SMK Pengembang Potensi Desa, Dikbud Malut mulai mendorong sekolah-sekolah untuk memetakan potensi desa di sekitar lingkungan SMK agar dapat dikembangkan bersama melalui keterlibatan aktif sekolah dalam mendukung kebutuhan dan pengembangan masyarakat setempat.
“Ekspo SMK ini tetap kami laksanakan di Sofifi. Ada beberapa event juga di dalamnya, salah satunya adalah SMK Pengembang Potensi Desa. Itu hari ini dikonsolidasikan terkait bagaimana mengidentifikasi potensi desa yang ada di sekitar SMK, untuk bagaimana SMK berperan di desa tersebut,” ujar Makmur.
Kebijakan efisiensi anggaran mulai berdampak pada pola pelaksanaan program SMK di Malut, di mana sebagian besar kegiatan kini dijalankan secara daring. Penyesuaian tersebut dilakukan agar agenda pendidikan vokasi tetap berjalan di tengah keterbatasan pembiayaan, terutama untuk kegiatan yang sebelumnya rutin dilaksanakan secara luring atau tatap muka.
“Sebenarnya, dengan adanya efisiensi, hampir sebagian besar kegiatan SMK itu sudah dihapus untuk yang sifatnya luring. Jadi, rata-rata kegiatan SMK itu kami lakukan secara daring,” ungkapnya.
Makmur menilai pelaksanaan sejumlah kegiatan pengembangan bakat dan kompetensi siswa masih membutuhkan metode tatap muka meski sebagian agenda SMK kini dijalankan secara daring. Menurutnya, kegiatan seperti Lomba Kompetensi Siswa (LKS) memerlukan keterlibatan langsung peserta karena berkaitan dengan praktik dan penilaian kemampuan teknis siswa, sehingga direncanakan tetap menjadi bagian dalam rangkaian kegiatan SMK Ekspo mendatang.
“Makanya, kegiatan seperti talenta siswa itu dilakukan secara daring, seperti LKS atau Lomba Kompetensi Siswa. Itu dilakukan secara daring, namun sebenarnya harus dilakukan secara tatap muka. Lomba itu juga masuk dalam salah satu event SMK Ekspo bulan depan,” jelas Makmur lagi.
Makmur menjelaskan pelaksanaan kegiatan daring di lingkungan SMK dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan pembagian wilayah sekolah. Skema tersebut diterapkan agar agenda pembelajaran dan penguatan kurikulum dapat berjalan lebih teratur, sekaligus menghindari pelaksanaan kegiatan secara bersamaan yang dinilai berpotensi mengganggu efektivitas proses pendidikan di masing-masing sekolah.
“Jadi, ada kegiatan-kegiatan yang memang kita lakukan secara daring. Itu juga kami buat seperti menetralisasi, jadi ada pembagian wilayah, sehingga tidak sekaligus, seperti pembelajaran mendalam terkait peningkatan kurikulum itu,” katanya.
Di tengah penyesuaian pelaksanaan kegiatan berbasis daring, Dikbud Malut tetap mempertahankan sejumlah agenda secara luring karena dinilai memiliki kebutuhan teknis yang tidak dapat digantikan melalui sistem virtual. Kegiatan yang melibatkan praktik lapangan, keterampilan siswa, hingga proses penilaian langsung masih dianggap lebih efektif dilaksanakan dengan kehadiran peserta secara langsung agar tujuan pembelajaran dan pengembangan kompetensi dapat berjalan optimal.
“Kita lakukan secara daring. Memang ada lomba-lomba tertentu yang tidak kita lakukan secara daring karena itu membutuhkan kehadiran siswa untuk dilakukan secara luring,” lanjutnya.
Di sisi lain, persoalan jaringan internet di wilayah-wilayah tertentu masih menjadi tantangan dalam penerapan sistem daring di SMK. Meski begitu, Makmur menyebut bantuan perangkat internet berbasis Starlink dari Pemerintah Provinsi Malut mulai membantu menjangkau sekolah-sekolah yang sebelumnya mengalami keterbatasan akses.
“Sebenarnya, terkait jaringan itu, kemarin ada beberapa bantuan Ibu Gubernur terkait Starlink yang sudah menutupi kebutuhan SMK. Dari pendataan kemarin, sebenarnya ada beberapa sekolah yang blank spot,” ujarnya.
Makmur menyebut akses jaringan internet di sebagian besar SMK di Malut kini mulai mengalami peningkatan melalui dukungan jaringan Bakti yang telah menjangkau banyak wilayah sekolah. Meski belum sepenuhnya berjalan maksimal di beberapa daerah, kondisi tersebut dinilai cukup membantu pelaksanaan pembelajaran dan kegiatan daring yang selama ini terkendala keterbatasan akses internet.
“Tapi, itu ada jaringan Bakti. Walaupun tidak maksimal, hampir sebagian sekolah SMK itu, dari hasil identifikasi kami, sudah hampir 100 persen dijangkau oleh jaringan,” katanya.
Di balik mulai meluasnya akses internet di lingkungan SMK di Malut, persoalan infrastruktur dasar masih menjadi tantangan serius dalam pelaksanaan pembelajaran daring. Makmur menilai stabilitas kelistrikan di sejumlah wilayah belum sepenuhnya mendukung kebutuhan pendidikan berbasis digital, karena gangguan listrik yang terjadi secara berkala kerap berdampak langsung pada terputusnya jaringan internet dan menghambat kelancaran proses belajar mengajar di sekolah.
“Namun, kendalanya juga pada listrik. Biasanya, pada daerah-daerah tertentu, kalau listrik mati, otomatis jaringan internet ikut terganggu,” tutup Makmur. (red)